Mengabstraksi Dan Mengonversi Teks Cerita Pendek Meraih Impian

Mengabstraksi Dan Mengonversi Teks Cerita Pendek Meraih Impian by Sepertinya dotcom – Teman, bagaimana ya cara untuk mengabstraksi dan mengonversi teks cerita dalam cerpen yang berjudul meraih impian? mau tahu jawabannya? Simak ulasan singkat kami di paragraf berikut yah…

Sebelum kita lanjut untuk mengabstraksi dan juga mengkonversi cerpen dengan judul meraih impian, anda perlu tahu dulu seperti apa mengabstraksi cerpen dan juga mengkonversi cerpen.

Mengabstraksi hampir sama dengan merangkum atau meringkas. jadi anda hanya perlu mengambil pokok atau inti dari teks cerpen nya saja.
Nah kalau mengkonversi itu berarti mengubah secara keseluruhan teks tersebut tanpa mengubah maksud atau makna tek. Kalau dala istilah bahasa inggrisnya rewrite atau menulis ulang dengan bahasa anda sendiri.

Pada tugas ini kalian bertugas secara mandiri mengolah catatan kepustakaan, catatan lapangan, dan hasil wawancara menjadi sebuah teks cerita pendek secara utuh. Berikut terdapat teks penceritaan yang mengisahkan sebuah kisah sukses seorang wirausaha muda dan cantik berasal dari Kota Padang. Dalam bukunya yang berjudul Meraih Mimpi Jadi Pengusaha, ia berbagi pengalaman mengenai kesuksesannya menjadi pengusaha muda yang diawali dengan keterpurukan. Di bagian sampul buku itu tertulis Kisah Getir Perjalanan Hidup Seorang Mahasiswa yang Berhasil Memiliki Perusahaan di Usia 20 Tahun.

Kisah hidup Resti Hartika (nama pengusaha muda itu) patut kalian tiru. Ia telah berhasil menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya. Agar kalian lebih termotivasi, sebaiknya kaliam membaca penceritaan di bawah ini. Setelah itu, buatlah abstraksi dari teks itu. Setelah kalian mengetahui pokok permasalahannya, kalian diharapkan bisa mengonversi teks itu menjadi sebuah teks cerita pendek yang menarik.

Meraih Impian

1. Terusik lamunanku saat terngiang sebaris kata ayah yang selalu berulang  menelusup ke telingaku, “Nanda, kamu pasti bisa!” Kata-kata ayahku laksana dentuman meriam di rongga dadaku. Setiap kuingat kata-kata itu, semakin berat beban yang kurasakan, terlebih, urutanku sebagai sulung dari lima bersaudara. Tidak mudah bagiku untuk menjadi sulung. Kurasakan pula beban kedua orang tuaku yang semakin menjadi. Ayah, di luar segala kewajibannya sebagai PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi.

Tidak mengherankan jika bunda terpaksa turun tangan untuk menopang  keuangan keluarga dengan membuka sebuah warung kecil-kecilan.

2. Padatnya aktivitas ayah dan bunda terekam kuat dalam benakku. Kerja keras seakan menjadi menu wajib bagiku. Namun, ada hal yang menjadi titik lemahku. Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak tersampaikan. Pertama, ketika gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Kuingat
kata-kata bunda di telingaku. “Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas Kedokteran. Sabar ya,
Nak!”, ucap Bunda lembut, tetapi pasti. Kedua, ketika gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badan kurang. Kegagalan itu tentu saja membuatku terluka. Ayah dan bunda tiada putusputusnya
membangkitkan diriku hingga kedua kakiku benar-benar mampu berpijak.

3. Untuk mengobati luka hatiku, kuputuskan untuk membantu bunda menjaga warung. Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit belajar dari ketegaran bunda dalam menghadapi kesulitan hidup. Sering bunda tidur larut karena harus menyambung potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual.
Bed cover itu dititipkan di sebuah toko swalayan. Tiada pernah putus doaku kepada Sang Khalik agar bunda senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan batin.

4. Salah satu doaku terkabul. Suatu hari ayah memutuskan untuk berhenti bekerja
dan berorganisasi. Ayah mulai melirik dunia usaha. Sebagai langkah awal, ayah melahap buku-buku sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang Gumilang. Benih pohon bisnis tumbuh pesat pula dalam diriku, terlebih setelah aku
menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.

5. Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorongku untuk merambah dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.Bunda berkunjung ke tokoku dan dia memuji, “Wah, ternyata Nanda  sudah meraup banyak untung nih”.
Kesibukan berbisnis tidak melemahkan prestasi di ranah akademis. Aku berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
6. Seiring waktu, jaringan bisnisku meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah sebagai motivator mendorongku untuk membantunya. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk
berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini.
7. Kesuksesan ini tidak patut membuatku angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya aku dapat meraih semuanya. Tidak luput bimbingan dan motivasi dari kedua orang tuaku turut membuatku tegar dalam berbagai kesulitan.
Diadaptasi dari Hartika, Resti. 2013. Meraih Mimpi Jadi Pengusaha

tags:unsur intrinsik cerpen meraih impian, cerpen meraih impian diubah menjadi drama, cerpen meraih impian karya resti hartika, sinopsis cerpen meraih impian karya resti hartika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You must be logged in to post a comment.