Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah – Hi Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah – Halo om dan tante semua, Makasih banyak dah mau berkunjung ke situs Sepertinya dotcom ini. Malam ini, kami dari web Sepertinya dot com ingin sharing pertanyaan dan jawaban yang mantap yang menunjukkan pada anda mengenai Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah. Silahkan teman lihat di bawah ini:

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah anggota dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid terus Sri Kresna yang dibuat bentuk sebagai pendengarnya. Secara harfiah, manfaat Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bertanya-tanya dan ragu-ragu berperang karena yang akan dialaminya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) adalah Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga bisa terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan abadi, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan bisa dimusnahkan.

Daftar konten

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dibuat bentuk sebagai lemah, pikirannya bingung, dan ia tidak bisa bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan konten Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, belakang Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat abadi. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melahirkan kesibukan di dunia ini. Tetapi kelakuan bisa mengikat diri seseorang pada dunia ini atau memberi keleluasaan dirinya dari dunia. Seseorang bisa diberi keleluasaan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan metode bertindak untuk memadakan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan memberi keleluasaan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil kelakuan bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Kelakuan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melahirkan segala kesibukan tetapi memberi keleluasaan gabungan terhadap hasil kelakuan dalam hatinya. Dengan metode demikian, orang bijaksana bisa mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Metode Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang bisa mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan metode ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat buntu.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang abadi dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang kukuh, seseorang bisa kembali kepada Krishna di dunia rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena aneh yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat luhur atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan beberapa tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan beberapa dunia semesta. Dengan metode demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang bisa melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang kukuh
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang metode yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang kukuh kebada Sri Krishna, adalah metode tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang kukuh kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini bisa mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Artian Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Dunia Material, membahas Triguna (tiga sifat dunia material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat dunia material; kepatutan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan manfaat sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana metode melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai sifat rohani (orang yang sudah bebas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah memberi keleluasaan diri dari gabungan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dibangun dalam sifat yang bertambah rendah dan diikat bertambah lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Tidak kekurangan tiga jenis keyakinan, yang masing-masing dijadikan bertambah sempurna dari salah satu di antara tiga sifat dunia. Kelakuan yang dimainkan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan kelakuan yang dimainkan dalam sifat kepatutan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan kukuh terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan gabungan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dibuat bentuk sebagai konten tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan manfaat dari pelepasan gabungan dan efek dari sifat-sifat dunia terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini memberi keleluasaan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang abadi.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata adalah Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut jumlah berbakat, penerjemah Jawa Kuna kurang ajaran akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang dihadiri dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bermula dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bertutur kepada prabu Kresna,berharap supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Bhagawadgita

 

Daftar bab

 
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sumber :
kelaskaryawan.kucing.biz, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, perpustakaan.web.id, dan lain sebagainya.


Page 2

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah anggota dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid terus Sri Kresna yang dibuat bentuk sebagai pendengarnya. Secara harfiah, manfaat Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dihadapinya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) adalah Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga bisa terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan abadi, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan bisa dimusnahkan.

Daftar isi

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dibuat bentuk sebagai lemah, pikirannya bingung, dan ia tidak bisa bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, akhir Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus mengadakan kesibukan di dunia ini. Tetapi afal bisa mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang bisa diberi keleluasaan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan metode bertindak untuk memadakan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil afal bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Afal dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah mengadakan segala kesibukan tetapi membebaskan gabungan terhadap hasil afal dalam hatinya. Dengan metode demikian, orang bijaksana bisa mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Metode Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang bisa mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan metode ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat mati.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang masif, seseorang bisa kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat luhur atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan beberapa tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan beberapa alam semesta. Dengan metode demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang bisa melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang masif
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang metode yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang masif kebada Sri Krishna, adalah metode tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang masif kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini bisa mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Artian Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kepatutan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan manfaat sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana metode melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang yang sudah bebas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah membebaskan diri dari gabungan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam keadaan yang bertambah rendah dan diikat bertambah lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Tidak kekurangan tiga jenis keyakinan, yang masing-masing dijadikan bertambah sempurna dari salah satu di antara tiga sifat alam. Afal yang dilangsungkan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan afal yang dilangsungkan dalam sifat kepatutan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan masif terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan gabungan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dibuat bentuk sebagai isi tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan manfaat dari pelepasan gabungan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang kekal.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata adalah Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut jumlah ahli, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bermula dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bertutur kepada prabu Kresna,meminta supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Sumber :
kelaskaryawan.kucing.biz, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, perpustakaan.web.id, dan lain sebagainya.


Page 3

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah anggota dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid terus Sri Kresna yang dibuat bentuk sebagai pendengarnya. Secara harfiah, manfaat Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dihadapinya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) adalah Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga bisa terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan abadi, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan bisa dimusnahkan.

Daftar isi

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dibuat bentuk sebagai lemah, pikirannya bingung, dan ia tidak bisa bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, akhir Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus mengadakan kesibukan di dunia ini. Tetapi afal bisa mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang bisa diberi keleluasaan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan metode bertindak untuk memadakan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil afal bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Afal dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah mengadakan segala kesibukan tetapi membebaskan gabungan terhadap hasil afal dalam hatinya. Dengan metode demikian, orang bijaksana bisa mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Metode Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang bisa mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan metode ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat mati.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang masif, seseorang bisa kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena ajaib yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat luhur atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan beberapa tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan beberapa alam semesta. Dengan metode demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang bisa melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang masif
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang metode yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang masif kebada Sri Krishna, adalah metode tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang masif kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini bisa mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Artian Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kepatutan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan manfaat sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana metode melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang yang sudah bebas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah membebaskan diri dari gabungan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam keadaan yang bertambah rendah dan diikat bertambah lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Tidak kekurangan tiga jenis keyakinan, yang masing-masing dijadikan bertambah sempurna dari salah satu di antara tiga sifat alam. Afal yang dilangsungkan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan afal yang dilangsungkan dalam sifat kepatutan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan masif terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan gabungan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dibuat bentuk sebagai isi tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan manfaat dari pelepasan gabungan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang kekal.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata adalah Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut jumlah ahli, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bermula dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bertutur kepada prabu Kresna,meminta supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Sumber :
kelaskaryawan.kucing.biz, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, perpustakaan.web.id, dan lain sebagainya.


Page 4

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah anggota dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid terus Sri Kresna yang dibuat bentuk sebagai pendengarnya. Secara harfiah, manfaat Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bertanya-tanya dan ragu-ragu berperang karena yang akan dialaminya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) adalah Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita adalah Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga bisa terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan akhirat . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan abadi, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan bisa dimusnahkan.

Daftar konten

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dibuat bentuk sebagai lemah, pikirannya bingung, dan ia tidak bisa bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan konten Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, belakang Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat abadi. Kresna menjelaskan proses perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melahirkan kesibukan di dunia ini. Tetapi kelakuan bisa mengikat diri seseorang pada dunia ini atau memberi keleluasaan dirinya dari dunia. Seseorang bisa diberi keleluasaan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan metode bertindak untuk memadakan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan memberi keleluasaan diri manusia. Pengetahuan seperti itu adalah hasil kelakuan bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Kelakuan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melahirkan segala kesibukan tetapi memberi keleluasaan gabungan terhadap hasil kelakuan dalam hatinya. Dengan metode demikian, orang bijaksana bisa mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini adalah samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Metode Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang bisa mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan metode ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat buntu.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang abadi dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang kukuh, seseorang bisa kembali kepada Krishna di dunia rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena aneh yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat luhur atau mulia, baik di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan beberapa tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa adalah tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan beberapa dunia semesta. Dengan metode demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia adalah bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang bisa melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang kukuh
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang metode yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang kukuh kebada Sri Krishna, adalah metode tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang kukuh kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini bisa mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Artian Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Dunia Material, membahas Triguna (tiga sifat dunia material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat dunia material; kepatutan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan manfaat sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana metode melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai sifat rohani (orang yang sudah bebas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda adalah memberi keleluasaan diri dari gabungan terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dibangun dalam sifat yang bertambah rendah dan diikat bertambah lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Tidak kekurangan tiga macam keyakinan, yang masing-masing dijadikan bertambah sempurna dari salah satu di antara tiga sifat dunia. Kelakuan yang dimainkan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan kelakuan yang dimainkan dalam sifat kepatutan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan kukuh terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan gabungan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dibuat bentuk sebagai konten tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan manfaat dari pelepasan gabungan dan efek dari sifat-sifat dunia terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini memberi keleluasaan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang abadi.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata adalah Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut jumlah berbakat, penerjemah Jawa Kuna kurang ajaran akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang dihadiri dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bermula dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bertutur kepada prabu Kresna,berharap supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Bhagawadgita

 

Daftar bab

 
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sumber :
kelaskaryawan.kucing.biz, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, perpustakaan.web.id, dan lain sebagainya.


Page 5

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) yaitu sebuah anggota dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yaitu pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid terus Sri Kresna yang dijadikan pendengarnya. Secara harfiah, artian Bhagavad-gita yaitu “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang tidak berkesudahan, tenaga yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dipunyai sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang diisikan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada awal Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah ajang perang Kurukshetra di selang pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan disambutnya yaitu sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita yaitu Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan kehidupan setealh didunia . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan tidak berkesudahan, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan dapat dimusnahkan.

Daftar konten

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di ajang perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga tenaganya dijadikan lemah, cara melakukan sesuatunya bingung, dan beliau tidak dapat bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan konten Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, akhir Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan isi selang badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat tidak berkesudahan. Kresna menjelaskan ronde perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kesibukan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat membelit diri seseorang pada dunia ini atau memberi keleluasaan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dimerdekakan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan prosedur bertingkah laku yang dibuat untuk mencukupkan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan selang sang roh dan Tuhan-menyucikan dan memberi keleluasaan diri manusia. Pengetahuan seperti itu yaitu hasil perbuatan bhakti tanpa mementingkan diri dikata karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Perbuatan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijak yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kesibukan tetapi membebaskan ikatan terhadap hasil perbuatan dalam hatinya. Dengan prosedur demikian, orang bijak dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan cara melakukan sesuatu dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini yaitu samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna yaitu Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan tenaga yang memelihara segala sesuatu, adun yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Prosedur Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan prosedur ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang tidak berkesudahan dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang utuh dan padat, seseorang dapat kembali kepada Krishna di dunia rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena tidak dapat diterangkan oleh muslihat yang memperlihatkan tenaga, keindahan, sifat agung atau agung, adun di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa yaitu tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian dunia semesta. Dengan prosedur demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia yaitu bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang utuh dan padat
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang prosedur yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang utuh dan padat kebada Sri Krishna, yaitu prosedur tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang utuh dan padat kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang faham perbedaan selang badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Faedah Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Dunia Material, membahas Triguna (tiga sifat dunia material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat dunia material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan artian sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana prosedur melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai keadaan rohani (orang yang sudah bebas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda yaitu membebaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan faham Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang faham identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dilahirkan dalam keadaan yang bertambah rendah dan diikat bertambah lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan kepercayaan. Tidak kekurangan tiga jenis kepercayaan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di selang tiga sifat dunia. Perbuatan yang diperllihatkan oleh orang yang kepercayaannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan perbuatan yang diperllihatkan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang hingga pada tingkat kepercayaan utuh dan padat terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dijadikan konten tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan artian dari pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat dunia terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini memberi keleluasaan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya hingga pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang tidak berkesudahan.

Bhagawadgita dalam muslihat budi Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang paham akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diiringi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha bercakap Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bersumber dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu cakap kepada prabu Kresna,menanti agar ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Bhagawadgita

 

Daftar bab

 
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sumber :
id.wikipedia.org, m.andrafarm.com, kelaskaryawan.kpt.co.id, wiki.edunitas.com, dan lain sebagainya.


Page 6

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) yaitu sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yaitu pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang dikeluarkan pendengarnya. Secara harfiah, artian Bhagavad-gita yaitu “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang tidak berakibat, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dipunyai sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang diisikan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada awal Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah ajang perang Kurukshetra di selang pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan disambutnya yaitu sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita yaitu Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan kehidupan setealh didunia . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan tidak berakibat, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan dapat dimusnahkan.

Daftar konten

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di ajang perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dikeluarkan lemah, cara melakukan sesuatunya bingung, dan beliau tidak dapat bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan konten Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, kesudahan Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok selang badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat tidak berakibat. Kresna menjelaskan babak perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kesibukan di dunia ini. Tetapi tingkah laku dapat membelit diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dimerdekakan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan prosedur bertingkah laku yang dibuat untuk mencukupkan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan selang sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu yaitu hasil tingkah laku bhakti tanpa mementingkan diri dikata karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Tingkah laku dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kesibukan tetapi membebaskan ikatan terhadap hasil tingkah laku dalam hatinya. Dengan prosedur demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan cara melakukan sesuatu dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini yaitu samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna yaitu Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, adun yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Prosedur Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan prosedur ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang tidak berakibat dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang utuh dan padat, seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena tidak dapat diterangkan oleh muslihat yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat agung atau agung, adun di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa yaitu tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam semesta. Dengan prosedur demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia yaitu bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang utuh dan padat
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang prosedur yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang utuh dan padat kebada Sri Krishna, yaitu prosedur tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang utuh dan padat kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang faham perbedaan selang badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Faedah Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan artian sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana prosedur melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai sifat rohani (orang yang sudah lepas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda yaitu membebaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan faham Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang faham identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dibangun dalam sifat yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan kepercayaan. Tidak kekurangan tiga jenis kepercayaan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di selang tiga sifat alam. Tingkah laku yang diperllihatkan oleh orang yang kepercayaannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan tingkah laku yang diperllihatkan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang hingga pada tingkat kepercayaan utuh dan padat terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dikeluarkan konten tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan artian dari pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya hingga pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang tidak berakibat.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang petuah akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diiringi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbicara Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bersumber dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bicara kepada prabu Kresna,meminta supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Sumber :
id.wikipedia.org, m.andrafarm.com, kelaskaryawan.kpt.co.id, wiki.edunitas.com, dan lain sebagainya.


Page 7

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) yaitu sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk diskusi yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam diskusi ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yaitu pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang dikeluarkan pendengarnya. Secara harfiah, artian Bhagavad-gita yaitu “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang tidak berakibat, energi yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dipunyai sekaligus secara bersamaan).

Syair ini adalah interpolasi atau sisipan yang diisikan kepada “Bhismaparwa”. Adegan ini terjadi pada awal Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah ajang perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan disambutnya yaitu sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita yaitu Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita adalah petuah universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan kehidupan setealh didunia . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita adalah pengetahuan pengetahuan tidak berakibat, yakni sudah tidak kekurangan sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan petuahnya tidak akan dapat dimusnahkan.

Daftar konten

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di ajang perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk berperang. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk berperang dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga energinya dikeluarkan lemah, cara melakukan sesuatunya bingung, dan beliau tidak dapat bertabah hati untuk berperang.
  • BAB II Ringkasan konten Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, kesudahan Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat tidak berakibat. Kresna menjelaskan babak perpindahan sang roh, sifat pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kesibukan di dunia ini. Tetapi tingkah laku dapat membelit diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dimerdekakan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai pengetahuan sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan prosedur bertingkah laku yang dibuat untuk mencukupkan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Pengetahuan seperti itu yaitu hasil tingkah laku bhakti tanpa mementingkan diri dikata karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak zaman purbakala, tujuan dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf akan dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Tingkah laku dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api pengetahuan rohani, secara lahiriah melakukan segala kesibukan tetapi membebaskan ikatan terhadap hasil tingkah laku dalam hatinya. Dengan prosedur demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan cara melakukan sesuatu dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini yaitu samadhi. samadhi berarti sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna yaitu Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan energi yang memelihara segala sesuatu, adun yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang lain.
  • BAB VIII Prosedur Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan prosedur ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala pengetahuan pengetahuan (widya), Krishna yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan tujuan tertinggi kesibukan sembahyang, sang roh mempunyai hubungan yang tidak berakibat dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang utuh dan padat, seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena tidak dapat diterangkan oleh muslihat yang memperlihatkan energi, keindahan, sifat agung atau agung, adun di dunia material maupun di dunia rohani, tidak lain daripada perwujudan sebagian tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa yaitu tujuan sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan sebagian alam semesta. Dengan prosedur demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan bentuk manusia yaitu bentuk asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat bentuk ini hanya dengan bhakti yang utuh dan padat
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang prosedur yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang utuh dan padat kebada Sri Krishna, yaitu prosedur tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang utuh dan padat kepada Krishna, tujuan tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh perlintasan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang faham perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, akan mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Faedah Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga sifat alam material; kebaikan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan artian sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana prosedur melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai sifat rohani (orang yang sudah lepas dari tiga sifat alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Tujuan utama pengetahuan veda yaitu membebaskan diri dari ikatan terhadap dunia material dan faham Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang faham identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, dibangun dalam sifat yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan kepercayaan. Tidak kekurangan tiga jenis kepercayaan, yang masing-masing berkembang dari salah satu di antara tiga sifat alam. Tingkah laku yang diperllihatkan oleh orang yang kepercayaannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang sifatnya sementara, sedangkan tingkah laku yang diperllihatkan dalam sifat kebaikan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang hingga pada tingkat kepercayaan utuh dan padat terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, adalah kesimpulan dari semua petuah yang dikeluarkan konten tujuan agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan artian dari pelepasan ikatan dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan kesibukan manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; perlintasan kerohanian tertinggi berarti menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Perlintasan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya hingga pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang tidak berakibat.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita tidak kekurangan pula. Tetapi menurut banyak pakar, penerjemah Jawa Kuna kurang petuah akan bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang diiringi dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbicara Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam bentuk prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini bersumber dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asingtidak kekurangan sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu bicara kepada prabu Kresna,meminta supaya ia menyetop peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Akan tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap berperangsebab seseorang yang dianggap sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Sumber :
id.wikipedia.org, m.andrafarm.com, kelaskaryawan.kpt.co.id, wiki.edunitas.com, dan lain sebagainya.


Page 8

Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) yaitu sebuah babak dari Mahabharata yang termasyhur, dalam struktur dialog yang dituangkan dalam struktur syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yaitu pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang dibuat menjadi pendengarnya. Secara harfiah, manfaat Bhagavad-gita yaitu “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang tidak berakibat, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini yaitu interpolasi atau sisipan yang diisi kepada “Bhismaparwa”. Bagian babak dalam lakon ini terjadi pada awal Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah ajang perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna harap-harap dan ragu-ragu bertempur karena yang hendak dilawannya yaitu sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan ilmu sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlangsung sebagai sais Arjuna pada saat itu.

Penulis

Penulis Bhagawadgita yaitu Sri Krishna Dvipayana Vyasa atau Resi Byasa. Bhagawadgita yaitu nasihat universal yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia, sepanjang masa. Untuk mengetahui rahasia kehidupan sejati di dunia ini sehingga dapat terbebaskan dari kesengsaraan dunia dan alam baka . Umat Hindu meyakini, Bhagawadgita yaitu ilmu ilmu tidak berakibat, yakni sudah hadir sebelum umat manusia menuliskan sejarahnya dan nasihatnya tidak hendak dapat dimusnahkan.

