Karakteristek Proses Pembelajaran Sekolah

Karakteristik Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran tidak hanya dituntut untuk menyampaikan setiap isi dari pelajaran yang akan disampaikan. Tetapi ada beberapa karakteristik pembelajaran yang harus diterapkan agar dalam prosesnya berjalan baik dan efektif terhadap siswa

karakteristek proses pembelajaran sekolah

• Pembelajaran ditekankan pada aktivitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Dengan adanya proses ini anak akan lebih mudah dalam menerima pelajaran tanpa harus merasa terbebani oleh proses pembelajaran yang membosankan.
• Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan berbagai potensi anak (fisik, kognitif, sosial emosi, moral dan bahasa). Potensi anak akan berkembang dengan baik ketika lingkungan yang dihadapi dapat memberikan efek menyenangkan dan mendukung.
• Pembelajaran perlu memberikan rasa aman bagi anak. Rasa aman dalam pembelajaran amat diperlukan agar anak tidak merasa was-was ketika belajar sehingga konsentrasi tidak akan tergangu .
• Proses pembelajaran dilaksanakan secara terpadu Karakteristik Pembelajaran
• Pembelajaran dilaksanakan dalam kondisi yang menggugah dan member kemudahan bagi anak untuk belajar melalui aktivitas yang bersifat konkrit sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengertahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Tasker (1992: 30) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut.
 Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Pendalaman makna akan lebih mudah dan lama diingat daripada sekedar melakukan hafalan semata. Dengan peran aktif siswa dalam mengali makna maka akan timbul rasa ingin tahu dari siswa.
 Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley (1991: 12) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You must be logged in to post a comment.