Daftar isi

Kitab ini terdiri dari 18 bab, yaitu:

  • BAB 1 Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di ajang perang Kurukshetra). Tentara-tentara kedua belah pihak siap siaga untuk bertempur. Arjuna, seorang ksatria yang perkasa, melihat sanak keluarga, guru-guru, dan kawan-kawannya dalam tentara-tentara kedua belah pihak siap untuk bertempur dan mengorbankan nyawanya. Arjuna tergugah kenestapaan dan rasa kasih sayang, sehingga kekuatannya dibuat menjadi lemah, pikirannya bingung, dan dia tidak dapat bertabah hati untuk bertempur.
  • BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, kemudian Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yang bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal. Kresna menjelaskan babak perpindahan sang roh, situasi yang sedang berlaku pengabdian kepada Yang Mahakuasa tanpa mementingkan diri sendiri dan ciri-ciri orang yang sudah insaf hendak dirinya.
  • BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus menjadikan aktivitas di dunia ini. Tetapi tingkah laku dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia. Seseorang dapat dibebaskan dari hukum karma (perbuatan dan reaksi) dan mencapai ilmu sejati tentang sang diri dan Yang Mahakuasa dengan cara bergerak menjadikan sesuatu untuk memantapkan Tuhan, tanpa mementingkan diri sendiri.
  • BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui ilmu rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia. Ilmu seperti itu yaitu hasil tingkah laku bhakti tanpa mementingkan diri disebut karma yoga. Krishna menjelaskan sejarah Bhagavad-gita sejak ratus tahun purbakala, pusat dan makna Ia sewaktu-waktu menurun ke dunia ini, serta pentingnya mendekati seorang guru kerohanian yang sudah insaf hendak dirinya.
  • BAB V Karma Yoga, Tingkah laku dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oleh api ilmu rohani, secara lahiriah menjadikan segala aktivitas tetapi melepaskan pertalian terhadap hasil tingkah laku dalam hatinya. Dengan cara demikian, orang bijaksana dapat mencapai kedamaian, ketidakterikatan, kesabaran, pengelihatan rohani dan kebahagiaan.
  • BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latihan meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memfokuskan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, struktur Tuhan yang bersemayam di dalam hati). Puncak latihan ini yaitu samadhi. samadhi berfaedah sadar sepenuhnya terhadap Yang Maha Kuasa.
  • BAB VII Ilmu tentang Yang Mutlak, Sri Krishna yaitu Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, berpegang pada kebenaran yang material maupun rohani. Roh-roh yang sudah maju menyerahkan diri kepada Krishna dalam pengabdian suci bhakti, sedangkan roh yang tidak saleh mengalihkan obyek-obyek sembahyang kepada yang beda.
  • BAB VIII Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat diam.
  • BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Ilmu Yang Paling Rahasia), hakikat Ketuhanan sebagai raja dari segala ilmu ilmu (widya), Krishna yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan pusat tertinggi aktivitas sembahyang, sang roh benar hubungan yang kekal dengan Krishna melalui pengabdian suci bhakti yang bersifat rohani. Dengan menghidupkan kembali bhakti yang murni, seseorang dapat kembali kepada Krishna di alam rohani.
  • BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai situasi yang sedang berlaku hakikat Tuhan yang absolut/mutlak. Segala fenomena aneh yang memperlihatkan kekuatan, keindahan, situasi yang sedang berlaku luhur atau besar, berpegang pada kebenaran di dunia material maupun di dunia rohani, tidak beda daripada perwujudan beberapa tenaga-tenaga dan kehebatan rohani Krishna. Sebagai sebab utama segala sebab serta sandaran dan hakekat segala sesuatu. Krishna,Tuhan Yang Maha Esa yaitu pusat sembahyang tertinggi untuk para mahluk.
  • BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Struktur Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna. Ia memperlihatkan bentuk-Nya yang tidak terhingga dan mengagumkan beberapa alam semesta. Dengan cara demikian, Krishna membuktikan secara meyakinkan identitas-Nya sebagai Yang Mahakuasa. Krishna menjelaskan bahwa bentuk-Nya Sendiri serba tampan dan dekat dengan struktur manusia yaitu struktur asli Tuhan Yang Maha Esa. Seseorang dapat melihat struktur ini hanya dengan bhakti yang murni
  • BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti, bhakti-yoga, pengabdian suci yang murni kebada Sri Krishna, yaitu cara tertinggi dan paling manjur untuk mencapai cinta bhakti yang murni kepada Krishna, pusat tertinggi kehidupan rohani. Orang yang menempuh jalan tertinggi ini dapat mengembangkan sifat-sifat suci.
  • BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti, orang yang mengerti perbedaan antara badan, dengan sang roh dan Roh Yang Utama yang melampaui badan dan roh, hendak mencapai pembebasan dari dunia material.
  • BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga, Tiga Situasi yang sedang berlaku Alam Material, membahas Triguna (tiga situasi yang sedang berlaku alam material) – Sattvam, Rajas dan Tamas, semua roh terkurung dalam badan di bawah pengendalian tiga situasi yang sedang berlaku alam material; kegunaan (sattvam), nafsu (rajas) dan kebodohan (tamas). Sri Krishna menjelaskan manfaat sifat-sifat tersebut dalam bab ini, bagaimana sifat-sifat tersebut mempengaruhi diri kita, bagaimana cara melampaui sifat-sifat tersebut serta ciri-ciri orang yang sudah mencapai suasana rohani (orang yang sudah lepas dari tiga situasi yang sedang berlaku alam).
  • BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan, Pusat utama ilmu veda yaitu melepaskan diri dari pertalian terhadap dunia material dan mengerti Krishna sebagai Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang mengerti identitas Krishna yang paling utama menyerahkan diri kepada Krishna dan menekuni pengbdian suci kepada Krishna.
  • BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, situasi yang sedang berlaku rohani dan situasi yang sedang berlaku jahat. Orang yang memiliki sifat-sifat jahat dan hidup sesuka hatinya, tanpa mengikuti aturan Kitab Suci, diadakan dalam suasana yang lebih rendah dan diikat lebih lanjut secara material, tetapi orang yang memiliki sifat-sifat suci dan hidup secara teratur dengan mematuhi kekuasaan Kitab Suci, berangsur-angsur mencapai kesempurnaan rohani.
  • BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan. Hadir tiga jenis keyakinan, yang masing-masing mengembang dari salah satu di antara tiga situasi yang sedang berlaku alam. Tingkah laku yang diterapkan oleh orang yang keyakinannya bersifat nafsu dan kebodohan hanya membuahkan hasil material yang situasi yang sedang berlakunya sementara, sedangkan tingkah laku yang diterapkan dalam situasi yang sedang berlaku kegunaan, menurut Kitab Suci, menyucikan hati dan membawa seseorang sampai pada tingkat keyakinan murni terhadap Sri Krishna dan bhakti kepada Krishna.
  • BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan pertalian, yaitu kesimpulan dari semua nasihat yang dibuat menjadi inti pusat agama yang tertinggi. Dalam bab ini Krishna menjelaskan manfaat dari pelepasan pertalian dan efek dari sifat-sifat alam terhadap kesadaran dan aktivitas manusia. Krishna menjelaskan keinsafan Brahman, kemuliaan Bhagawadgita, dan kesimpulan Bhagavad-gita; jalan kerohanian tertinggi berfaedah menyerahkan diri sepenuhnya tanpa syarat dalam cinta-bhakti kepada Sri Krishna. Jalan ini membebaskan seseorang dari segala dosa, membawa dirinya sampai pembebasan sepenuhnya dari kebodohan dan memungkinkan ia kembali ke tempat tinggal rohani Sri Krishna yang kekal.

Bhagawadgita dalam budaya Jawa Kuna dan Bali

Orang Jawa Kuna dan Bali sudah mengenal Bhagavad-gita karena kontak dengan India dan pengaruh agama Hindu pada masa dahulu.

Bhismaparwa

Dalam buku keenam Mahabharata yaitu Bhismaparwa yang disalin ke dalam bahasa Jawa Kuna, sebuah ringkasan Bhagavad-gita hadir pula. Tetapi menurut jumlah pandai, penerjemah Jawa Kuna kurang mengerti hendak bahasa Sanskerta, sehingga terjemahannya kurang sempurna. Bhagawadgita dalam Bhismaparwa ini terdiri dari sloka-sloka dalam bahasa Sanskerta yang ditemani dengan terjemahan dalam bahasa Jawa Kuna setelah setiap sloka.

Bharatayuddha

Dalam kakawin Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuna, yang konon digubah dari aslinya dalam struktur prosa, Bhagawadgita tidaklah didapati. Hanya dua bait saja ditulis untuk menguraikan wejangan-wejangan Kresna kepada Arjuna. Bait-bait ini berasal dari pupuh 10, bait 12 dan 13:

(12)

mulat mara sang Arjunâsemu kamânuṣan kasrepanri tingkah i musuhnira n paḍa kadang taya wwang wanehhana wwang anaking yayah mwang ibu len uwânggeh pamanmakâdi Krpa Salya Bhiṣma sira sang dwijânggeh guru

(13)

ya kâraṇaniran pasabda ri narârya Krṣṇâteheraminta wurunga ng lagâpan awelas tumon Korawakuneng sira Janârdanâsekung akon sarṣâprangaapan hila-hila ng kṣinatriya surud yan ing papranganTerjemahan

(12)

Maka melihat merekalah sang Arjuna dan iapun terliputi rasa kasihansebab musuh-musuhnya bukanlah orang asinghadir sanak saudara dari pihak ayah maupun ibu, dan juga paman-pamanseperti Krepa, Salya, Bisma dan gurunya (Bhagawan Drona).

(13)

Oleh sebab itu, ia lalu berbicara kepada prabu Kresna,meminta supaya ia menghentikan peperangan, karena kasihan melihat para Korawa.Hendak tetapi sang Janardana (Kresna) menyuruhnya tetap bertempursebab seseorang yang diasumsikan sebagai ksatria tidaklah diperbolehkan mengundurkan diri dari peperangan.

Lihat pula

  • Bhismaparwa
  • Hindu
  • Sastra Hindu
  • Mahabharata
  • Kresna

Pranala luar

  • Parisada Hindu Dharma Indonesia – Bhagawad Gita Online

Sumber :
ensiklopedia.web.id, kelaskaryawan.ptkpt.net, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, dan beda sebagainya.


Page 9

Bhismaparwa konon yaitu anggota terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini berisi kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa bertentangan satu sama pautan sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna kedatangan di antara kedua pasukan. Arjuna pun dapat melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang bertentangan satu sama pautan sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini dikata dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, berarti yaitu nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia dapat padam pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah sangat banyak sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

Ringkasan pokok Kitab Bhismaparwa

Janamejaya berdiskusi, “Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari bermacam kerajaan itu mengatur pasukannya siap untuk bertempur?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di ajang perang Kurukshetra.

Keadaan di ajang perang, Kurukshetra

Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dsb ikut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.

Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon dibuat Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya bertambah banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya bertambah menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah yaitu tubuh formasi, para Raja yaitu kepala dan pasukan berkuda yaitu sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang rupa-rupanya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya struktur.

Turunnya Bhagawad Gita

Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh ajang perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, patut dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah ajang pertempuran, agar Arjuna dapat melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di ajang pertempuran.

Di tengah ajang pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, sahabat, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di ajang pertempuran, siap untuk berperang. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat situasi yang sedang berlaku itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia mau mengundurkan diri dari ajang pertempuran.

Arjuna berucap, “Kresna yang patut hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di muka saya, dengan semangat untuk berperang seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita hendak dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas jikalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya untuk kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”

Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang berlaku dan mana yang salah, Kresna mencoba-coba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia dapat memisahkan mana yang berlaku dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan bermacam nasihat Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan struktur semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna kenal siapa Kresna sebenarnya.

Wejangan suci yang dicukupkan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian dikata Bhagavad Gītā, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Nasihat tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena diasumsikan yaitu pokok-pokok nasihat Hindu dan intisari nasihat Veda.

Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira

Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkatkan busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga pautannya ikut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.

Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira membebaskan baju zirahnya, meletak senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berlangsung ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tingkah laku yang dibuatnya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakangan sambil berulang kali bertanya, namun Yudistira gugur membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tingkah laku yang dibuat Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak membebaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berlangsung melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.

Yudistira berucap, “Orang bawahan datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami hendak menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon doa restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang hendak berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang mau kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak hendak menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Situasi yang sedang berlaku ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah membelit diriku…”

Setelah Yudistira mendapat doa restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan doa restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendoakan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat doa restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

Yuyutsu memihak Pandawa

Setelah tiba di tengah-tengah ajang pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling bertentangan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”

Setelah berseru demikian, keadaan hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa terdengar sahutan yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Orang bawahan bersedia berperang di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Orang bawahan hendak menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua mau berperang menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, patut Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kebutuhanku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera hendak menemui ajalnya!”

Setelah mendengar sahutan demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

Pembantaian Bisma

Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba-coba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di minggu tidak sukses. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di minggu. Kekalahan di minggu membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berucap bahwa kemenangan sesungguhnya hendak kedatangan di pihak Pandawa.

Duel Arjuna dengan Bisma

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan situasi yang sedang berlaku yang diperoleh pada minggu. Arjuna mencoba-coba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap daya sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang mau membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan beberapa besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berulang kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun agresi dari Duryodana tidak sukses dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai padam. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi ajang laga. Di kesudahan hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Selesainya kesabaran Kresna

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kesabaran Kresna selesai sehingga ia mau menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima kedatangan di garis muka sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakangan. Bisma mau agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.

Arjuna dan Kresna mencoba-coba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan situasi yang sedang berlaku itu dan berucap, “Aku sudah tak dapat bersabar lagi, Aku hendak membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melangsungkannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna selesai.

Arjuna berucap, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini orang bawahan bersumpah, atas nama dan saudara-saudara orang bawahan, bahwa orang bawahan tidak hendak menarik diri dari sumpah yang orang bawahan ucapkan. O Kesawa, O kerabat yang lebih muda Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, orang bawahan yang hendak memusnahkan bangsa Kuru!”

Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Keberanian Bima

Hari keempat yaitu hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk melangsungkan usaha. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima lahir pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan kerabat yang lebih muda Duryodana. Hasilnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak kedatangan yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.

Perbantaian terus berlangsung

Pada hari kelima, pembantaian terus berlangsung. Pasukan Pandawa dengan segenap daya membalas agresi Bisma. Bima kedatangan di garis muka bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesukaran sehingga kedatangan dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat pautan, Arjuna berperang dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlangsung dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam yaitu hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.

Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena agresi Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat situasi yang sedang berlaku itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia mau mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, melangsungkan usaha berlangsung menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berucap, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak hendak ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang hendak mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan dampak perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang hendak membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Gugurnya Bisma

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Resi Bisma tidur di “ranjang panah” (saratalpa)

Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana metode mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan doa restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari metode untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba-coba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang berlaku dan mana yang salah.

Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis muka. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berulang kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tingkah laku yang dibuat Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari perihal mati ketika garis balik matahari kedatangan di utara.

Lihat pula

Bacaan bertambah lanjut

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, informasi.web.id, kelaskaryawan.andrafarm.com, dsb.


Page 10

Bhismaparwa konon yaitu anggota terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa bertentangan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna kedatangan di selang kedua pasukan. Arjuna pun dapat melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang bertentangan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini dikata dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, berarti yaitu nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia dapat mati pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah sangat banyak sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

Ringkasan pokok Kitab Bhismaparwa

Janamejaya berdiskusi, “Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari bermacam kerajaan itu menyusun pasukannya siap untuk bertempur?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di ajang perang Kurukshetra.

Keadaan di ajang perang, Kurukshetra

Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dsb ikut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.

Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa menyusun pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon dibuat Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya bertambah banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya bertambah menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah yaitu tubuh formasi, para Raja yaitu kepala dan pasukan berkuda yaitu sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang rupa-rupanya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya struktur.

Turunnya Bhagawad Gita

Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh ajang perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, patut dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah ajang pertempuran, agar Arjuna dapat melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di ajang pertempuran.

Di tengah ajang pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, sahabat, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di ajang pertempuran, siap untuk berperang. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat situasi yang sedang berlaku itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia mau mengundurkan diri dari ajang pertempuran.

Arjuna berucap, “Kresna yang patut hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di depan saya, dengan semangat untuk berperang seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas jikalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya untuk kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”

Dilanda oleh pergolakan batin, selang mana yang berlaku dan mana yang salah, Kresna mencoba-coba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia dapat membedakan mana yang berlaku dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan bermacam nasihat Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan struktur semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna kenal siapa Kresna sebenarnya.

Wejangan suci yang dicukupkan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian dikata Bhagavad Gītā, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Nasihat tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena diasumsikan yaitu pokok-pokok nasihat Hindu dan intisari nasihat Veda.

Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira

Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkatkan busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya ikut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.

Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira memberi keleluasaan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berlangsung ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakangan sambil berulang kali meminta keterangan, namun Yudistira gugur membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak memberi keleluasaan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berlangsung melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.

Yudistira berucap, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon doa restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang mau kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Situasi yang sedang berlaku ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah melilit diriku…”

Setelah Yudistira mendapat doa restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan doa restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendoakan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat doa restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

Yuyutsu memihak Pandawa

Setelah tiba di tengah-tengah ajang pertempuran, di selang kedua pasukan yang saling bertentangan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”

Setelah berseru demikian, keadaan hening sejenak. Tiba-tiba di selang pasukan Korawa terdengar sahutan yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Hamba bersedia berperang di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua mau berperang menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, patut Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kebutuhanku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan menemui ajalnya!”

Setelah mendengar sahutan demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

Pembantaian Bisma

Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba-coba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak sukses. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berucap bahwa kemenangan sesungguhnya akan kedatangan di pihak Pandawa.

Duel Arjuna dengan Bisma

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan situasi yang sedang berlaku yang diperoleh pada hari pertama. Arjuna mencoba-coba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap energi sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang mau membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan beberapa besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berulang kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak sukses dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai mati. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi ajang laga. Di kesudahan hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Selesainya kesabaran Kresna

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kesabaran Kresna selesai sehingga ia mau menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima kedatangan di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakangan. Bisma mau agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi energi Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan energi untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.

Arjuna dan Kresna mencoba-coba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan situasi yang sedang berlaku itu dan berucap, “Aku sudah tak dapat bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melanjutkannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna selesai.

Arjuna berucap, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”

Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Keberanian Bima

Hari keempat yaitu hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk melanjutkan usaha. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Hasilnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak kedatangan yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.

Perbantaian terus berlangsung

Pada hari kelima, pembantaian terus berlangsung. Pasukan Pandawa dengan segenap energi membalas serangan Bisma. Bima kedatangan di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilangsungkan dengan pertarungan selang Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesukaran sehingga kedatangan dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna berperang dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlangsung dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam yaitu hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.

Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat situasi yang sedang berlaku itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia mau mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, melanjutkan usaha berlangsung menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berucap, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan dampak perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Gugurnya Bisma

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Resi Bisma tidur di “ranjang panah” (saratalpa)

Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana metode mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan doa restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari metode untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba-coba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang berlaku dan mana yang salah.

Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berulang kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka melibati Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tindakan Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari kematian ketika garis balik matahari kedatangan di utara.

Lihat pula

Bacaan bertambah lanjut

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, informasi.web.id, kelaskaryawan.andrafarm.com, dsb.


Page 11

Bhismaparwa konon yaitu anggota terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini mengandung kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa bertentangan satu sama lain sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna kedatangan di selang kedua pasukan. Arjuna pun dapat melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang bertentangan satu sama lain sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini dikata dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, berarti yaitu nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia dapat mati pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah sangat banyak sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

Ringkasan pokok Kitab Bhismaparwa

Janamejaya berdiskusi, “Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari bermacam kerajaan itu menyusun pasukannya siap untuk bertempur?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di ajang perang Kurukshetra.

Keadaan di ajang perang, Kurukshetra

Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dsb ikut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.

Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa menyusun pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon dibuat Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya bertambah banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya bertambah menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah yaitu tubuh formasi, para Raja yaitu kepala dan pasukan berkuda yaitu sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang rupa-rupanya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya struktur.

Turunnya Bhagawad Gita

Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh ajang perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, patut dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah ajang pertempuran, agar Arjuna dapat melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di ajang pertempuran.

Di tengah ajang pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, sahabat, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di ajang pertempuran, siap untuk berperang. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat situasi yang sedang berlaku itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia mau mengundurkan diri dari ajang pertempuran.

Arjuna berucap, “Kresna yang patut hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di depan saya, dengan semangat untuk berperang seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas jikalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya untuk kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”

Dilanda oleh pergolakan batin, selang mana yang berlaku dan mana yang salah, Kresna mencoba-coba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia dapat membedakan mana yang berlaku dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan bermacam nasihat Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan struktur semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna kenal siapa Kresna sebenarnya.

Wejangan suci yang dicukupkan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian dikata Bhagavad Gītā, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Nasihat tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena diasumsikan yaitu pokok-pokok nasihat Hindu dan intisari nasihat Veda.

Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira

Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkatkan busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga lainnya ikut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.

Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira memberi keleluasaan baju zirahnya, meletakkan senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berlangsung ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tindakannya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakangan sambil berulang kali meminta keterangan, namun Yudistira gugur membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tindakan Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak memberi keleluasaan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berlangsung melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.

Yudistira berucap, “Hamba datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon doa restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang mau kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak akan menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Situasi yang sedang berlaku ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah melilit diriku…”

Setelah Yudistira mendapat doa restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan doa restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendoakan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat doa restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

Yuyutsu memihak Pandawa

Setelah tiba di tengah-tengah ajang pertempuran, di selang kedua pasukan yang saling bertentangan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”

Setelah berseru demikian, keadaan hening sejenak. Tiba-tiba di selang pasukan Korawa terdengar sahutan yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Hamba bersedia berperang di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Hamba akan menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua mau berperang menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, patut Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kebutuhanku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera akan menemui ajalnya!”

Setelah mendengar sahutan demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

Pembantaian Bisma

Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba-coba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di hari pertama tidak sukses. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di hari pertama. Kekalahan di hari pertama membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berucap bahwa kemenangan sesungguhnya akan kedatangan di pihak Pandawa.

Duel Arjuna dengan Bisma

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan situasi yang sedang berlaku yang diperoleh pada hari pertama. Arjuna mencoba-coba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap energi sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang mau membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan beberapa besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berulang kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun serangan dari Duryodana tidak sukses dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai mati. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi ajang laga. Di kesudahan hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Selesainya kesabaran Kresna

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kesabaran Kresna selesai sehingga ia mau menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima kedatangan di garis depan sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakangan. Bisma mau agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi energi Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan energi untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.

Arjuna dan Kresna mencoba-coba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan situasi yang sedang berlaku itu dan berucap, “Aku sudah tak dapat bersabar lagi, Aku akan membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melanjutkannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna selesai.

Arjuna berucap, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini hamba bersumpah, atas nama dan saudara-saudara hamba, bahwa hamba tidak akan menarik diri dari sumpah yang hamba ucapkan. O Kesawa, O adik Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, hamba yang akan memusnahkan bangsa Kuru!”

Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Keberanian Bima

Hari keempat yaitu hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk melanjutkan usaha. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima muncul pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan adik Duryodana. Hasilnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak kedatangan yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.

Perbantaian terus berlangsung

Pada hari kelima, pembantaian terus berlangsung. Pasukan Pandawa dengan segenap energi membalas serangan Bisma. Bima kedatangan di garis depan bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilangsungkan dengan pertarungan selang Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesukaran sehingga kedatangan dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat lain, Arjuna berperang dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlangsung dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam yaitu hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.

Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena serangan Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat situasi yang sedang berlaku itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia mau mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, melanjutkan usaha berlangsung menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berucap, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan dampak perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Gugurnya Bisma

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Resi Bisma tidur di “ranjang panah” (saratalpa)

Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana metode mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan doa restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari metode untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba-coba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang berlaku dan mana yang salah.

Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis depan. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berulang kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka melibati Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tindakan Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari kematian ketika garis balik matahari kedatangan di utara.

Lihat pula

Bacaan bertambah lanjut

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, informasi.web.id, kelaskaryawan.andrafarm.com, dsb.


Page 12

Bhismaparwa konon yaitu anggota terpenting Mahabharata karena kitab keenam ini berisi kitab Bhagawad Gita. Dalam Bhismaparwa dikisahkan bagaimana kedua pasukan, pasukan Korawa dan pasukan Pandawa bertentangan satu sama pautan sebelum Bharatayuddha dimulai. Lalu sang Arjuna dan kusirnya sang Kresna kedatangan di antara kedua pasukan. Arjuna pun dapat melihat bala tentara Korawa dan para Korawa, sepupunya sendiri. Iapun menjadi sedih karena harus memerangi mereka. Walaupun mereka jahat, tetapi Arjuna teringat bagaimana mereka pernah dididik bersama-sama sewaktu kecil dan sekarang bertentangan satu sama pautan sebagai musuh. Lalu Kresna memberi Arjuna sebuah wejangan. Wejangannya ini dikata dengan nama Bhagawad Gita atau “Gita Sang Bagawan”, berarti yaitu nyanyian seorang suci.

Bhismaparwa diakhiri dengan dikalahkannya Bisma, kakek para Pandawa dan Korawa. Bisma mempunyai sebuah kesaktian bahwa ia dapat padam pada waktu yang ditentukan sendiri. Lalu ia memilih untuk tetap tidur terbentang saja pada “tempat tidur panahnya” (saratalpa) sampai perang Bharatayuddha selesai. Bisma terkena panah sangat banyak sampai ia terjatuh tetapi tubuhnya tidak menyentuh tanah, hanya ujung-ujung panahnya saja.

Ringkasan pokok Kitab Bhismaparwa

Janamejaya berdiskusi, “Bagaimanakah para pahlawan bangsa Kuru, Pandawa, dan Somaka, beserta para rajanya yang berasal dari bermacam kerajaan itu mengatur pasukannya siap untuk bertempur?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Wesampayana menguraikan dengan detail, kejadian-kejadian yang sedang berlangsung di ajang perang Kurukshetra.

Keadaan di ajang perang, Kurukshetra

Sebelum pertempuran dimulai, kedua belah pihak sudah memenuhi daratan Kurukshetra. Para Raja terkemuka pada zaman India Kuno seperti misalnya Drupada, Sudakshina Kamboja, Bahlika, Salya, Wirata, Yudhamanyu, Uttamauja, Yuyudhana, Chekitana, Purujit, Kuntibhoja, dsb ikut berpartisipasi dalam pembantaian besar-besaran tersebut. Bisma, Sang sesepuh Wangsa Kuru, mengenakan jubah putih dan bendera putih, bersinar, dan tampak seperti gunung putih. Arjuna menaiki kereta kencana yang ditarik oleh empat ekor kuda putih dan dikemudikan oleh Kresna, yang mengenakan jubah sutera kuning.

Pasukan Korawa menghadap ke barat, sedangkan pasukan Pandawa menghadap ke timur. Pasukan Korawa terdiri dari 11 divisi, sedangkan pasukan Pandawa terdiri dari 7 divisi. Pandawa mengatur pasukannya membentuk formasi Bajra, formasi yang konon dibuat Dewa Indra. Pasukan Korawa jumlahnya bertambah banyak daripada pasukan Pandawa, dan formasinya bertambah menakutkan. Fomasi tersebut disusun oleh Drona, Bisma, Aswatama, Bahlika, dan Kripa yang semuanya ahli dalam peperangan. Pasukan gajah yaitu tubuh formasi, para Raja yaitu kepala dan pasukan berkuda yaitu sayapnya. Yudistira sempat gemetar dan cemas melihat formasi yang rupa-rupanya sulit ditembus tersebut, namun setelah mendapat penjelasan dari Arjuna, rasa percaya dirinya struktur.

Turunnya Bhagawad Gita

Sebelum pertempuran dimulai, terlebih dahulu Bisma meniup terompet kerangnya yang menggemparkan seluruh ajang perang, kemudian disusul oleh para Raja dan ksatria, patut dari pihak Korawa maupun Pandawa. Setelah itu, Arjuna menyuruh Kresna yang menjadi kusir keretanya, agar membawanya ke tengah ajang pertempuran, agar Arjuna dapat melihat siapa yang sudah siap bertarung dan siapa yang harus ia hadapi nanti di ajang pertempuran.

Di tengah ajang pertempuran, Arjuna melihat kakeknya, gurunya, sahabat, saudara, ipar, dan kerabatnya berdiri di ajang pertempuran, siap untuk berperang. Tiba-tiba Arjuna menjadi lemas setelah melihat situasi yang sedang berlaku itu. Ia tidak tega untuk membunuh mereka semua. Ia mau mengundurkan diri dari ajang pertempuran.

Arjuna berucap, “Kresna yang patut hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di muka saya, dengan semangat untuk berperang seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering…..Kita hendak dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas jikalau kita membunuh para putera Dretarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Lakshmi Dewi, apa keuntungannya untuk kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”

Dilanda oleh pergolakan batin, antara mana yang berlaku dan mana yang salah, Kresna mencoba-coba untuk menyadarkan Arjuna. Kresna yang menjadi kusir Arjuna, memberikan wejangan-wejangan suci kepada Arjuna, agar ia dapat memisahkan mana yang berlaku dan mana yang salah. Kresna juga menguraikan bermacam nasihat Hindu kepada Arjuna, agar segala keraguan di hatinya sirna, sehingga ia mau melanjutkan pertempuran. Selain itu, Kresna memperlihatkan struktur semestanya kepada Arjuna, agar Arjuna kenal siapa Kresna sebenarnya.

Wejangan suci yang dicukupkan oleh Kresna kepada Arjuna kemudian dikata Bhagavad Gītā, yang berarti “Nyanyian Tuhan”. Nasihat tersebut kemudian dirangkum menjadi kitab tersendiri dan sangat terkenal di kalangan umat Hindu, karena diasumsikan yaitu pokok-pokok nasihat Hindu dan intisari nasihat Veda.

Penghormatan sebelum perang oleh Yudistira

Setelah Arjuna sadar terhadap kewajibannya dan mau melanjutkan pertarungan karena sudah mendapat wejangan suci dari Kresna, maka pertempuran segera dimulai. Arjuna mengangkatkan busur panahnya yang bernama Gandiwa, diringi oleh sorak sorai gegap gempita. Pasukan kedua pihak bergemuruh. Mereka meniup sangkala dan terompet tanduk, memukul tambur dan genderang. Para Dewa, Pitara, Rishi, dan penghuni surga pautannya ikut menyaksikan pembantaian besar-besaran tersebut.

Pada saat-saat menjelang pertempuran tersebut, tiba-tiba Yudistira membebaskan baju zirahnya, meletak senjatanya, dan turun dari keretanya, sambil mencakupkan tangan dan berlangsung ke arah pasukan Korawa. Seluruh pihak yang melihat tingkah laku yang dibuatnya tidak percaya. Para Pandawa mengikutinya dari belakangan sambil berulang kali bertanya, namun Yudistira gugur membisu, hanya terus melangkah. Di saat semua pihak terheran-heran, hanya Kresna yang tersenyum karena mengetahui tujuan Yudistira. Pasukan Korawa penasaran dengan tingkah laku yang dibuat Yudistira. Mereka siap siaga dengan senjata lengkap dan tidak membebaskan pandangan kepada Yudistira. Yudistira berlangsung melangkah ke arah Bisma, kemudian dengan rasa bakti yang tulus ia menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang sangat dihormatinya.

Yudistira berucap, “Orang bawahan datang untuk menghormat kepadamu, O paduka nan gagah tak terkalahkan. Kami hendak menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini, dan kami pun memohon doa restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, O Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang hendak berlangsung ini engkau tidak datang kepadaku seperti ini, pasti kukutuk dirimu, O keturunan Bharata, agar menderita kekalahan! Aku puas, O putera mulia. Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu! Apa lagi cita-cita yang mau kaucapai dalam pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, O putera Pritha. Pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku itu pastilah, O Maharaja, kekalahan tidak hendak menimpa dirimu. Orang dapat menjadi budak kekayaan, namun kekayaan itu bukanlah budak siapa pun juga. Situasi yang sedang berlaku ini benar-benar terjadi, O putera bangsa Kuru. Dengan kekayaannya, kaum Korawa telah membelit diriku…”

Setelah Yudistira mendapat doa restu dari Bisma, kemudian ia menyembah Drona, Kripa, dan Salya. Semuanya memberikan doa restu yang sama seperti yang diucapkan Bisma, dan mendoakan agar kemenangan berpihak kepada Pandawa. Setelah mendapat doa restu dari mereka semua, Yudistira kembali menuju pasukannya, dan siap untuk memulai pertarungan.

Yuyutsu memihak Pandawa

Setelah tiba di tengah-tengah ajang pertempuran, di antara kedua pasukan yang saling bertentangan, Yudistira berseru, “Siapa pun juga yang memilih kami, mereka itulah yang kupilih menjadi sekutu kami!”

Setelah berseru demikian, keadaan hening sejenak. Tiba-tiba di antara pasukan Korawa terdengar sahutan yang diserukan oleh Yuyutsu. Dengan pandangan lurus ke arah Pandawa, Yuyutsu berseru, ”Orang bawahan bersedia berperang di bawah panji-panji paduka, demi kemenangan paduka sekalian! Orang bawahan hendak menghadapi putera Dretarastra, itu pun apabila paduka raja berkenan menerima! Demikianlah, O paduka Raja nan suci!”

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua mau berperang menghadapi saudara-saudaramu yang tolol itu! O Yuyutsu, patut Vāsudewa (Kresna) maupun kami lima bersaudara menyatakan kepadamu bahwa aku menerimamu, O pahlawan perkasa, berjuanglah bersama kami, untuk kebutuhanku, menegakkan Dharma! Rupanya hanya anda sendirilah yang menjadi penerus garis keturunan Dretarastra, sekaligus melanjutkan pelaksanaan upacara persembahan kepada para leluhur mereka! O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga telah menerima dirimu itu! Duryodana yang kejam dan berpengertian cutak itu segera hendak menemui ajalnya!”

Setelah mendengar sahutan demikian, Yuyutsu meninggalkan pasukan Korawa dan bergabung dengan para Pandawa. Kedatangannya disambut gembira. Yudistira mengenakan kembali baju zirahnya, kemudian berperang.

Pembantaian Bisma

Pertempuran dimulai. Kedua belah pihak maju dengan senjata lengkap. Divisi pasukan Korawa dan divisi pasukan Pandawa saling bantai. Bisma maju menyerang para ksatria Pandawa dan membinasakan apapun yang menghalangi jalannya. Abimanyu melihat hal tersebut dan menyuruh paman-pamannya agar berhati-hati. Ia sendiri mencoba-coba menyerang Bisma dan para pengawalnya. Namun usaha para ksatria Pandawa di minggu tidak sukses. Mereka menerima kekalahan. Putera Raja Wirata, Uttara dan Sweta, gugur oleh Bisma dan Salya di minggu. Kekalahan di minggu membuat Yudistira menjadi pesimis. Namun Sri Kresna berucap bahwa kemenangan sesungguhnya hendak kedatangan di pihak Pandawa.

Duel Arjuna dengan Bisma

Pada hari kedua, Arjuna bertekad untuk membalikkan situasi yang sedang berlaku yang diperoleh pada minggu. Arjuna mencoba-coba untuk menyerang Bisma dan membunuhnya, namun para pasukan Korawa berbaris di sekeliling Bisma dan melindunginya dengan segenap daya sehingga meyulitkan Arjuna. Pasukan Korawa menyerang Arjuna yang mau membunuh Bisma. Kedua belah pihak saling bantai, dan beberapa besar pasukan Korawa gugur di tangan Arjuna. Setelah menyapu seluruh pasukan Korawa, Arjuna dan Bisma terlibat dalam duel sengit. Sementara itu Drona menyerang Drestadyumna bertubi-tubi dan mematahkan panahnya berulang kali. Duryodana mengirim pasukan bantuan dari kerajaan Kalinga untuk menyerang Bima, namun agresi dari Duryodana tidak sukses dan pasukannya gugur semua. Setyaki yang bersekutu dengan Pandawa memanah kusir kereta Bisma sampai padam. Tanpa kusir, kuda melarikan kereta Bisma menjauhi ajang laga. Di kesudahan hari kedua, pihak Korawa mendapat kekalahan.

Selesainya kesabaran Kresna

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kesabaran Kresna selesai sehingga ia mau menghabisi Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna

Pada hari ketiga, Bisma memberi instruksi agar pasukan Korawa membentuk formasi burung elang dengan dirinya sendiri sebagai panglima kedatangan di garis muka sementara tentara Duryodana melindungi barisan belakangan. Bisma mau agar tidak terjadi kegagalan lagi. Sementara itu para Pandawa mengantisipasinya dengan membentuk formasi bulan sabit dengan Bima dan Arjuna sebagai pemimpin sayap kanan dan kiri. Pasukan Korawa menitikberatkan penyerangannya kepada Arjuna, namun banyak pasukan Korawa yang tak mampu menandingi kekuatan Arjuna. Abimanyu dan Setyaki menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan tentara Gandara milik Sangkuni. Bisma yang terlibat duel sengit dengan Arjuna, masih bertarung dengan setengah hati. Duryodana memarahi Bisma yang masih segan untuk menghabisi Arjuna. Perkataan Duryodana membuat hati Bisma tersinggung, kemudian ia mengubah perasaanya.

Arjuna dan Kresna mencoba-coba menyerang Bhishma. Arjuna dan Bisma sekali lagi terlibat dalam pertarungan yang bengis, meskipun Arjuna masih merasa tega dan segan untuk melawan kakeknya. Kresna menjadi sangat marah dengan situasi yang sedang berlaku itu dan berucap, “Aku sudah tak dapat bersabar lagi, Aku hendak membunuh Bisma dengan tanganku sendiri,” lalu ia mengambil chakra-nya dan berlari ke arah Bisma. Bisma menyerahkan dirinya kepada Kresna dengan pasrah. Ia merasa beruntung jika gugur di tangan Kresna. Arjuna berlari mengejarnya dan mencegah Kresna untuk melangsungkannya. Arjuna memegang kaki Kresna. Pada langkah yang kesepuluh, Kresna selesai.

Arjuna berucap, “O junjunganku, padamkanlah kemarahan ini. Paduka tempat kami berlindung. Baiklah, hari ini orang bawahan bersumpah, atas nama dan saudara-saudara orang bawahan, bahwa orang bawahan tidak hendak menarik diri dari sumpah yang orang bawahan ucapkan. O Kesawa, O kerabat yang lebih muda Dewa Indra, atas perintah paduka, baiklah, orang bawahan yang hendak memusnahkan bangsa Kuru!”

Mendengar sumpah tersebut, Kresna puas hatinya. Kemarahannya mereda, namun masih tetap memegang senjata chakra. Kemudian mereka berdua melanjutkan pertarungan dan membinasakan banyak pasukan Korawa.

Keberanian Bima

Hari keempat yaitu hari dimana Bima menunjukkan keberaniannya. Bisma memerintahkan pasukan Korawa untuk melangsungkan usaha. Abimanyu dikepung oleh para ksatria Korawa lalu diserang. Arjuna melihat hal tersebut lalu menolong Abimanyu. Bima lahir pada saat yang genting tersebut lalu menyerang para kstria Korawa dengan gada. Kemudian Duryodana mengirimkan pasukan gajah untuk menyerang Bima. Ketika Bima melihat pasukan gajah menuju ke arahnya, ia turun dari kereta dan menyerang mereka satu persatu dengan gada baja miliknya. Mereka dilempar dan dibanting ke arah pasukan Korawa. Kemudian Bima menyerang para ksatria Korawa dan membunuh delapan kerabat yang lebih muda Duryodana. Hasilnya ia dipanah dan tersungkur di keretanya. Gatotkaca melihat hal tersebut, lalu merasa sangat marah kepada pasukan Korawa. Bisma menasehati bahwa tidak kedatangan yang mampu melawan Gatotkaca yang sedang marah, lalu menyuruh pasukan agar mundur. Pada hari itu, Duryodana kehilangan banyak saudara-saudaranya.

Perbantaian terus berlangsung

Pada hari kelima, pembantaian terus berlangsung. Pasukan Pandawa dengan segenap daya membalas agresi Bisma. Bima kedatangan di garis muka bersama Srikandi dan Drestadyumna di sampingnya. Karena Srikandi berperan sebagai seorang wanita, Bisma menolak untuk bertarung dan pergi. Sementara itu, Setyaki membinasakan pasukan besar yang dikirim untuk menyerangnya. Pertempuran dilanjutkan dengan pertarungan antara Setyaki melawan Burisrawas dan kemudian Setyaki kesukaran sehingga kedatangan dalam situasi genting. Melihat hal itu, Bima datang melindungi Setyaki dan menyelamatkan nyawanya. Di tempat pautan, Arjuna berperang dan membunuh ribuan tentara yang dikirim Duryodana untuk menyerangnya.

Pertumpahan darah yang sulit dibayangkan terus berlangsung dari hari ke hari selama pertempuran berlangsung. Hari keenam yaitu hari pembantaian yang hebat. Drona membantai banyak prajurit di pihak Pandawa yang jumlahnya sukar diukur. Formasi kedua belah pihak pecah. Pada hari kedelapan, Bima membunuh delapan putera Dretarastra. Putera Arjuna — Irawan — terbunuh oleh para Korawa.

Pada hari kesembilan Bisma menyerang pasukan Pandawa dengan membabi buta. Banyak laskar yang tercerai berai karena agresi Bisma. Banyak yang melarikan diri atau menjauh dari Bisma, pendekar tua nan sakti dari Wangsa Kuru. Kresna memacu kuda-kudanya agar berlari ke arah Bisma. Arjuna dan Bisma terlibat dalam pertarungan sengit, namun Arjuna bertarung dengan setengah hati sementara Bisma menyerangnya dengan bertubi-tubi. Melihat situasi yang sedang berlaku itu, sekali lagi Kresna menjadi marah. Ia mau mengakhiri riwayat Bisma dengan tangannya sendiri. Ia meloncat turun dari kereta Arjuna, dengan mata merah menyala tanda kemarahan memuncak, melangsungkan usaha berlangsung menghampiri Bisma. Dengan senjata Chakra di tangan, Kresna membidik Bisma. Bisma dengan pasrah tidak menghindarinya, namun semakin merasa bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berucap, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak hendak ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang hendak mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan dampak perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang hendak membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, tetapi dengan menahan kemarahan ia naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Gugurnya Bisma

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Resi Bisma tidur di “ranjang panah” (saratalpa)

Para Pandawa tidak mengetahui bagaimana metode mengalahkan Bisma. Pada malam harinya, Pandawa menyusup ke dalam kemah Bisma. Bisma menyambutnya dengan doa restu. Pandawa menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari metode untuk mengalahkan Bisma. Kemudian Bisma membeberkan hal-hal yang membuatnya tidak tega untuk berperang. Setelah mendengar penjelasan Bisma, Arjuna berdiskusi dengan Kresna. Ia merasa tidak tega untuk mengakhiri riwayat kakeknya. Kemudian Kresna mencoba-coba menyadarkan Arjuna, tentang mana yang berlaku dan mana yang salah.

Pada hari kesepuluh, pasukan Pandawa dipelopori oleh Srikandi di garis muka. Srikandi menyerang Bisma, namun ia tidak dihiraukan. Bisma hanya tertawa kepada Srikandi, karena ia tidak mau menyerang Srikandi yang berkepribadian seperti wanita. Melihat Bisma menghindari Srikandi, Arjuna memanah Bisma berulang kali. Puluhan panah menancap di tubuh Bisma. Bisma terjatuh dari keretanya. Pasukan Pandawa bersorak. Tepat pada hari itu senja hari. Kedua belah pihak menghentikan pertarungannya, mereka mengelilingi Bisma yang berbaring tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh panah-panah. Bisma menyuruh para ksatria untuk memberikannya bantal, namun tidak satu pun bantal yang mau ia terima. Kemudian ia menyuruh Arjuna memberikannya bantal. Arjuna menancapkan tiga anak panah di bawah kepala Bisma sebagai bantal. Bisma merestui tingkah laku yang dibuat Arjuna, dan ia mengatakan bahwa ia memilih hari perihal mati ketika garis balik matahari kedatangan di utara.

Lihat pula

Bacaan bertambah lanjut

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, informasi.web.id, kelaskaryawan.andrafarm.com, dsb.


Page 13

Kalimantan yaitu sebuah wilayah di Pulau Kalimantan dibawah administrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Kalimantan terletak di selatan pulau Kalimantan (yang juga disebut sebagai Borneo). Wilayah Kalimantan berbatasan dengan Sabah dan Sarawak di bidang utara, sedangkan di bidang timur berbatasan dengan Selat Karimata, di bidang selatan berbatasan dengan Laut Jawa, dan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Sebelum pemekaran pada tahun 1957 wilayah ini yaitu satu wilayah administratif/provinsi yang beribukota di Banjarmasin.

Latar belakang

Pada zaman Hindia-Belanda dan sebelumnya, Kalimantan merujuk kepada semuanya pulau yang diketahui sebagai Borneo yang meliputi Sabah, Sarawak, Brunei, dan daerah Kalimantan sekarang. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar kepada Residen Belanda di Banjarmasin pada tahun 1857, ia menyebut nama “Pulau Kalimantan”, bukan dengan sebutan “Pulau Borneo”. Ini memandukan bahawa di kalangan penduduk, nama “Kalimantan” bertambah umum dipakai daripada nama “Borneo” yang dipakai pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Beberapa besar wilayah Kalimantan dari kota Sambas sehingga kota Berau yaitu kesan daerah Kerajaan Banjar, tetapi kini daerah itu menyusut dibuat bentuk menjadi beberapa kecil saja di wilayah Kalimantan Selatan masa kini setelah jatuh ke tangan kesultanan Brunei. Dengan kedatangan Inggris di Kalimantan, Inggris membedakan Sabah, Sarawak dari Kalimantan (termasuk Brunei). Ketika Sabah dan Sarawak dimasukkan ke dalam wilayah Malaysia, semuanya pulau dipanggil Borneo. Sampai sekarang pulau itu secara lebar disebut dengan “Borneo” daripada “Kalimantan”, dan kata “Kalimantan” sendiri bertambah umum diberikan definisi sebagai suatu wilayah di pulau Borneo yang dimiliki oleh Indonesia, walaupun dalam Bahasa Indonesia kata “Kalimantan” tetap mengacu kepada semuanya pulau.

Etimologi

Asal-usul nama Kalimantan tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan dipakai di Sarawak untuk menyebut kelompok penduduk yang mengonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini[1]. Menurut Crowfurd, kata Kalimantan yaitu nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan yaitu pulau mangga, namun beliau menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer.[2]. Mangga lokal yang disebut klemantan ini sampai sekarang banyak terdapat di perdesaan di daerah Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.

Menurut C. Hose dan Mac Dougall, “Kalimantan” bermula dari nama-nama enam golongan suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu nama baru yang dipakai oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang bermula dari India (malaya yang berarti gunung).

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan bermula dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut budaya tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akibatnya diturunkan dibuat bentuk menjadi Kalimantan.[3] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk daerah timur pulau ini menyebutnya Pulu K’lemantan[4][5][6], orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан.

Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan bisa berarti “Sungai Intan”.[7][8][9]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sebuah sungai di Kalsel dan transportasi airnya

Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga diketahui dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya “Bakulapura” yaitu taklukannya yang ada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta berarti pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu dibuat bentuk menjadi “Tanjungpura” berarti negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya “Tanjungnagara” yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.

Hikayat Banjar, sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri bermula dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang bertambah kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau “Hujung Tanah”. Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang mempunyai bentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus dengan daratan yang berujung di Tanjung Selatan yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bidang ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut “Ujung Tanah” dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara berarti pulau yang mempunyai bentuk tanjung/semenanjung.

Sebutan “Nusa Kencana” yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari masa kerajaan Kadiri (Panjalu), tentang akan dikuasainya Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana (Bumi Kencana). Memang terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu menduduki ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.

Sebutan-sebutan yang lain antara lain: “Pulau Banjar”[10][11], Raden Paku (kelak diketahui sebagai Sunan Giri) diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; “Jawa Besar” sebutan dari Marco Polo penjelajah dari Italia[12] atau dalam bahasa Arab[13]; dan “Jaba Daje” berarti “Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada abad ke-20.

Pembagian wilayah

Kalimantan dibagikan dibuat bentuk menjadi 5 buah wilayah atau provinsi:

Penduduk

Budaya

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Mengulur naga dalam pesta hukum budaya Erau, upacara hukum budaya suku Kutai.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Karakter naga dalam budaya Banjar.

Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser.[14] Sedangkan sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan dibuat bentuk menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar).[15] Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei sehingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati pesisir Kalteng, Kalsel sampai Kaltim. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati seluruh daerah pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa yang banyak di kota Singkawang bisa disamakan forum Cina Benteng yang bermukim di Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota di pulau Kalimantan ditempati secara politis oleh mayoritas suku-suku imigran seperti suku Hakka (Singkawang), suku Jawa (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tawau) dsb. Suku-suku imigran tersebut berusaha memasukkan unsur budayanya dengan alasan tertentu, padahal mereka tidak memiliki wilayaa hukum budaya dan tidak diakui sebagai suku asli Kalimantan, walaupun keberadaannya telah lama datang menyeberang ke pulau ini. Suku Bugis yaitu suku transmigran pertama menetap, ber-inkorporasi dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu (baca: kerajaan Islam) di Kalimantan. Beberapa waktu yang lalu suku Bugis, membawa ke atas seorang panglima hukum budaya untuk pulau Nunukan yang beroleh reaksi oleh lembaga hukum budaya suku-suku asli. Tari Rindang Kemantis yaitu gabungan tarian yang mengambil unsur seni beberapa etnis di Balikpapan seperti Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda[16] dianggap kurang menggambarkan keadaan budaya lokal sehingga beroleh protes lembaga hukum budaya suku-suku lokal.[17][18] Di Balikpapan pembentukan Brigade Lagaligo[19] sebuah organisasi kemasyarakatan warga perantuan asal Sulawesi Selatan dianggap provokasi dan ditentang ormas suku lokal.[20][21][22][23][24][25] Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang ke-2. Walikota Singkawang yang bermula dari suku Tionghoa membangun di pusat kota Singkawang sebuah patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditempatkan atau disembahyangi di kelenteng. Pembangunan patung naga ini yaitu simbolisasi hegemoni politik ECI Etnis Cina Indonesia dengan tidak memegang teguh keberadaan etnis pribumi di Singkawang sehingga beroleh protes oleh kelompok Front Pembela Islam, Front Pembela Melayu dan aliansi LSM. Penguatan dominasi politik ECI yaitu upaya revitalisasi negara Lan Fang[26] yang tentu saja akan didorong oleh suku-suku bukan ECI[27], namun di lain pihak, suku Dayak mendukung keberadaan patung naga tersebut.[28]. Dalam budaya Kalimantan karakter naga biasanya disandingkan dengan karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan dwitunggal semesta yaitu dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu.[29] Walaupun demikian beberapa budaya suku-suku Kalimantan yaitu hasil adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi unsur-unsur budaya dari luar misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, wayang kulit Banjar, benang bintik (batik Dayak Ngaju), ampik (batik Dayak Kenyah), tari zafin dsb.

Pada dasarnya budaya Kalimantan terbagi dibuat bentuk menjadi budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi kedua budaya ini setiap tahun ditampilkan dalam Festival Borneo yang ikuti oleh keempat provinsi di Kalimantan diselenggarakan bergiliran masing-masing provinsi.[30][31][32] Kalimantan kaya dengan budaya kuliner, diantaranya masakan sari laut.[33]

Kelompok etnis

Nama Kalimantan yang lain

  • Waruna Pura
  • Tanjungpura (Bakulapura)
  • Tanjung Negara yaitu sebutan untuk pulau Borneo oleh Kerajaan Majapahit. Kalimantan yaitu daerah taklukan Kerajaan Majapahit yang kelapan.
  • Hujung Tanah atau Ujung Tanah yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam Hikayat Banjar dan Hikayat Raja-raja Pasai. Nampaknya, ini yaitu nama yang dipakai oleh penduduk Sumatera dan sekitarnya untuk menyebut pulau Kalimantan.
  • Pulau Kencana yaitu sebutan untuk pulau Kalimantan dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari Majapahit tentang prospek penguasaan Tanah Jawa oleh bangsa Jepun yang datang dari arah pulau Kencana (Kalimantan).

Kalimantan dalam nama

Referensi

  1. ^ (Inggris) Charton, Barbara (2008). The Facts on File dictionary of marine science (ed. 2). Infobase Publishing. hlm. 203. ISBN 0816063834. ISBN 978-0-8160-6383-3
  2. ^ Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856)
  3. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2006). Sriwijaya. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 88. ISBN 9798451627. ISBN 978-979-8451-62-1
  4. ^ (Inggris) Raffles, Lady Sophia (1835). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles 2. J. Duncan. hlm. 396. 
  5. ^ (Inggris) Royal Institution of Great Britain (1817). The Quarterly journal of science and the arts 2. John Murray. hlm. 331. 
  6. ^ (Jerman) Christoph Friedrich von Ammon, Leonhard Bertholdt (1817). Kritisches Journal der neuesten theologischen Literatur 6. J. E. Seidel. hlm. 444. 
  7. ^ Kalimantan Rivers
  8. ^ Kalimantan – Indonesia
  9. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733. ISBn 0-945971-73-7
  10. ^ (Indonesia) Chambert-Loir, Henri; Wisamarta, Lukman (Khatib.) (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121. ISBN 9799100119.  ISBN 978-979-9100-11-5
  11. ^ (Indonesia) Zaini-Lajoubert, Monique (2008). Karya lengkap Abdullah bin Muhammad al-Misri: Bayan al-Asmaʾ, Hikayat Mareskalek, ʿArsy al-Muluk, Tuturan Siam, Hikayat tanah Bali. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 144. ISBN 9798116135.  ISBN 978-979-8116-13-1
  12. ^ (Inggris) Pinkerton, John; Samuel Vince (1806). Modern geography: A description of the empires, kingdoms, states, and colonies; with the oceans, seas, and isles in all parts of the world….. (ed. 2). T. Cadell. hlm. 478. 
  13. ^ (Inggris)East India Company, East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany 12. Wm. H. Allen & Co. hlm. 118. 
  14. ^ (Indonesia) Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9. ISBN 978-979-98014-1-8
  15. ^ http://www.statistics.gov.my/portal/download_Population/files/census2010/Taburan_Penduduk_dan_Ciri-ciri_Asas_Demografi.pdf
  16. ^ Orang Asing Minati Tarian Balikpapan
  17. ^ Balikpapan Punya Kesenian Lokal
  18. ^ Tarian Rindang Kumantis Diprotes
  19. ^ LAGALIGO di facebook.com
  20. ^ Deklarasi Lagaligo di Balikpapan
  21. ^ 2 Pekan Demonstrasi Pengaruhi Kerja DPRD Balikpapan
  22. ^ kota-lagaligo-dilarang-lakukan-kegiatan Walikota: Lagaligo Dilarang Lakukan Kegiatan
  23. ^ Gubernur Kaltim Larang Brigade Lagaligo Beraktivitas
  24. ^ Brimob Gagalkan Sweeping Warga Pendatang di Balikpapan
  25. ^ Ormas La Galigo Dibekukan
  26. ^ Etnis Cina Indonesia dalam Politik: Politik Etnis Cina Pontianak dan Singkawang di Era Reformasi 1998
  27. ^ FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota Singkawang
  28. ^ Dukung Keberadaan Tugu Naga, Massa Datangi DPRD Singkawang
  29. ^ Singkawang Siaga I, FPI-Polisi Bentrok di Tugu Nag
  30. ^ Ribuan Massa Saksikan Pembukaan Festival Borneo Jumat, 20 Mei 2011 | 15:40
  31. ^ Festival Borneo Palangka Raya 2011
  32. ^ Pagelaran Tari Festival Borneo di Pontianak tahun 2009
  33. ^ (Indonesia) Sanaji, Miftah. Seafood: Citarasa Kalimantan. PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792261990. ISBN 978-979-22-6199-8

Sumber :
kelaskaryawan.al-quran.co, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, diskusi.biz, dan lain sebagainya.


Page 14

Kalimantan yaitu sebuah wilayah di Pulau Kalimantan dibawah administrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Kalimantan terletak di selatan pulau Kalimantan (yang juga disebut sebagai Borneo). Wilayah Kalimantan berbatasan dengan Sabah dan Sarawak di bidang utara, sedangkan di bidang timur berbatasan dengan Selat Karimata, di bidang selatan berbatasan dengan Laut Jawa, dan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Sebelum pemekaran pada tahun 1957 wilayah ini yaitu satu wilayah administratif/provinsi yang beribukota di Banjarmasin.

Latar belakang

Pada zaman Hindia-Belanda dan sebelumnya, Kalimantan merujuk kepada semuanya pulau yang diketahui sebagai Borneo yang meliputi Sabah, Sarawak, Brunei, dan daerah Kalimantan sekarang. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar kepada Residen Belanda di Banjarmasin pada tahun 1857, ia menyebut nama “Pulau Kalimantan”, bukan dengan sebutan “Pulau Borneo”. Ini memandukan bahawa di kalangan penduduk, nama “Kalimantan” bertambah umum dipakai daripada nama “Borneo” yang dipakai pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Beberapa besar wilayah Kalimantan dari kota Sambas sehingga kota Berau yaitu kesan daerah Kerajaan Banjar, tetapi kini daerah itu menyusut dibuat bentuk menjadi beberapa kecil saja di wilayah Kalimantan Selatan masa kini setelah jatuh ke tangan kesultanan Brunei. Dengan kedatangan Inggris di Kalimantan, Inggris membedakan Sabah, Sarawak dari Kalimantan (termasuk Brunei). Ketika Sabah dan Sarawak dimasukkan ke dalam wilayah Malaysia, semuanya pulau dipanggil Borneo. Sampai sekarang pulau itu secara lebar disebut dengan “Borneo” daripada “Kalimantan”, dan kata “Kalimantan” sendiri bertambah umum diberikan rumusan sebagai suatu wilayah di pulau Borneo yang dimiliki oleh Indonesia, walaupun dalam Bahasa Indonesia kata “Kalimantan” tetap mengacu kepada semuanya pulau.

Etimologi

Asal-usul nama Kalimantan tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan dipakai di Sarawak untuk menyebut kelompok penduduk yang mengonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini[1]. Menurut Crowfurd, kata Kalimantan yaitu nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan yaitu pulau mangga, namun beliau menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer.[2]. Mangga lokal yang disebut klemantan ini sampai sekarang jumlah terdapat di perdesaan di daerah Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.

Menurut C. Hose dan Mac Dougall, “Kalimantan” bermula dari nama-nama enam kelompok suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu nama baru yang dipakai oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang bermula dari India (malaya yang berarti gunung).

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan bermula dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut budaya tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhir suatu peristiwanya diturunkan dibuat bentuk menjadi Kalimantan.[3] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk daerah timur pulau ini menyebutnya Pulu K’lemantan[4][5][6], orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан.

Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan bisa berarti “Sungai Intan”.[7][8][9]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sebuah sungai di Kalsel dan transportasi airnya

Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga diketahui dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya “Bakulapura” yaitu taklukannya yang ada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta berarti pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu dibuat bentuk menjadi “Tanjungpura” berarti negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya “Tanjungnagara” yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.

Hikayat Banjar, sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri bermula dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang bertambah kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau “Hujung Tanah”. Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang mempunyai bentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus dengan daratan yang berujung di Tanjung Selatan yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bidang ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut “Ujung Tanah” dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara berarti pulau yang mempunyai bentuk tanjung/semenanjung.

Sebutan “Nusa Kencana” yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari masa kerajaan Kadiri (Panjalu), tentang akan dikuasainya Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana (Bumi Kencana). Memang terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu merebut ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.

Sebutan-sebutan yang lain antara lain: “Pulau Banjar”[10][11], Raden Paku (kelak diketahui sebagai Sunan Giri) diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; “Jawa Besar” sebutan dari Marco Polo penjelajah dari Italia[12] atau dalam bahasa Arab[13]; dan “Jaba Daje” berarti “Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada masa seratus tahun ke-20.

Pembagian wilayah

Kalimantan dibagikan dibuat bentuk menjadi 5 buah wilayah atau provinsi:

Penduduk

Budaya

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Mengulur naga dalam pesta hukum budaya Erau, upacara hukum budaya suku Kutai.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Karakter naga dalam budaya Banjar.

Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser.[14] Sedangkan sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan dibuat bentuk menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar).[15] Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei sehingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati pesisir Kalteng, Kalsel sampai Kaltim. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati seluruh daerah pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa yang jumlah di kota Singkawang bisa disamakan komunitas Cina Benteng yang bermukim di Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota di pulau Kalimantan ditempati secara politis oleh mayoritas suku-suku imigran seperti suku Hakka (Singkawang), suku Jawa (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tawau) dsb. Suku-suku imigran tersebut berusaha memasukkan unsur budayanya dengan alasan tertentu, padahal mereka tidak memiliki wilayaa hukum budaya dan tidak diakui sebagai suku asli Kalimantan, walaupun keberadaannya telah lama datang menyeberang ke pulau ini. Suku Bugis yaitu suku transmigran pertama menetap, ber-inkorporasi dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu (baca: kerajaan Islam) di Kalimantan. Beberapa waktu yang lalu suku Bugis, membawa ke atas seorang panglima hukum budaya untuk pulau Nunukan yang beroleh reaksi oleh lembaga hukum budaya suku-suku asli. Tari Rindang Kemantis yaitu gabungan tarian yang mengambil unsur seni beberapa etnis di Balikpapan seperti Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda[16] dianggap kurang menggambarkan keadaan budaya lokal sehingga beroleh protes lembaga hukum budaya suku-suku lokal.[17][18] Di Balikpapan pembentukan Brigade Lagaligo[19] sebuah organisasi kemasyarakatan warga perantuan asal Sulawesi Selatan dianggap provokasi dan ditentang ormas suku lokal.[20][21][22][23][24][25] Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang ke-2. Walikota Singkawang yang bermula dari suku Tionghoa membangun di pusat kota Singkawang sebuah patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditempatkan atau disembahyangi di kelenteng. Pembangunan patung naga ini yaitu simbolisasi hegemoni politik ECI Etnis Cina Indonesia dengan tidak memegang teguh keberadaan etnis pribumi di Singkawang sehingga beroleh protes oleh kelompok Front Pembela Islam, Front Pembela Melayu dan aliansi LSM. Penguatan dominasi politik ECI yaitu upaya revitalisasi negara Lan Fang[26] yang tentu saja akan didorong oleh suku-suku bukan ECI[27], namun di lain pihak, suku Dayak mendukung keberadaan patung naga tersebut.[28]. Dalam budaya Kalimantan karakter naga biasanya disandingkan dengan karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan dwitunggal semesta yaitu dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu.[29] Walaupun demikian beberapa budaya suku-suku Kalimantan yaitu hasil adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi unsur-unsur budaya dari luar misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, wayang kulit Banjar, benang bintik (batik Dayak Ngaju), ampik (batik Dayak Kenyah), tari zafin dsb.

Pada dasarnya budaya Kalimantan terbagi dibuat bentuk menjadi budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi kedua budaya ini setiap tahun ditampilkan dalam Festival Borneo yang ikuti oleh keempat provinsi di Kalimantan diselenggarakan bergiliran masing-masing provinsi.[30][31][32] Kalimantan kaya dengan budaya kuliner, diantaranya masakan sari laut.[33]

Kelompok etnis

Nama Kalimantan yang lain

  • Waruna Pura
  • Tanjungpura (Bakulapura)
  • Tanjung Negara yaitu sebutan untuk pulau Borneo oleh Kerajaan Majapahit. Kalimantan yaitu daerah taklukan Kerajaan Majapahit yang kelapan.
  • Hujung Tanah atau Ujung Tanah yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam Hikayat Banjar dan Hikayat Raja-raja Pasai. Nampaknya, ini yaitu nama yang dipakai oleh penduduk Sumatera dan sekitarnya untuk menyebut pulau Kalimantan.
  • Pulau Kencana yaitu sebutan untuk pulau Kalimantan dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari Majapahit tentang prospek penguasaan Tanah Jawa oleh bangsa Jepun yang datang dari arah pulau Kencana (Kalimantan).

Kalimantan dalam nama

Referensi

  1. ^ (Inggris) Charton, Barbara (2008). The Facts on File dictionary of marine science (ed. 2). Infobase Publishing. hlm. 203. ISBN 0816063834. ISBN 978-0-8160-6383-3
  2. ^ Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856)
  3. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2006). Sriwijaya. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 88. ISBN 9798451627. ISBN 978-979-8451-62-1
  4. ^ (Inggris) Raffles, Lady Sophia (1835). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles 2. J. Duncan. hlm. 396. 
  5. ^ (Inggris) Royal Institution of Great Britain (1817). The Quarterly journal of science and the arts 2. John Murray. hlm. 331. 
  6. ^ (Jerman) Christoph Friedrich von Ammon, Leonhard Bertholdt (1817). Kritisches Journal der neuesten theologischen Literatur 6. J. E. Seidel. hlm. 444. 
  7. ^ Kalimantan Rivers
  8. ^ Kalimantan – Indonesia
  9. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733. ISBn 0-945971-73-7
  10. ^ (Indonesia) Chambert-Loir, Henri; Wisamarta, Lukman (Khatib.) (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121. ISBN 9799100119.  ISBN 978-979-9100-11-5
  11. ^ (Indonesia) Zaini-Lajoubert, Monique (2008). Karya lengkap Abdullah bin Muhammad al-Misri: Bayan al-Asmaʾ, Hikayat Mareskalek, ʿArsy al-Muluk, Tuturan Siam, Hikayat tanah Bali. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 144. ISBN 9798116135.  ISBN 978-979-8116-13-1
  12. ^ (Inggris) Pinkerton, John; Samuel Vince (1806). Modern geography: A description of the empires, kingdoms, states, and colonies; with the oceans, seas, and isles in all parts of the world….. (ed. 2). T. Cadell. hlm. 478. 
  13. ^ (Inggris)East India Company, East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany 12. Wm. H. Allen & Co. hlm. 118. 
  14. ^ (Indonesia) Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9. ISBN 978-979-98014-1-8
  15. ^ http://www.statistics.gov.my/portal/download_Population/files/census2010/Taburan_Penduduk_dan_Ciri-ciri_Asas_Demografi.pdf
  16. ^ Orang Asing Minati Tarian Balikpapan
  17. ^ Balikpapan Punya Kesenian Lokal
  18. ^ Tarian Rindang Kumantis Diprotes
  19. ^ LAGALIGO di facebook.com
  20. ^ Deklarasi Lagaligo di Balikpapan
  21. ^ 2 Pekan Demonstrasi Pengaruhi Kerja DPRD Balikpapan
  22. ^ kota-lagaligo-dilarang-lakukan-kegiatan Walikota: Lagaligo Dilarang Lakukan Kegiatan
  23. ^ Gubernur Kaltim Larang Brigade Lagaligo Beraktivitas
  24. ^ Brimob Gagalkan Sweeping Warga Pendatang di Balikpapan
  25. ^ Ormas La Galigo Dibekukan
  26. ^ Etnis Cina Indonesia dalam Politik: Politik Etnis Cina Pontianak dan Singkawang di Era Reformasi 1998
  27. ^ FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota Singkawang
  28. ^ Dukung Keberadaan Tugu Naga, Massa Datangi DPRD Singkawang
  29. ^ Singkawang Siaga I, FPI-Polisi Bentrok di Tugu Nag
  30. ^ Ribuan Massa Saksikan Pembukaan Festival Borneo Jumat, 20 Mei 2011 | 15:40
  31. ^ Festival Borneo Palangka Raya 2011
  32. ^ Pagelaran Tari Festival Borneo di Pontianak tahun 2009
  33. ^ (Indonesia) Sanaji, Miftah. Seafood: Citarasa Kalimantan. PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792261990. ISBN 978-979-22-6199-8

Sumber :
kelaskaryawan.al-quran.co, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, diskusi.biz, dan lain sebagainya.


Page 15

Kalimantan yaitu sebuah wilayah di Pulau Kalimantan dibawah administrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Kalimantan terletak di selatan pulau Kalimantan (yang juga disebut sebagai Borneo). Wilayah Kalimantan berbatasan dengan Sabah dan Sarawak di bidang utara, sedangkan di bidang timur berbatasan dengan Selat Karimata, di bidang selatan berbatasan dengan Laut Jawa, dan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Sebelum pemekaran pada tahun 1957 wilayah ini yaitu satu wilayah administratif/provinsi yang beribukota di Banjarmasin.

Latar belakang

Pada zaman Hindia-Belanda dan sebelumnya, Kalimantan merujuk kepada semuanya pulau yang diketahui sebagai Borneo yang meliputi Sabah, Sarawak, Brunei, dan daerah Kalimantan sekarang. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar kepada Residen Belanda di Banjarmasin pada tahun 1857, ia menyebut nama “Pulau Kalimantan”, bukan dengan sebutan “Pulau Borneo”. Ini memandukan bahawa di kalangan penduduk, nama “Kalimantan” bertambah umum dipakai daripada nama “Borneo” yang dipakai pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Beberapa besar wilayah Kalimantan dari kota Sambas sehingga kota Berau yaitu kesan daerah Kerajaan Banjar, tetapi kini daerah itu menyusut dibuat bentuk menjadi beberapa kecil saja di wilayah Kalimantan Selatan masa kini setelah jatuh ke tangan kesultanan Brunei. Dengan kedatangan Inggris di Kalimantan, Inggris membedakan Sabah, Sarawak dari Kalimantan (termasuk Brunei). Ketika Sabah dan Sarawak dimasukkan ke dalam wilayah Malaysia, semuanya pulau dipanggil Borneo. Sampai sekarang pulau itu secara lebar disebut dengan “Borneo” daripada “Kalimantan”, dan kata “Kalimantan” sendiri bertambah umum diberikan rumusan sebagai suatu wilayah di pulau Borneo yang dimiliki oleh Indonesia, walaupun dalam Bahasa Indonesia kata “Kalimantan” tetap mengacu kepada semuanya pulau.

Etimologi

Asal-usul nama Kalimantan tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan dipakai di Sarawak untuk menyebut kelompok penduduk yang mengonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini[1]. Menurut Crowfurd, kata Kalimantan yaitu nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan yaitu pulau mangga, namun beliau menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer.[2]. Mangga lokal yang disebut klemantan ini sampai sekarang jumlah terdapat di perdesaan di daerah Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.

Menurut C. Hose dan Mac Dougall, “Kalimantan” bermula dari nama-nama enam kelompok suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu nama baru yang dipakai oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang bermula dari India (malaya yang berarti gunung).

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan bermula dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut budaya tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhir suatu peristiwanya diturunkan dibuat bentuk menjadi Kalimantan.[3] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk daerah timur pulau ini menyebutnya Pulu K’lemantan[4][5][6], orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан.

Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan bisa berarti “Sungai Intan”.[7][8][9]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sebuah sungai di Kalsel dan transportasi airnya

Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga diketahui dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya “Bakulapura” yaitu taklukannya yang ada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta berarti pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu dibuat bentuk menjadi “Tanjungpura” berarti negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya “Tanjungnagara” yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.

Hikayat Banjar, sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri bermula dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang bertambah kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau “Hujung Tanah”. Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang mempunyai bentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus dengan daratan yang berujung di Tanjung Selatan yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bidang ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut “Ujung Tanah” dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara berarti pulau yang mempunyai bentuk tanjung/semenanjung.

Sebutan “Nusa Kencana” yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari masa kerajaan Kadiri (Panjalu), tentang akan dikuasainya Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana (Bumi Kencana). Memang terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu merebut ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.

Sebutan-sebutan yang lain antara lain: “Pulau Banjar”[10][11], Raden Paku (kelak diketahui sebagai Sunan Giri) diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; “Jawa Besar” sebutan dari Marco Polo penjelajah dari Italia[12] atau dalam bahasa Arab[13]; dan “Jaba Daje” berarti “Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada masa seratus tahun ke-20.

Pembagian wilayah

Kalimantan dibagikan dibuat bentuk menjadi 5 buah wilayah atau provinsi:

Penduduk

Budaya

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Mengulur naga dalam pesta hukum budaya Erau, upacara hukum budaya suku Kutai.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Karakter naga dalam budaya Banjar.

Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser.[14] Sedangkan sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan dibuat bentuk menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar).[15] Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei sehingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati pesisir Kalteng, Kalsel sampai Kaltim. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati seluruh daerah pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa yang jumlah di kota Singkawang bisa disamakan komunitas Cina Benteng yang bermukim di Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota di pulau Kalimantan ditempati secara politis oleh mayoritas suku-suku imigran seperti suku Hakka (Singkawang), suku Jawa (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tawau) dsb. Suku-suku imigran tersebut berusaha memasukkan unsur budayanya dengan alasan tertentu, padahal mereka tidak memiliki wilayaa hukum budaya dan tidak diakui sebagai suku asli Kalimantan, walaupun keberadaannya telah lama datang menyeberang ke pulau ini. Suku Bugis yaitu suku transmigran pertama menetap, ber-inkorporasi dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu (baca: kerajaan Islam) di Kalimantan. Beberapa waktu yang lalu suku Bugis, membawa ke atas seorang panglima hukum budaya untuk pulau Nunukan yang beroleh reaksi oleh lembaga hukum budaya suku-suku asli. Tari Rindang Kemantis yaitu gabungan tarian yang mengambil unsur seni beberapa etnis di Balikpapan seperti Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda[16] dianggap kurang menggambarkan keadaan budaya lokal sehingga beroleh protes lembaga hukum budaya suku-suku lokal.[17][18] Di Balikpapan pembentukan Brigade Lagaligo[19] sebuah organisasi kemasyarakatan warga perantuan asal Sulawesi Selatan dianggap provokasi dan ditentang ormas suku lokal.[20][21][22][23][24][25] Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang ke-2. Walikota Singkawang yang bermula dari suku Tionghoa membangun di pusat kota Singkawang sebuah patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditempatkan atau disembahyangi di kelenteng. Pembangunan patung naga ini yaitu simbolisasi hegemoni politik ECI Etnis Cina Indonesia dengan tidak memegang teguh keberadaan etnis pribumi di Singkawang sehingga beroleh protes oleh kelompok Front Pembela Islam, Front Pembela Melayu dan aliansi LSM. Penguatan dominasi politik ECI yaitu upaya revitalisasi negara Lan Fang[26] yang tentu saja akan didorong oleh suku-suku bukan ECI[27], namun di lain pihak, suku Dayak mendukung keberadaan patung naga tersebut.[28]. Dalam budaya Kalimantan karakter naga biasanya disandingkan dengan karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan dwitunggal semesta yaitu dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu.[29] Walaupun demikian beberapa budaya suku-suku Kalimantan yaitu hasil adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi unsur-unsur budaya dari luar misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, wayang kulit Banjar, benang bintik (batik Dayak Ngaju), ampik (batik Dayak Kenyah), tari zafin dsb.

Pada dasarnya budaya Kalimantan terbagi dibuat bentuk menjadi budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi kedua budaya ini setiap tahun ditampilkan dalam Festival Borneo yang ikuti oleh keempat provinsi di Kalimantan diselenggarakan bergiliran masing-masing provinsi.[30][31][32] Kalimantan kaya dengan budaya kuliner, diantaranya masakan sari laut.[33]

Kelompok etnis

Nama Kalimantan yang lain

  • Waruna Pura
  • Tanjungpura (Bakulapura)
  • Tanjung Negara yaitu sebutan untuk pulau Borneo oleh Kerajaan Majapahit. Kalimantan yaitu daerah taklukan Kerajaan Majapahit yang kelapan.
  • Hujung Tanah atau Ujung Tanah yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam Hikayat Banjar dan Hikayat Raja-raja Pasai. Nampaknya, ini yaitu nama yang dipakai oleh penduduk Sumatera dan sekitarnya untuk menyebut pulau Kalimantan.
  • Pulau Kencana yaitu sebutan untuk pulau Kalimantan dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari Majapahit tentang prospek penguasaan Tanah Jawa oleh bangsa Jepun yang datang dari arah pulau Kencana (Kalimantan).

Kalimantan dalam nama

Referensi

  1. ^ (Inggris) Charton, Barbara (2008). The Facts on File dictionary of marine science (ed. 2). Infobase Publishing. hlm. 203. ISBN 0816063834. ISBN 978-0-8160-6383-3
  2. ^ Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856)
  3. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2006). Sriwijaya. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 88. ISBN 9798451627. ISBN 978-979-8451-62-1
  4. ^ (Inggris) Raffles, Lady Sophia (1835). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles 2. J. Duncan. hlm. 396. 
  5. ^ (Inggris) Royal Institution of Great Britain (1817). The Quarterly journal of science and the arts 2. John Murray. hlm. 331. 
  6. ^ (Jerman) Christoph Friedrich von Ammon, Leonhard Bertholdt (1817). Kritisches Journal der neuesten theologischen Literatur 6. J. E. Seidel. hlm. 444. 
  7. ^ Kalimantan Rivers
  8. ^ Kalimantan – Indonesia
  9. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733. ISBn 0-945971-73-7
  10. ^ (Indonesia) Chambert-Loir, Henri; Wisamarta, Lukman (Khatib.) (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121. ISBN 9799100119.  ISBN 978-979-9100-11-5
  11. ^ (Indonesia) Zaini-Lajoubert, Monique (2008). Karya lengkap Abdullah bin Muhammad al-Misri: Bayan al-Asmaʾ, Hikayat Mareskalek, ʿArsy al-Muluk, Tuturan Siam, Hikayat tanah Bali. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 144. ISBN 9798116135.  ISBN 978-979-8116-13-1
  12. ^ (Inggris) Pinkerton, John; Samuel Vince (1806). Modern geography: A description of the empires, kingdoms, states, and colonies; with the oceans, seas, and isles in all parts of the world….. (ed. 2). T. Cadell. hlm. 478. 
  13. ^ (Inggris)East India Company, East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany 12. Wm. H. Allen & Co. hlm. 118. 
  14. ^ (Indonesia) Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9. ISBN 978-979-98014-1-8
  15. ^ http://www.statistics.gov.my/portal/download_Population/files/census2010/Taburan_Penduduk_dan_Ciri-ciri_Asas_Demografi.pdf
  16. ^ Orang Asing Minati Tarian Balikpapan
  17. ^ Balikpapan Punya Kesenian Lokal
  18. ^ Tarian Rindang Kumantis Diprotes
  19. ^ LAGALIGO di facebook.com
  20. ^ Deklarasi Lagaligo di Balikpapan
  21. ^ 2 Pekan Demonstrasi Pengaruhi Kerja DPRD Balikpapan
  22. ^ kota-lagaligo-dilarang-lakukan-kegiatan Walikota: Lagaligo Dilarang Lakukan Kegiatan
  23. ^ Gubernur Kaltim Larang Brigade Lagaligo Beraktivitas
  24. ^ Brimob Gagalkan Sweeping Warga Pendatang di Balikpapan
  25. ^ Ormas La Galigo Dibekukan
  26. ^ Etnis Cina Indonesia dalam Politik: Politik Etnis Cina Pontianak dan Singkawang di Era Reformasi 1998
  27. ^ FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota Singkawang
  28. ^ Dukung Keberadaan Tugu Naga, Massa Datangi DPRD Singkawang
  29. ^ Singkawang Siaga I, FPI-Polisi Bentrok di Tugu Nag
  30. ^ Ribuan Massa Saksikan Pembukaan Festival Borneo Jumat, 20 Mei 2011 | 15:40
  31. ^ Festival Borneo Palangka Raya 2011
  32. ^ Pagelaran Tari Festival Borneo di Pontianak tahun 2009
  33. ^ (Indonesia) Sanaji, Miftah. Seafood: Citarasa Kalimantan. PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792261990. ISBN 978-979-22-6199-8

Sumber :
kelaskaryawan.al-quran.co, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, diskusi.biz, dan lain sebagainya.


Page 16

Kalimantan yaitu sebuah wilayah di Pulau Kalimantan dibawah administrasi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah Kalimantan terletak di selatan pulau Kalimantan (yang juga disebut sebagai Borneo). Wilayah Kalimantan berbatasan dengan Sabah dan Sarawak di bidang utara, sedangkan di bidang timur berbatasan dengan Selat Karimata, di bidang selatan berbatasan dengan Laut Jawa, dan di sebelah timur berbatasan dengan Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Sebelum pemekaran pada tahun 1957 wilayah ini yaitu satu wilayah administratif/provinsi yang beribukota di Banjarmasin.

Latar belakang

Pada zaman Hindia-Belanda dan sebelumnya, Kalimantan merujuk kepada semuanya pulau yang diketahui sebagai Borneo yang meliputi Sabah, Sarawak, Brunei, dan daerah Kalimantan sekarang. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar kepada Residen Belanda di Banjarmasin pada tahun 1857, ia menyebut nama “Pulau Kalimantan”, bukan dengan sebutan “Pulau Borneo”. Ini memandukan bahawa di kalangan penduduk, nama “Kalimantan” bertambah umum dipakai daripada nama “Borneo” yang dipakai pada masa penjajahan Hindia Belanda.

Beberapa besar wilayah Kalimantan dari kota Sambas sehingga kota Berau yaitu kesan daerah Kerajaan Banjar, tetapi kini daerah itu menyusut dibuat bentuk menjadi beberapa kecil saja di wilayah Kalimantan Selatan masa kini setelah jatuh ke tangan kesultanan Brunei. Dengan kedatangan Inggris di Kalimantan, Inggris membedakan Sabah, Sarawak dari Kalimantan (termasuk Brunei). Ketika Sabah dan Sarawak dimasukkan ke dalam wilayah Malaysia, semuanya pulau dipanggil Borneo. Sampai sekarang pulau itu secara lebar disebut dengan “Borneo” daripada “Kalimantan”, dan kata “Kalimantan” sendiri bertambah umum diberikan definisi sebagai suatu wilayah di pulau Borneo yang dimiliki oleh Indonesia, walaupun dalam Bahasa Indonesia kata “Kalimantan” tetap mengacu kepada semuanya pulau.

Etimologi

Asal-usul nama Kalimantan tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan dipakai di Sarawak untuk menyebut kelompok penduduk yang mengonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini[1]. Menurut Crowfurd, kata Kalimantan yaitu nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan yaitu pulau mangga, namun beliau menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer.[2]. Mangga lokal yang disebut klemantan ini sampai sekarang banyak terdapat di perdesaan di daerah Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.

Menurut C. Hose dan Mac Dougall, “Kalimantan” bermula dari nama-nama enam golongan suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), Hose menjelaskan bahwa Klemantan yaitu nama baru yang dipakai oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang bermula dari India (malaya yang berarti gunung).

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan bermula dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut budaya tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akibatnya diturunkan dibuat bentuk menjadi Kalimantan.[3] Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk daerah timur pulau ini menyebutnya Pulu K’lemantan[4][5][6], orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан.

Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan bisa berarti “Sungai Intan”.[7][8][9]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Sebuah sungai di Kalsel dan transportasi airnya

Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga diketahui dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya “Bakulapura” yaitu taklukannya yang ada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta berarti pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu dibuat bentuk menjadi “Tanjungpura” berarti negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya “Tanjungnagara” yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.

Hikayat Banjar, sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri bermula dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang bertambah kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau “Hujung Tanah”. Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang mempunyai bentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus dengan daratan yang berujung di Tanjung Selatan yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bidang ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut “Ujung Tanah” dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara berarti pulau yang mempunyai bentuk tanjung/semenanjung.

Sebutan “Nusa Kencana” yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari masa kerajaan Kadiri (Panjalu), tentang akan dikuasainya Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana (Bumi Kencana). Memang terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu menduduki ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.

Sebutan-sebutan yang lain antara lain: “Pulau Banjar”[10][11], Raden Paku (kelak diketahui sebagai Sunan Giri) diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; “Jawa Besar” sebutan dari Marco Polo penjelajah dari Italia[12] atau dalam bahasa Arab[13]; dan “Jaba Daje” berarti “Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada abad ke-20.

Pembagian wilayah

Kalimantan dibagikan dibuat bentuk menjadi 5 buah wilayah atau provinsi:

Penduduk

Budaya

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Mengulur naga dalam pesta hukum budaya Erau, upacara hukum budaya suku Kutai.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Karakter naga dalam budaya Banjar.

Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser.[14] Sedangkan sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan dibuat bentuk menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar).[15] Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei sehingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati pesisir Kalteng, Kalsel sampai Kaltim. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati seluruh daerah pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa yang banyak di kota Singkawang bisa disamakan forum Cina Benteng yang bermukim di Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota di pulau Kalimantan ditempati secara politis oleh mayoritas suku-suku imigran seperti suku Hakka (Singkawang), suku Jawa (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tawau) dsb. Suku-suku imigran tersebut berusaha memasukkan unsur budayanya dengan alasan tertentu, padahal mereka tidak memiliki wilayaa hukum budaya dan tidak diakui sebagai suku asli Kalimantan, walaupun keberadaannya telah lama datang menyeberang ke pulau ini. Suku Bugis yaitu suku transmigran pertama menetap, ber-inkorporasi dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu (baca: kerajaan Islam) di Kalimantan. Beberapa waktu yang lalu suku Bugis, membawa ke atas seorang panglima hukum budaya untuk pulau Nunukan yang beroleh reaksi oleh lembaga hukum budaya suku-suku asli. Tari Rindang Kemantis yaitu gabungan tarian yang mengambil unsur seni beberapa etnis di Balikpapan seperti Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda[16] dianggap kurang menggambarkan keadaan budaya lokal sehingga beroleh protes lembaga hukum budaya suku-suku lokal.[17][18] Di Balikpapan pembentukan Brigade Lagaligo[19] sebuah organisasi kemasyarakatan warga perantuan asal Sulawesi Selatan dianggap provokasi dan ditentang ormas suku lokal.[20][21][22][23][24][25] Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang ke-2. Walikota Singkawang yang bermula dari suku Tionghoa membangun di pusat kota Singkawang sebuah patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditempatkan atau disembahyangi di kelenteng. Pembangunan patung naga ini yaitu simbolisasi hegemoni politik ECI Etnis Cina Indonesia dengan tidak memegang teguh keberadaan etnis pribumi di Singkawang sehingga beroleh protes oleh kelompok Front Pembela Islam, Front Pembela Melayu dan aliansi LSM. Penguatan dominasi politik ECI yaitu upaya revitalisasi negara Lan Fang[26] yang tentu saja akan didorong oleh suku-suku bukan ECI[27], namun di lain pihak, suku Dayak mendukung keberadaan patung naga tersebut.[28]. Dalam budaya Kalimantan karakter naga biasanya disandingkan dengan karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan dwitunggal semesta yaitu dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu.[29] Walaupun demikian beberapa budaya suku-suku Kalimantan yaitu hasil adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi unsur-unsur budaya dari luar misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, wayang kulit Banjar, benang bintik (batik Dayak Ngaju), ampik (batik Dayak Kenyah), tari zafin dsb.

Pada dasarnya budaya Kalimantan terbagi dibuat bentuk menjadi budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi kedua budaya ini setiap tahun ditampilkan dalam Festival Borneo yang ikuti oleh keempat provinsi di Kalimantan diselenggarakan bergiliran masing-masing provinsi.[30][31][32] Kalimantan kaya dengan budaya kuliner, diantaranya masakan sari laut.[33]

Kelompok etnis

Nama Kalimantan yang lain

  • Waruna Pura
  • Tanjungpura (Bakulapura)
  • Tanjung Negara yaitu sebutan untuk pulau Borneo oleh Kerajaan Majapahit. Kalimantan yaitu daerah taklukan Kerajaan Majapahit yang kelapan.
  • Hujung Tanah atau Ujung Tanah yaitu sebutan pulau Kalimantan dalam Hikayat Banjar dan Hikayat Raja-raja Pasai. Nampaknya, ini yaitu nama yang dipakai oleh penduduk Sumatera dan sekitarnya untuk menyebut pulau Kalimantan.
  • Pulau Kencana yaitu sebutan untuk pulau Kalimantan dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari Majapahit tentang prospek penguasaan Tanah Jawa oleh bangsa Jepun yang datang dari arah pulau Kencana (Kalimantan).

Kalimantan dalam nama

Referensi

  1. ^ (Inggris) Charton, Barbara (2008). The Facts on File dictionary of marine science (ed. 2). Infobase Publishing. hlm. 203. ISBN 0816063834. ISBN 978-0-8160-6383-3
  2. ^ Descriptive Dictionary of the Indian Island (1856)
  3. ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2006). Sriwijaya. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 88. ISBN 9798451627. ISBN 978-979-8451-62-1
  4. ^ (Inggris) Raffles, Lady Sophia (1835). Memoir of the life and public services of Sir Thomas Stamford Raffles 2. J. Duncan. hlm. 396. 
  5. ^ (Inggris) Royal Institution of Great Britain (1817). The Quarterly journal of science and the arts 2. John Murray. hlm. 331. 
  6. ^ (Jerman) Christoph Friedrich von Ammon, Leonhard Bertholdt (1817). Kritisches Journal der neuesten theologischen Literatur 6. J. E. Seidel. hlm. 444. 
  7. ^ Kalimantan Rivers
  8. ^ Kalimantan – Indonesia
  9. ^ (Inggris)MacKinnon, Kathy (1996). The ecology of Kalimantan. Oxford University Press. ISBN 9780945971733. ISBn 0-945971-73-7
  10. ^ (Indonesia) Chambert-Loir, Henri; Wisamarta, Lukman (Khatib.) (2004). Kerajaan Bima dalam sastra dan sejarah. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 121. ISBN 9799100119.  ISBN 978-979-9100-11-5
  11. ^ (Indonesia) Zaini-Lajoubert, Monique (2008). Karya lengkap Abdullah bin Muhammad al-Misri: Bayan al-Asmaʾ, Hikayat Mareskalek, ʿArsy al-Muluk, Tuturan Siam, Hikayat tanah Bali. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 144. ISBN 9798116135.  ISBN 978-979-8116-13-1
  12. ^ (Inggris) Pinkerton, John; Samuel Vince (1806). Modern geography: A description of the empires, kingdoms, states, and colonies; with the oceans, seas, and isles in all parts of the world….. (ed. 2). T. Cadell. hlm. 478. 
  13. ^ (Inggris)East India Company, East India Company (1821). The Asiatic journal and monthly miscellany 12. Wm. H. Allen & Co. hlm. 118. 
  14. ^ (Indonesia) Haris, Syamsuddin (2004). Desentralisasi dan otonomi daerah: Naskah akademik dan RUU usulan LIPI. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 188. ISBN 979-98014-1-9. ISBN 978-979-98014-1-8
  15. ^ http://www.statistics.gov.my/portal/download_Population/files/census2010/Taburan_Penduduk_dan_Ciri-ciri_Asas_Demografi.pdf
  16. ^ Orang Asing Minati Tarian Balikpapan
  17. ^ Balikpapan Punya Kesenian Lokal
  18. ^ Tarian Rindang Kumantis Diprotes
  19. ^ LAGALIGO di facebook.com
  20. ^ Deklarasi Lagaligo di Balikpapan
  21. ^ 2 Pekan Demonstrasi Pengaruhi Kerja DPRD Balikpapan
  22. ^ kota-lagaligo-dilarang-lakukan-kegiatan Walikota: Lagaligo Dilarang Lakukan Kegiatan
  23. ^ Gubernur Kaltim Larang Brigade Lagaligo Beraktivitas
  24. ^ Brimob Gagalkan Sweeping Warga Pendatang di Balikpapan
  25. ^ Ormas La Galigo Dibekukan
  26. ^ Etnis Cina Indonesia dalam Politik: Politik Etnis Cina Pontianak dan Singkawang di Era Reformasi 1998
  27. ^ FPI Akan Bongkar Patung Naga di Kota Singkawang
  28. ^ Dukung Keberadaan Tugu Naga, Massa Datangi DPRD Singkawang
  29. ^ Singkawang Siaga I, FPI-Polisi Bentrok di Tugu Nag
  30. ^ Ribuan Massa Saksikan Pembukaan Festival Borneo Jumat, 20 Mei 2011 | 15:40
  31. ^ Festival Borneo Palangka Raya 2011
  32. ^ Pagelaran Tari Festival Borneo di Pontianak tahun 2009
  33. ^ (Indonesia) Sanaji, Miftah. Seafood: Citarasa Kalimantan. PT Gramedia Pustaka Utama. ISBN 9792261990. ISBN 978-979-22-6199-8

Sumber :
kelaskaryawan.al-quran.co, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, diskusi.biz, dan lain sebagainya.


Page 17

Kalimantan Selatan
—  Provinsi  —
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Dari kiri ke kanan: Taman Cahaya Bumi Selamat Martapura, Pasar Terapung Banjarmasin, Kantor Gubernur Kalimantan Selatan, Rumah Banjar, Jembatan Barito dan Bamboo Rafting Loksado

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Lambang

Slogan: Haram Manyarah Waja Hingga Kaputing
(Bahasa Banjar: Tetap bersemangat dan kukuh seperti baja dari awal hingga akhir)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Peta lokasi Kalimantan Selatan

Negara Indonesia
Hari jadi 14 Agustus 1950
Ibu kota Banjarmasin
Koordinat 5º 20′ – 1º 10′ LS
114º 0′ – 117º 40′ BT
Pemerintahan
 • Gubernur Drs. H. Rudy Ariffin
Lebar
 • Total 37.530.52 km2 (14,490.61 mil²)
Populasi (2010 [1])
 • Total 3.626.616
 • Kepadatan Bad rounding here97/km2 (Bad rounding here250/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Banjar (76,34%)
Jawa (13,14%)
Bugis (2,45%)
Madura (1,22%)
Bukit (1,20%)
Lain-lain (5,63%) [2]
 • Agama Islam (96,67%)
Kristen (1,32%)
Katolik (0,44%)
Hindu (0,44%)
Buddha (0,32%)
Lain-lain (0,80%)[3]
 • Bahasa Bahasa Banjar (bjn), Bahasa Indonesia (id)
Zona waktu WITA
Kabupaten 11
Kota 2
Kecamatan 138
Gampong/kelurahan 1.958
Lagu kawasan Ampar-ampar Pisang, Paris Barantai
Situs web www.kalselprov.go.id

Kalimantan Selatan yaitu salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Kalimantan. Ibu kotanya yaitu Banjarmasin. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki lebar 37.530,52 km²[4] dan berpenduduk ± hampir mencapai 3,7 juta jiwa.

Provinsi ini mempunyai 11 kabupaten dan 2 kota. DPRD Kalimantan Selatan dengan surat keputusan No. 2 Tahun 1989 tanggal 31 Mei 1989 menetapkan 14 Agustus 1950 sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan. Tanggal 14 Agustus 1950 melalui Peraturan Pemerintah RIS No. 21 Tahun 1950, adalah tanggal dibentuk bentuknya provinsi Kalimantan, setelah pembubaran Republik Indonesia Serikat (RIS), dengan gubernur Dokter Moerjani. Penduduk Kalimantan Selatan berjumlah 3.626.616 jiwa (2010).[5]

Sejarah

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Perangko Republik Indonesia (2010).

Kawasan Kalimantan Selatan pada masa lalu adalah anggota dari 3 kerajaan akbar yang pernah memiliki wilayah di kawasan ini, yakni Kerajaan Negara Daha, Negara Dipa, dan Kesultanan Banjar. Setelah Indonesia merdeka, Kalimantan dijadikan provinsi tersendiri dengan Gubernur Ir. Pangeran Muhammad Noor. Sejarah pemerintahan di Kalimantan Selatan juga diwarnai dengan terbentuknya organisasi Angkatan Laut Republik Indonesia ( ALRI ) Divisi IV di Mojokerto, Jawa Timur yang mempersatukan tenaga dan pejuang asal Kalimantan yang berada di Jawa. Dengan ditandatanganinya Akad Linggarjati menyebabkan Kalimantan terpisah dari Republik Indonesia. Dalam keadaan ini pemimpin ALRI IV mengambil langkah untuk kedaulatan Kalimantan sebagai anggota wilayah Indonesia, melalui suatu proklamasi yang ditandatangani oleh Gubernur ALRI Hasan Basry di Kandangan 17 Mei 1949 yang kontennya menyatakan bahwa rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan memaklumkan berdirinya pemerintahan Gubernur tentara ALRI yang melingkupi seluruh wilayah Kalimantan Selatan (dan tengah). Wilayah itu dinyatakan sebagai anggota dari wilayah RI berdasarkan Proklamasi kemerdekaaan 17 agustus 1945. Upaya yang diperllihatkan dianggap sebagai upaya tandingan atas dibentuk bentuknya Dewan Banjar oleh Belanda.

Menyusul kembalinya Indonesia ke bentuk negara kesatuan kehidupan pemerintahan di kawasan juga mengalamai penataaan. Di wilayah Kalimantan, penataan selang lain berupa pemecahan kawasan Kalimantan dijadikan 3 provinsi masing-masing Kalimantan Barat, Timur dan Selatan yang dituangkan dalam UU No.25 Tahun 1956. Berdasarkan UU No.21 Tahun 1957, sebagian akbar kawasan sebelah barat dan utara wilayah Kalimantan Selatan dijadikan Provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan UU No.27 Tahun 1959 memisahkan anggota utara dari kawasan Kabupaten Kotabaru dan memasukkan wilayah itu ke dalam kekuasaan Provinsi Kalimantan Timur. Sejak saat itu Provinsi Kalimantan Selatan tidak lagi mengalami perubahan wilayah, dan tetap seperti beradanya. Adapun UU No.25 Tahun 1956 yang adalah dasar pembentukan Provinsi Kalimantan Selatan kemudian diperbaharui dengan UU No.10 Tahun 1957 dan UU No.27 Tahun 1959.

Kondisi dan sumber daya dunia

Geografi

Secara geografis, Kalimantan Selatan berada di anggota tenggara pulau Kalimantan, memiliki kawasan dataran rendah di anggota barat dan pantai timur, serta dataran tinggi yang dibentuk bentuk oleh Pegunungan Meratus di tengah.

Keanekaragaman hayati

Kalimantan Selatan terdiri atas dua ciri geografi utama, yakni dataran rendah dan dataran tinggi. Kawasan dataran rendah biasanya berupa lahan gambut hingga rawa-rawa sehingga kaya akan sumber keanekaragaman hayati satwa cairan tawar. Kawasan dataran tinggi sebagian masih adalah hutan tropis alami dan dilindungi oleh pemerintah.

Sumber Daya Dunia

Kehutanan: Hutan Tetap (139.315 ha), Hutan Produksi (1.325.024 ha), Hutan Lindung (139.315 ha), Hutan Konvensi (348.919 ha) Perkebunan: Perkebunan Negara (229.541 ha) Bahan Galian: batu bara, minyak, pasir kwarsa, biji besi, dllnya[6]

Kependudukan

Suku bangsa

Penduduk asli Kalimantan Selatan yaitu Suku Banjar yang adalah mayoritas dari total penduduk. Suku pendatang yang signifikan jumlahnya di Kalimantan Selatan yaitu Suku Jawa, Suku Bugis dan Suku Madura.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Selatan berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[7]

Bahasa

Bahasa yang dipakai dalam keseharian yaitu Bahasa Banjar yang memiliki dua dialek akbar, yakni dialek Banjar Kuala dan dialek Banjar Hulu. Di kawasan Pegunungan Meratus juga dinyatakan Bahasa Bukit

Agama

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Masjid Sultan Suriansyah, Masjid Tertua di Kalimantan Selatan

Islam yaitu agama mayoritas yang dianut bertambah kurang 97% masyarakat Kalimantan Selatan. Selain itu berada juga yang sangat memuja-muja Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha yang dianut masyarakat pendatang serta Kepercayaan Kaharingan yang dianut masyarakat kawasan Pegunungan Meratus.

Pemerintahan

Sejak tanggal 14 Agustus 2011, keaktifan pemerintahan Kalimantan Selatan beralih dari Kota Banjarmasin ke Kota Banjarbaru

Daftar Kabupaten dan Kota

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Selatan dengan motif Rumah Bubungan Tinggi. Kawasan ini dahulu lokasi rumah Residen Belanda yang dinamakan Kampung Amerongan

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Selatan dengan motif Rumah Bubungan Tinggi. Pada perlintasan raya di hadapannya terletak tugu batu 0 km Banjarmasin

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Residen Belanda di Kampung Amerong (sekarang lokasi Kantor Gubernur Kalsel)

Provinsi Kalimantan Selatan dipandu oleh seorang gubernur yang dipilih dalam pemilihan secara terus bersama dengan wakilnya untuk masa jabatan 5 tahun. Gubernur selain sebagai pemerintah kawasan juga mempunyai peran sebagai perwakilan atau perpanjangan tangan pemerintah pusat di wilayah provinsi yang kewenangannya diatur dalam Undang-undang nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2010.

Sementara hubungan pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten dan kota bukan subordinat, masing-masing pemerintahan kawasan tersebut mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

Daftar gubernur

Mulai dari 1945-1957 gubernur memimpin provinsi Kalimantan

Selanjutnya tahun 1957 provinsi Kalimantan diwarisi oleh Provinsi Kalimantan Selatan yang tetap beribukota di Banjarmasin.

Perwakilan

Berdasarkan Pemilu Legislatif 2009, Kalimantan Selatan mengirimkan 11 wakil ke DPR RI dari dua kawasan pemilihan dan empat wakil ke DPD. Sedangkan untuk DPRD Kalimantan Selatan tersusun dari perwakilan sepuluh partai, dengan perincian sebagai berikut:

Kawasan Pemilihan DPR RI 2009

Kawasan Pemilihan DPR RI tahun 2009 (Bahasa Melayu: Kawasan Parlemen) adalah:

  1. Kalimantan Selatan 1: Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tabalong, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara
  2. Kalimantan Selatan 2: Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru

Dewan Perwakilan Kawasan

Anggota Dewan Perwakilan Kawasan yang bersumber dari Kalimantan Selatan adalah:

  • Adhariani[9]
  • Gusti Farid Hasan Terjamin[9]
  • Habib Hamid Abdullah[9]
  • Mohammad Sofwat Hadi[9]

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan 2009

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan (Bahasa Melayu: Dewan Undangan Negeri) adalah:

Nomor Kawasan Jumlah kursi
Kalimantan Selatan 1 Banjarmasin 10 kursi
Kalimantan Selatan 2 Banjar, Banjarbaru 10 kursi
Kalimantan Selatan 3 Barito Kuala 5 kursi
Kalimantan Selatan 4 Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah 10 kursi
Kalimantan Selatan 5 Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong 8 kursi
Kalimantan Selatan 6 Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru 12 kursi

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan 2014

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan (Bahasa Melayu: Dewan Undangan Negeri) adalah:

Nomor Kawasan Jumlah kursi
Kalimantan Selatan 1 Kota Banjarmasin 8 kursi
Kalimantan Selatan 2 Banjar 9 kursi
Kalimantan Selatan 3 Barito Kuala 4 kursi
Kalimantan Selatan 4 Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah 9 kursi
Kalimantan Selatan 5 Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong 9 kursi
Kalimantan Selatan 6 Tanah Bumbu, Kotabaru 8 kursi
Kalimantan Selatan 7 Tanah Laut, Kota Banjarbaru 8 kursi

Pendidikan

Kota Banjarmasin

  • (Sekolah Tinggi Pengetahuan Ekonomi)STIE Panca setia Banjarmasin.

Kabupaten Tanah Bumbu

  • Sekolah Tinggi Pengetahuan Kesehatan (STIKes) Darul Azhar Batulicin

Kabupaten Tapin

  • Politeknik Islam Syekh Salman Al-Farisi Rantau

Kabupaten Kotabaru

Kabupaten Tanah Laut

  • Politeknik Industri Tanah Laut

Kota Banjarbaru

  • Akademi Kebidanan Banjarbaru
  • Akademi Kebidanan YAPKESBI Banjarbaru
  • STMIK Banjarbaru

Kabupaten Banjar

  • Akademi Kebidanan Martapura
  • Akademi Keperawatan Intan Martapura
  • Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Martapura

Kabupaten Hulu Sungai Tengah

  • Akademi Keperawatan Barabai
  • Akademi Manajemen Koperasi Barabai

Perekonomian

Tenaga kerja

Sektor pertanian adalah sektor yang paling jumlah menyerap tenaga kerja. Pada bulan Februari 2012 tercatat sebanyak 38,20 persen tenaga kerja diserap sektor pertanian. Sektor perdagangan yaitu sektor kedua terbesar dalam penyerapan tenaga kerja, yaitu sebesar 20,59 persen. Status pekerja di Kalimantan Selatan masih didominasi oleh pekerja yang bertugas di sektor informal. Pada Februari 2012 sebanyak 63,20 persen yaitu pekerja di sektor informal. Sebagian akbar dari pekerja tersebut berstatus berusaha sendiri (19,66 persen), berusaha ditolong buruh berubah-ubah (18,92 persen) serta pekerja lepas sama sekali dan pekerja tak dibayar (24,61 persen). Pekerja di sektor formal tercatat sebanyak 36,80 persen yaitu terdiri dari pekerja dengan status buruh/karyawan (33,35 persen) dan status berusaha ditolong dengan buruh tetap (3,45 persen).[11]

Pertanian & Perkebunan

Hasil utama pertanian yaitu padi, di samping jagung, ubi kayu dan ubi jalar. Sedangkan buah-buahan terdiri dari jeruk, pepaya, pisang, durian, rambutan, kasturi dan langsat.[12] Untuk perkebunan yaitu kelapa sawit.

Industri

Industri di Kalimantan Selatan didominasi oleh industri manufaktur mikro dan kecil, disusul oleh industri manufaktur akbar dan sedang.[13] Hingga pada tahun 2010, jumlah unit usaha berjumlah 60.432 unit, meningkat 10,92% dibandingkan pada tahun 2009.[14]

Perbuatan baik

Pertambangan

Pertambangan didominasi batu bara, di samping minyak bumi, emas, intan, kaloin, marmer, dan batu-batuan.[12]

Ekspor & Impor

Keuangan & Perbankan

Ditinjau kinerjanya pada tahun 2009, perbankan di Kalimantan Selatan mencatat pertumbuhan yang bertambah rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebagai imbas krisis finansial global. Namun demikian sebagian indikator masih mencatat pertumbuhan yang positif. Volume usaha perbankan (asset) Kalsel tumbuh 13,3% dari akhir tahun 2008 sehingga mencapai Rp21,24 triliun. Pertumbuhan asset ini terutama ditunjang oleh pertumbuhan kredit dan DPK.

Dana masyarakat yang dihimpun perbankan Kalsel pada akhir tahun 2009 mencapai Rp18,33 triliun atau tumbuh 13% (y-o-y). seluruh jenis rekening dalam bentuk giro, tabungan, maupun deposito menunjukkan pertumbuhan yang positif yakni masing-masing sebesar 10,51% (y-o-y), 17% (y-o-y), dan 5,86% (y-o-y).

Sementara itu dari sisi penyaluran kredit, pada akhir Desember 2009 jumlah kredit yang disalurkan mencapai Rp13,95 triliun atau tumbuh 16% (y-o-y). pertumbuhan kredit ini terutama ditunjang oleh kredit kebutuhan hidup dan kredit investasi yang tumbuh cukup tinggi yakni sebesar 24,81% (y-o-y) dan 30,42% (y-o-y).

Dengan perkembangan tersebut, fungsi intermediasi perbankan yang dicerminkan oleh rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) pada tahun 2009 menunjukkan peningkatan yaitu dari 74% pada tahun 2008 dijadikan 75,7%. Sementara itu, berkat kerja keras semua pihak yang berwenang, resiko kredit pada tahun 2009 terjaga pada level yang terjamin yakni dengan rasio NPL sebesar 2,14% bertambah rendah dari rasio NPL pada akhir tahun 2008 yang mencapai 4,76%.[15]

Jumlah lembaga perbankan di Kalimantan Selatan terdiri dari 15 bank umum konvensional, 6 bank umum syariah, 24 bank perkreditan rakyat (BPR) serta 1 BPR Syariah, dengan jaringan sebanyak 196 kantor, dan dukungan 123 ATM.[12]

Transportasi

Pariwisata

Sektor pariwisata adalah peluang usaha yang potensial di Kalimantan Selatan karena jumlah objek-objek wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan, adun dari dalam negeri mau pun dari mancanegara.[16]

Kalimantan Selatan memiliki hampir semua jenis objek wisata dunia seperti laut, pantai, danau, dan gunung. Selain itu pariwisata Kalimantan Selatan juga jumlah menjual muslihat budinya yang khas, seperti Festival Pasar Terapung, Festival Tanglong, dll. Disamping wisata dunia dan muslihat budi, Kalimantan Selatan juga terkenal dengan wisata kulinernya.

Olahraga

Musik

Tarian tradisional

Secara garis akbar seni tari dari Kalimantan Selatan yaitu dari hukum budaya muslihat budi etnis Banjar dan etnis Dayak. Tari Banjar berkembang sejak masa Kesultanan Banjar dan dipengaruhi oleh muslihat budi Jawa dan Melayu, contohnya Tari Japin dan Tari Baksa Kembang.

Rumah Hukum budaya

Rumat hukum budaya Kalimantan Selatan yaitu Rumah Banjar dengan ikon utamanya yaitu Bubungan Tinggi.

Konsumsi dan Minuman

Setiap kawasan di Kalimantan Selatan, memiliki konsumsi sebagai ciri-ciri khas kawasan, seperti kawasan Hulu Sungai Selatan dengan dodol dan ketupat khas kandangan-nya, Barabai dengan apam dan kacang jaruk, Amuntai dengan kuliner dari daging itik, Martapura dengan kelepon buntut, dan Binuang dengan olahan pisang sale yang dikata rimpi, Soto Banjar, Sate Itik, Nasi Kuning, dll.

Bahasa Kawasan

Bahasa yang dipakai dalam keseharian yaitu Bahasa Banjar yang memiliki dialek Banjar Kuala dan Banjar Hulu. Di kawasan Pegunungan Meratus juga dinyatakan Bahasa Bukit.

Kawasan Pemilihan DPR RI 2009

Kawasan Pemilihan DPR RI tahun 2009 (Bahasa Melayu: Kawasan Parlemen) adalah:

  1. Kalimantan Selatan 1: Banjar, Barito Kuala, Tapin, Tabalong, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara
  2. Kalimantan Selatan 2: Kota Banjarmasin, Banjarbaru, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru

Dewan Perwakilan Kawasan

Anggota Dewan Perwakilan Kawasan yang bersumber dari Kalimantan Selatan adalah:

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan 2009

Kawasan Pemilihan DPRD Kalimantan Selatan (Bahasa Melayu: Dewan Undangan Negeri) adalah:

Nomor Kawasan Jumlah kursi
Kalimantan Selatan 1 Banjarmasin 10 kursi
Kalimantan Selatan 2 Banjar, Banjarbaru 10 kursi
Kalimantan Selatan 3 Barito Kuala 5 kursi
Kalimantan Selatan 4 Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah 10 kursi
Kalimantan Selatan 5 Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong 8 kursi
Kalimantan Selatan 6 Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru 12 kursi

Seni dan Muslihat budi

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Gedung Sultan Suriansyah tempat pementasan muslihat budi Kal-Sel.

Tarian suku Banjar:

  • Baksa Kambang
  • Radap Rahayu
  • Kuda Gepang
  • Tarian suku Banjar lainnya

Tarian suku Dayak Bukit:

  • Tari Tandik Balian
  • Tari Babangsai (tarian ritual, penari wanita)
  • Tari Kanjar (tarian ritual, penari pria)

Lagu

Lagu Kawasan suku Banjar selang lain:

  • Ampar-ampar Pisang
  • Sapu Tangan Babuncu Ampat
  • Paris Barantai
  • Lagu kawasan Banjar lainnya

Rumah Hukum budaya

  • Rumah Hukum budaya Suku Banjar dikata Rumah Bubungan Tinggi
  • Rumah Hukum budaya Suku Dayak Bukit dikata Balai

Pakaian Hukum budaya

  • Pakaian Pengantin Suku Banjar berada 4 jenis, yaitu:
    • Pengantin Bagajah Gamuling Baular Lulut
    • Pengantin Baamar Galung Pancar Matahari
    • Pengantin Babaju Kun Galung Pacinan
    • Pangantin Babaju Kubaya Panjang
  • Pakaian Pemuda-pemudi berada 2 jenis, yaitu:
    • Pakaian Nanang
    • Galuh Banjar

Pariwisata dan peninggalan sejarah

Rujukan

  1. Feuilletau de Bruyn, W.K.H.; Bijdrage tot de kennis van de Afdeeling Hoeloe Soengai, (Zuider a Ooster Afdeeling van Borneo), 19–.
  2. Broersma, R.;Handel en Bedrijf in Zuiz Oost Borneo, S’Gravenhage, G. Naeff, 1927.
  3. Eisenberger, J.; Kroniek de Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo, Bandjermasin, Drukkerij Lim Hwat Sing, 1936.
  4. H.Mahmud, ; Banjaran
  5. Bondan, A.H.K.; Suluh Sedjarah Kalimantan, Padjar, Banjarmasin, 1953.
  6. Ras, J.J.; Hikajat Bandjar, A study in Malay Histiography, N.V. de Ned. Boeken, Steen Drukkerij van het H.L. Smits S’Graven hage, 1968.
  7. Heekeren, C. van.; Helen, Hazen en Honden Zuid Borneo 1942, Den Haag, 1969.
  8. Riwut, Tjilik; Kalimantan Memanggil, Penerbit Endang, Djakarta.
  9. Saleh, Idwar; SEJARAH DAERAH TEMATIS Zaman Kebangkitan Nasional (1900-1942) di Kalimantan Selatan, Depdikbud, Jakarta, 1986.
  10. M. P. Lambut, Kalimantan Selatan (Indonesia). Inspektorat, Mewujudkan good governance di Kalimantan Selatan: himpunan akal urang Banua, PT LKiS Pelangi Aksara, 2007, ISBN 979-3381-26-4, 9789793381268

Pranala luar

Referensi

Sumber :
id.wikipedia.org, m.andrafarm.com, kelaskaryawan.kpt.co.id, wiki.edunitas.com, dan lain sebagainya.


Page 18

Kalimantan Timur
Kaltim
—  Provinsi  —
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Lambang

Slogan: Ruhui Rahayu
(Bahasa Banjar: “kehidupan yang harmonis, damai sejahtera, aman dan tenteram”)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Peta lokasi Kalimantan Timur

Negara Indonesia
Hari telah tersedia 9 Januari 1957
Landasan hukum UU No. 25 Tahun 1956
Ibu kota Samarinda
Pemerintahan
 • Gubernur Awang Faroek Ishak
 • Wakil Gubernur Mukmin Faisyal
Luas
 • Total 129.066.64 km2 (49,832.91 mil²)
 • Perairan 10.217 km2 (3,945 mil²)  4,2%
Populasi (2010)
 • Total 3,043,689 (18)
 • Kepadatan 14/km2 (40/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Jawa (29,55%)
Bugis (18,26%)
Banjar (13,94%)
Dayak (9,91%)
Kutai (9,21%)
Toraja (1,96%)
Sunda 1,59%)
Madura (1,24%)
Tionghoa (1,16%)
Lain-lain (13,18%)[1]
 • Agama Islam (87,62%)
Kristen (Protestan & Katolik) (11,96%)
Hindu (0,18%)
Budha (0,24%)
 • Bahasa Indonesia
Kutai
Dayak
Banjar
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kabupaten 7
Kota 3
Kecamatan 122
Gampong/desa 191/1.347
Lagu kawasan Indung-Indung
Rumah tradisional Rumah Lamin
Senjata tradisional Mandau, Bujak, Serepang, Kelibit, Sumpit, Gayang
Situs web www.kaltimprov.go.id

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim yaitu sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Luas total Kaltim yaitu 129.066,64 km² dan populasi sebesar 3.6 juta. Kaltim adalah wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di nusantara. Ibukotanya yaitu Samarinda.

Sebelum pemekaran Provinsi Kalimantan Utara, Kaltim adalah provinsi terluas kedua di Indonesia, dengan luas sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia.

Sejarah

Wilayah Kalimantan Timur dahulu mayoritas yaitu hutan hujan tropis. Penduduk aslinya yaitu Suku Dayak. Terdapat beberapa kerajaan yang mempunyai di Kalimantan Timur, diantaranya yaitu Kerajaan Kutai (beragama Hindu), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir dan Kesultanan Bulungan.

Wilayah Kalimantan Timur meliputi Pasir, Kutai, Berau dan juga Karasikan (Buranun/pra-Kesultanan Sulu) diklaim sebagai wilayah taklukan Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit di Negara Dipa (yang bermarkas di Candi Besar di Amuntai) sampai tahun 1620 di masa Kesultanan Banjar. Selang tahun 1620-1624, negeri-negeri di Kaltim menjadi kawasan pengaruh Sultan Alauddin dari Kesultanan Makassar, sebelum mempunyainya janji Bungaya.[2] Menurut Hikayat Banjar Sultan Makassar pernah meminjam tanah untuk tempat berdagang meliputi wilayah timur dan tenggara Kalimantan kepada Sultan Mustain Billah dari Banjar sewaktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan menyebabkan mempunyai janji dengan Sultan Tallo I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang[3], yang menjadi mangkubumi dan penasehat utama untuk Sultan Muhammad Said, Raja Gowa tahun 1638-1654 dan juga mertua Sultan Hasanuddin[4][5] yang akan memperbaiki wilayah Kalimantan Timur sebagai tempat berdagang untuk Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)[3] sejak itulah mulai berdatanganlah etnis asal Sulawesi Selatan. Namun berdasarkan Janji Kesultanan Banjar dengan VOC pada tahun 1635, VOC membantu Banjar mengembalikan negeri-negeri di Kaltim menjadi wilayah pengaruh Kesultanan Banjar. Hal tersebut diwujudkan dalam janji Bungaya, bahwa Kesultanan Makassar dilarang berdagang sampai ke timur dan utara Kalimantan.

Berdasarkan traktat 1 Januari 1817, Sultan Sulaiman dari Banjar menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimatan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia-Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826, Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. [6] Pada tahun 1846, Belanda mulai menyilakan duduk Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur (sekarang provinsi Kalimantan Timur dan bagian timur Kalimantan Selatan) bernama H. Von Dewall. [7] Kaltim adalah bagian dari Hindia Belanda.[8] Kaltim 1800-1850.[9] Dalam tahun 1879, Kaltim dan Tawau adalah Ooster Afdeeling van Borneo bagian dari Residentie Zuider en Oosterafdeeling van Borneo. [10] Dalam tahun 1900, Kaltim adalah zelfbesturen (wilayah dependensi)[11] Dalam tahun 1902, Kaltim adalah Afdeeling Koetei en Noord-oost Kust van Borneo.[12][13] Tahun 1942 Kaltim adalah Afdeeling Samarinda dan Afdeeling Boeloengan en Beraoe.[14]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Pembentukan Provinsi Kalimantan Timur

Provinsi Kalimantan Timur selain sebagai kesatuan administrasi, juga sebagai kesatuan ekologis dan historis. Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan gubernurnya yang pertama yaitu APT Pranoto.

Sebelumnya Kalimantan Timur adalah salah satu karesidenan dari Provinsi Kalimantan. Berdasarkan dengan aspirasi rakyat, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2012, kembali terjadi pemekaran wilayah yang ditandai dengan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Daerah-daerah Tingkat II di dalam wilayah Kalimantan Timur, dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959, Tentang Pembentukan Kawasan Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9).

Lembaran Negara No.72 Tahun 1959 terdiri atas:

  • Pembentukan 2 kotamadya, yaitu:
  1. Kotamadya Samarinda, dengan Kota Samarinda sebagai ibukotanya dan sekaligus sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, dengan kota Balikpapan sebagai ibukotanya dan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur.
  • Pembentukan 4 kabupaten, yaitu:

Pembentukan Kota dan Kabupaten Baru

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Berdarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1981, maka dibentuk Kota Administratif Bontang di wilayah Kabupaten Kutai dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1989, maka dibentuk pula Kota Madya Tarakan di wilayah Kabupaten Bulungan. Dalam Perkembangan lebih lanjut berdasarkan dengan ketetapan di dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Kawasan, maka dibentuk 2 Kota dan 4 kabupaten, yaitu:

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2002, maka Kabupaten Pasir mengalami pemekaran dan pemekarannya bernama Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pada tanggal 17 Juli 2007, DPR RI sepakat menyetujui berdirinya Tana Tidung sebagai kabupaten baru di Kalimantan Timur, maka banyak semuanya kabupaten/kota di Kalimantan Timur menjadi 14 wilayah. Pada tahun yang sama, nama Kabupaten Pasir berubah menjadi Kabupaten Paser berdasarkan PP No. 49 Tahun 2007.

Pada tanggal 25 Oktober 2012, DPR RI membenarkan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara yang adalah pemekaran dari Kalimantan Timur. Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan menjadi wilayah provinsi baru tersebut, sehingga banyak kabupaten dan kota di Kalimantan Timur berkurang menjadi 9 wilayah.

Geografi

Kaltim berbatasan terus dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur. Di sebelah barat, utara dan selatan, Kaltim berbatasan terus dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Titik tertinggi di Kaltim yaitu Liangpran dengan ketinggian mencapai 2.240 meter dari permukaan laut.

Iklim

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Citra satelit Kaltim ketika musim kemarau.

Iklim di Kaltim yaitu iklim tropis, terutama di kawasan pesisir yang disebabkan oleh pengaruh Angin Monsun.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Salah satu kawasan hutan hujan tropis di Pujungan, Malinau.

Bentang lingkungan kehidupan Kaltim biasanya kasar dan bergelombang, beberapa besar tertutup oleh hutan, dan memiliki tepi pantai sepanjang lebih dari 1.185 km[15]. Bagian paling utara wilayah ini, di mana pada setiap bulan Juni, matahari bersinar lebih lama beberapa menit dan setiap bulan Desember, matahari bersinar lebih cepat.[16]

Keanekaragaman Hayati

Kalimantan Timur memiliki kekayaan flora dan fauna.[17] Di Kalimantan Timur agak tumbuh sekitar 1000-189.000 golongan tumbuhan, diantaranya anggrek hitam yang nilai per bunganya dapat mencapai Rp, 100.000,- sampai Rp, 500.000,-

Sumber Energi Lingkungan kehidupan

Masalah sumber energi lingkungan kehidupan di sini terutama yaitu penebangan hutan ilegal yang memusnahkan hutan hujan, selain itu Taman Nasional Kutai yang mempunyai di Kabupaten Kutai Timur ini juga dirambah hutannya. Kurang dari setengah hutan hujan yang masih tersisa, seperti Taman Nasional Kayan Mentarang di bagian utara provinsi ini. Pemerintah lokal masih berusaha untuk membubarkan kebiasaan yang merusak ini.

Politik

Gubernur

Saat ini Gubernur dijabat oleh Awang Faroek Ishak. Ia mencalonkan diri sebagai menjadi Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2008 dan akhir-akhirnya terpilih pada putaran kedua dan dilantik pada 17 Desember 2008.

Pembantu Gubernur

Selanjutnya sebagai perpanjangan tangan dari Gubernur Kepala Dearah Provinsi Kalimantan Timur dalam mengelola Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan di kawasan ini, dibentuk 2 (dua) Pembantu Gubernur yang bekerja Mengkoordinir Wilayah Utara dan Wilayah Selatan, yaitu:

Yang belakang sekali institusi dua Pembantu Gubernur Kalimantan Timur Wilayah Selatan dan Utara tersebut telah dihilangkan sejak tahun 1999. Kemahiran penghapusan institusi ini semata-mata untuk memadai ketetapan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

Pembagian administratif

Setelah pembentukan provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur kini terbagi menjadi 7 kabupaten dan 3 kota, selang lain:

Perekonomian

Hasil utama provinsi ini yaitu hasil tambang seperti minyak, gas lingkungan kehidupan dan batu bara. Sektor tidak sama yang kini sedang mengembang yaitu agrikultur, pariwisata dan industri pengolahan.

Beberapa kawasan seperti Balikpapan dan Bontang mulai mengembangkan kawasan industri beragam bagian demi mempercepat pertumbuhan perekonomian. Sementara kabupaten-kabupaten di Kaltim kini mulai membentangkan wilayahnya untuk dibuat perkebunan seperti kelapa sawit dan sebagainya.

Kalimantan Timur memiliki beberapa pusat pariwisata yang menarik seperti kepulauan Derawan di Berau, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Pantai Batu Lamampu di Nunukan, peternakan buaya di Balikpapan, peternakan rusa di Penajam, Kampong Dayak Pampang di Samarinda, Pantai Amal di Kota Tarakan, Pulau Kumala di Tenggarong dan sebagainya.

Tapi mempunyai situasi yang sedang berlaku yang menghalangi dalam menuju tempat-tempat di atas, yaitu transportasi. Banyak bagian di provinsi ini masih tidak memiliki jalan aspal, telah tersedia banyak orang berpergian dengan perahu dan pesawat terbang dan tak heran jika di Kalimantan Timur memiliki banyak bandara perintis. Selain itu, akan mempunyai rencana pembuatan Highway Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangata demi memperlancar perekonomian.

Pendidikan

Dalam bagian pendidikan, Kalimantan Timur terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan guna mencetak sumber energi manusia Provinsi Kalimantan Timur yang dapat bersaingan di kancah nasional maupun internasional. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuat langkah-langkah diantaranya mencanangkan Program Wajib Belajar 12 Tahun dan dialokasikannya dana APBD sebesar 20% untuk pendidikan.[18]

Provinsi Kalimantan Timur memiliki universitas terbesar yaitu Universitas Mulawarman, Universitas ini telah banyak didukung dalam pengembangan dari infrastruktur maupun mutu SDM daya pendidik oleh Pemerintah Provinsi. Selain Universitas Mulawarman juga terdapat perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tidak samanya yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.

Selain perguruan tinggi, provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan mutu sekolah-sekolah dari bagian SDM dan infrastruktur. Kini telah banyak sekolah-sekolah bertaraf nasional maupun internasional yang sedang digarap di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.[18]

Sosial Kemasyarakatan

Suku Bangsa

Tiga suku bangsa terbesar di Kalimantan Timur yaitu Suku Jawa, Suku Bugis dan Suku Banjar. Hal tersebut karena Kalimantan Timur adalah pusat utama migran asal Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.[19] Suku bangsa tidak samanya yang signifikan banyaknya di Kalimantan Timur yaitu Suku Kutai, Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Sunda, Suku Madura serta suku bangsa tidak samanya dari beragam kawasan di Indonesia.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Timur berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[20]

Bahasa Kawasan

Bahasa pengantar masyarakat Kalimantan Timur umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Timur karena besarnya banyak perantauan Suku Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya di Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Penutur Bahasa Jawa dan Bahasa Bugis juga cukup besar di Kalimantan Timur karena banyaknya pendatang asal Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang mendiami Kalimantan Timur.

Bahasa tidak samanya yang dituturkan masyarakat Kalimantan Timur diantaranya yaitu Bahasa Kutai, Bahasa Paser, Bahasa Tidung, Bahasa Berau, Bahasa Tunjung, Bahasa Bahau, Bahasa Modang dan Bahasa Lundayeh.

Pariwisata, Seni dan Budaya

Lagu Kawasan

  • Burung Enggang (bahasa Kutai)
  • Meharit (Bahasa Kutai)
  • Sabar’ai-sabar’ai (Bahasa Banjar)
  • Anjat Manik (Bahasa Berau Benua)
  • Bebilin (Bahasa Tidung)
  • Andang Sigurandang (Bahasa Tidung)
  • Bedone (Bahasa Dayak Benuaq)
  • Ayen Sae (Bahasa Dayak)
  • Sorangan (Bahasa Banjar)
  • Lamin Talunsur (Bahasa Kutai)
  • Buah Bolok (Bahasa Kutai)
  • Saya Menyanyi (Bahasa Kutai)
  • Sungai Kandilo (Bahasa Pasir)
  • Rambai Manguning (Bahasa Banjar)
  • Ading Manis (Bahasa Banjar)
  • Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau)
  • Basar Niat (Bahasa Melayu Berau)
  • Berampukan (Bahasa Kutai)
  • Undur Hudang (Bahasa Kutai)
  • Kada Guna Marista (Bahasa Banjar)
  • Tajong Samarinda (Bahasa Kutai)
  • Citra Diperdagangkan (Bahasa Kutai)
  • Taman Anggrek Kersik Luwai
  • Ne Poq Batangph
  • Banuangku
  • Kekayaan Lingkungan kehidupan Etam (Bahasa Kutai)
  • Mambari Maras (Bahasa Banjar)
  • Kambang Goyang (Bahasa Banjar)
  • Apandang Jakku
  • Keledung
  • Ketuyak
  • Jalung
  • Antu
  • Mena Wang Langit
  • Tung Tit
  • To Kejaa
  • Ting Ting Nging
  • Endut-Endut
  • Enjung-Enjung
  • Julun Lajun
  • Sungai Mahakam
  • Samarinda Kota Tepian (Bahasa Kutai)
  • Jagung Tepian
  • Kandania
  • Sarang Kupu
  • Adui Indung
  • Nasi Bekepor (Bahasa Kutai)
  • Nasib Awak
  • Tenau
  • Luwai
  • Balarut di Sungai Mahakam (Bahasa Banjar)
  • Leleng (Bahasa Kenyah)
  • Merutuh(Bahasa Tonyooi-Benuaq)

Seni Suara

  • Bedeguuq (Dayak Benuaq)
  • Berijooq (Dayak Benuaq)
  • Ninga (Dayak Benuaq)
  • Enluei (Dayak Wehea)

Seni Berpantun

  • Perentangin (Dayak Benuaq)
  • Ngelengot (Dayak Benuaq)
  • Ngakey (Dayak Benuaq)
  • Ngeloak (Dayak Benuaq)

Agama

Masyarakat di Kalimantan Timur menganut beragam agama yang diakui di Indonesia, yaitu:

Seni dan Budaya

  • Tingkilan (suku Kutai)
  • Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea)
  • Tarian Bedewa dari suku Tidung (Kabupaten Nunukan)
  • Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Tarian Besyitan dari suku Tidung (Kabupaten Malinau)
  • Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten Bulungan)
  • Tarian Gantar dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngeleway dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngerangkaw dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Kencet dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Datun dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Hudoq dari Suku Dayak Wehea
  • Tarian Kejien dari Suku Dayak Wehea
  • Belian
  • Tarian Jepin Ujang Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Beliatn Bawo (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Sentiyu (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Kenyong (Suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Luangan (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Bejamu (suku Dayak Benuaq)
  • Nuak (dari Suku Dayak Benuaq)
  • Bekelew (suku Dayak Benuaq)
  • Nalitn Tautn (suku Dayak Benuaq)
  • Paper Maper (suku Dayak Benuaq)
  • Besamat (suku Dayak Benuaq)
  • Pakatn Nyahuq (suku Dayak Benuaq)
  • Ngompokng (suku Dayak Benuaq)
  • Tari Kanjar (suku Kutai)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
  • Mandau – Manaau
  • Gayang
  • Keris Buritkang
  • Sumpit – Potaatn
  • Perisai – Keleubet
  • Tombak – Belokokng
  • Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq)
  • Kenyeuw (suku Dayak Benuaq)
  • Parepm Api/Tooq (suku Dayak Benuaq)

Referensi

  1. ^ http://kaltim.bps.go.id/
  2. ^ (Belanda)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië 23 (1-2). hlm. 201. 
  3. ^ a b (Melayu) Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  4. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde 6. Lange & Co. hlm. 243. 
  5. ^ (Indonesia) Lombard (1996). Nusa Jawa: silang budaya kajian sejarah terpadu: Jaringan Asia, 2. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 129. ISBN 9796054531.  ISBN 978-979-605-453-4 ISBN 979-605-452-3 ISBN 978-979-605-452-7
  6. ^ (Indonesia) Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian selang Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860, Penerbit Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat 1965
  7. ^ (Inggris) Magenda, Burhan Djabier (2010). East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy. Equinox Publishing. ISBN 602-8397-21-0. ISBN 978-602-8397-21-6
  8. ^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). Staatsblad van Nederlandisch Indië. s.n. 
  9. ^ (Inggris) (2007)“Borneo, 1800-1857”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  10. ^ (Inggris) (2007)“Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  11. ^ (Inggris) (2007)“Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  12. ^ (Inggris) (2009)“Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  13. ^ (Inggris) (2007)“Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  14. ^ (Inggris) (2007)“Borneo in 1942”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  15. ^ [1]
  16. ^ http://schoolsobservatory.org.uk
  17. ^ (Inggris) Guhardja, Edi (2000). Rainforest ecosystems of East Kalimantan: El Niño, drought, fire and human impacts. Springer. ISBN 4431702725. ISBN 9784431702726
  18. ^ a b Pendidikan. Situs Pemerintah Provinsi Kaltim. Diakses pada 9 November 2012
  19. ^ “Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto” (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 2007. 
  20. ^ “Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape” (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  21. ^ Population and dominant ethnic groups in districts/ municipalities of East Kalimantan

Lihat pula

Pranala luar

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, ensiklopedia.web.id, kelaskaryawan.program-reguler.co.id, dsb.


Page 19

Kalimantan Timur
Kaltim
—  Provinsi  —
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Lambang

Slogan: Ruhui Rahayu
(Bahasa Banjar: “kehidupan yang harmonis, damai sejahtera, aman dan tenteram”)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Peta lokasi Kalimantan Timur

Negara Indonesia
Hari telah tersedia 9 Januari 1957
Landasan hukum UU No. 25 Tahun 1956
Ibu kota Samarinda
Pemerintahan
 • Gubernur Awang Faroek Ishak
 • Wakil Gubernur Mukmin Faisyal
Luas
 • Total 129.066.64 km2 (49,832.91 mil²)
 • Perairan 10.217 km2 (3,945 mil²)  4,2%
Populasi (2010)
 • Total 3,043,689 (18)
 • Kepadatan 14/km2 (40/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Jawa (29,55%)
Bugis (18,26%)
Banjar (13,94%)
Dayak (9,91%)
Kutai (9,21%)
Toraja (1,96%)
Sunda 1,59%)
Madura (1,24%)
Tionghoa (1,16%)
Lain-lain (13,18%)[1]
 • Agama Islam (87,62%)
Kristen (Protestan & Katolik) (11,96%)
Hindu (0,18%)
Budha (0,24%)
 • Bahasa Indonesia
Kutai
Dayak
Banjar
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kabupaten 7
Kota 3
Kecamatan 122
Gampong/kelurahan 191/1.347
Lagu daerah Indung-Indung
Rumah tradisional Rumah Lamin
Senjata tradisional Mandau, Bujak, Serepang, Kelibit, Sumpit, Gayang
Situs web www.kaltimprov.go.id

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim yaitu sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan anggota ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Luas total Kaltim yaitu 129.066,64 km² dan populasi sebesar 3.6 juta. Kaltim adalah wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di nusantara. Ibukotanya yaitu Samarinda.

Sebelum pemekaran Provinsi Kalimantan Utara, Kaltim adalah provinsi terluas kedua di Indonesia, dengan luas sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia.

Sejarah

Wilayah Kalimantan Timur dahulu mayoritas yaitu hutan hujan tropis. Penduduk aslinya yaitu Suku Dayak. Terdapat beberapa kerajaan yang kehadiran di Kalimantan Timur, diantaranya yaitu Kerajaan Kutai (beragama Hindu), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir dan Kesultanan Bulungan.

Wilayah Kalimantan Timur meliputi Pasir, Kutai, Berau dan juga Karasikan (Buranun/pra-Kesultanan Sulu) diklaim sebagai wilayah taklukan Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit di Negara Dipa (yang bermarkas di Candi Besar di Amuntai) sampai tahun 1620 di masa Kesultanan Banjar. Selang tahun 1620-1624, negeri-negeri di Kaltim menjadi daerah pengaruh Sultan Alauddin dari Kesultanan Makassar, sebelum kehadirannya janji Bungaya.[2] Menurut Hikayat Banjar Sultan Makassar pernah meminjam tanah untuk tempat berdagang meliputi wilayah timur dan tenggara Kalimantan kepada Sultan Mustain Billah dari Banjar sewaktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan menyebabkan mempunyai janji dengan Sultan Tallo I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang[3], yang menjadi mangkubumi dan penasehat utama untuk Sultan Muhammad Said, Raja Gowa tahun 1638-1654 dan juga mertua Sultan Hasanuddin[4][5] yang akan memperbaiki wilayah Kalimantan Timur sebagai tempat berdagang untuk Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)[3] sejak itulah mulai berdatanganlah etnis asal Sulawesi Selatan. Namun berdasarkan Janji Kesultanan Banjar dengan VOC pada tahun 1635, VOC membantu Banjar mengembalikan negeri-negeri di Kaltim menjadi wilayah pengaruh Kesultanan Banjar. Hal tersebut diwujudkan dalam janji Bungaya, bahwa Kesultanan Makassar dilarang berdagang sampai ke timur dan utara Kalimantan.

Berdasarkan traktat 1 Januari 1817, Sultan Sulaiman dari Banjar menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimatan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia-Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826, Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. [6] Pada tahun 1846, Belanda mulai mendudukkan Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur (sekarang provinsi Kalimantan Timur dan anggota timur Kalimantan Selatan) bernama H. Von Dewall. [7] Kaltim adalah anggota dari Hindia Belanda.[8] Kaltim 1800-1850.[9] Dalam tahun 1879, Kaltim dan Tawau adalah Ooster Afdeeling van Borneo anggota dari Residentie Zuider en Oosterafdeeling van Borneo. [10] Dalam tahun 1900, Kaltim adalah zelfbesturen (wilayah dependensi)[11] Dalam tahun 1902, Kaltim adalah Afdeeling Koetei en Noord-oost Kust van Borneo.[12][13] Tahun 1942 Kaltim adalah Afdeeling Samarinda dan Afdeeling Boeloengan en Beraoe.[14]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Pembentukan Provinsi Kalimantan Timur

Provinsi Kalimantan Timur selain sebagai kesatuan administrasi, juga sebagai kesatuan ekologis dan historis. Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan gubernurnya yang pertama yaitu APT Pranoto.

Sebelumnya Kalimantan Timur adalah salah satu karesidenan dari Provinsi Kalimantan. Berdasarkan dengan aspirasi rakyat, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2012, kembali terjadi pemekaran wilayah yang ditandai dengan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Daerah-daerah Tingkat II di dalam wilayah Kalimantan Timur, dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959, Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9).

Lembaran Negara No.72 Tahun 1959 terdiri atas:

  • Pembentukan 2 kotamadya, yaitu:
  1. Kotamadya Samarinda, dengan Kota Samarinda sebagai ibukotanya dan sekaligus sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, dengan kota Balikpapan sebagai ibukotanya dan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur.
  • Pembentukan 4 kabupaten, yaitu:

Pembentukan Kota dan Kabupaten Baru

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Berdarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1981, maka dibentuk Kota Administratif Bontang di wilayah Kabupaten Kutai dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1989, maka dibentuk pula Kota Madya Tarakan di wilayah Kabupaten Bulungan. Dalam Perkembangan lebih lanjut berdasarkan dengan ketetapan di dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah, maka dibentuk 2 Kota dan 4 kabupaten, yaitu:

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2002, maka Kabupaten Pasir mengalami pemekaran dan pemekarannya bernama Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pada tanggal 17 Juli 2007, DPR RI sepakat menyetujui berdirinya Tana Tidung sebagai kabupaten baru di Kalimantan Timur, maka banyak keseluruhan kabupaten/kota di Kalimantan Timur menjadi 14 wilayah. Pada tahun yang sama, nama Kabupaten Pasir berubah menjadi Kabupaten Paser berdasarkan PP No. 49 Tahun 2007.

Pada tanggal 25 Oktober 2012, DPR RI membenarkan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara yang adalah pemekaran dari Kalimantan Timur. Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan menjadi wilayah provinsi baru tersebut, sehingga banyak kabupaten dan kota di Kalimantan Timur berkurang menjadi 9 wilayah.

Geografi

Kaltim berbatasan terus dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur. Di sebelah barat, utara dan selatan, Kaltim berbatasan terus dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Titik tertinggi di Kaltim yaitu Liangpran dengan tinggi mencapai 2.240 meter dari permukaan laut.

Iklim

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Citra satelit Kaltim ketika musim kemarau.

Iklim di Kaltim yaitu iklim tropis, terutama di daerah pesisir yang disebabkan oleh pengaruh Angin Monsun.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Salah satu kawasan hutan hujan tropis di Pujungan, Malinau.

Bentang lingkungan kehidupan Kaltim biasanya kasar dan bergelombang, beberapa besar tertutup oleh hutan, dan memiliki tepi pantai sepanjang lebih dari 1.185 km[15]. Anggota paling utara wilayah ini, di mana pada setiap bulan Juni, matahari bersinar lebih lama beberapa menit dan setiap bulan Desember, matahari bersinar lebih cepat.[16]

Keanekaragaman Hayati

Kalimantan Timur memiliki kekayaan flora dan fauna.[17] Di Kalimantan Timur perkiraan tumbuh sekitar 1000-189.000 golongan tumbuhan, diantaranya anggrek hitam yang harga per bunganya dapat mencapai Rp, 100.000,- sampai Rp, 500.000,-

Sumber Energi Lingkungan kehidupan

Masalah sumber energi lingkungan kehidupan di sini terutama yaitu penebangan hutan ilegal yang memusnahkan hutan hujan, selain itu Taman Nasional Kutai yang kehadiran di Kabupaten Kutai Timur ini juga dirambah hutannya. Kurang dari setengah hutan hujan yang masih tersisa, seperti Taman Nasional Kayan Mentarang di anggota utara provinsi ini. Pemerintah lokal masih berusaha untuk menghentikan kebiasaan yang merusak ini.

Politik

Gubernur

Saat ini Gubernur dijabat oleh Awang Faroek Ishak. Ia mengandidatkan diri sebagai menjadi Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2008 dan akhir-akhirnya terpilih pada putaran kedua dan dilantik pada 17 Desember 2008.

Pembantu Gubernur

Selanjutnya sebagai perpanjangan tangan dari Gubernur Kepala Dearah Provinsi Kalimantan Timur dalam mengelola Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan di daerah ini, dibentuk 2 (dua) Pembantu Gubernur yang bekerja Mengkoordinir Wilayah Utara dan Wilayah Selatan, yaitu:

Yang belakang sekali institusi dua Pembantu Gubernur Kalimantan Timur Wilayah Selatan dan Utara tersebut telah dicerai-beraikan sejak tahun 1999. Kemampuan penghapusan institusi ini semata-mata untuk memadai ketetapan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

Pembagian administratif

Setelah pembentukan provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur kini terbagi menjadi 7 kabupaten dan 3 kota, selang lain:

Perekonomian

Hasil utama provinsi ini yaitu hasil tambang seperti minyak, gas lingkungan kehidupan dan batu bara. Sektor tidak sama yang kini sedang mengembang yaitu agrikultur, pariwisata dan industri pengolahan.

Beberapa daerah seperti Balikpapan dan Bontang mulai mengembangkan kawasan industri beragam bidang demi mempercepat pertumbuhan perekonomian. Sementara kabupaten-kabupaten di Kaltim kini mulai membentangkan wilayahnya untuk dibuat perkebunan seperti kelapa sawit dan sebagainya.

Kalimantan Timur memiliki beberapa pusat pariwisata yang menarik seperti kepulauan Derawan di Berau, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Pantai Batu Lamampu di Nunukan, peternakan buaya di Balikpapan, peternakan rusa di Penajam, Kampong Dayak Pampang di Samarinda, Pantai Amal di Kota Tarakan, Pulau Kumala di Tenggarong dan sebagainya.

Tapi kehadiran situasi yang sedang berlaku yang menghalangi dalam menuju tempat-tempat di atas, yaitu transportasi. Banyak anggota di provinsi ini masih tidak memiliki jalan aspal, telah tersedia banyak orang berpergian dengan perahu dan pesawat terbang dan tak heran jika di Kalimantan Timur memiliki banyak bandara perintis. Selain itu, akan kehadiran rencana pembuatan Highway Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangata demi memperlancar perekonomian.

Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, Kalimantan Timur terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan guna mencetak sumber energi manusia Provinsi Kalimantan Timur yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuat langkah-langkah diantaranya mencanangkan Program Wajib Belajar 12 Tahun dan dialokasikannya dana APBD sebesar 20% untuk pendidikan.[18]

Provinsi Kalimantan Timur memiliki universitas terbesar yaitu Universitas Mulawarman, Universitas ini telah banyak didukung dalam pengembangan dari prasarana maupun mutu SDM daya pendidik oleh Pemerintah Provinsi. Selain Universitas Mulawarman juga terdapat perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tidak samanya yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.

Selain perguruan tinggi, provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan mutu sekolah-sekolah dari segi SDM dan prasarana. Kini telah banyak sekolah-sekolah bertaraf nasional maupun internasional yang sedang digarap di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.[18]

Sosial Kemasyarakatan

Suku Bangsa

Tiga suku bangsa terbesar di Kalimantan Timur yaitu Suku Jawa, Suku Bugis dan Suku Banjar. Hal tersebut karena Kalimantan Timur adalah pusat utama migran asal Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.[19] Suku bangsa tidak samanya yang signifikan banyaknya di Kalimantan Timur yaitu Suku Kutai, Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Sunda, Suku Madura serta suku bangsa tidak samanya dari beragam daerah di Indonesia.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Timur berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[20]

Nomor Suku Bangsa Banyak Konsentrasi
1 Suku Jawa 721.351 29,55%
2 Suku Bugis 445.820 18,26%
3 Suku Banjar 340.381 13,94%
4 Suku Dayak [21] 241.846 9,91%
5 Suku Kutai 224.859 9,21%
6 Suku Toraja 47.877 1,96%
7 Suku Sunda 38.941 1,59%
8 Suku Madura 30.181 1,24%
9 Suku-suku tidak samanya 350.277 14,34%
Total 2.441.533 100,00%

Bahasa Daerah

Bahasa pengantar masyarakat Kalimantan Timur umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Timur karena besarnya banyak perantauan Suku Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya di Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Penutur Bahasa Jawa dan Bahasa Bugis juga cukup besar di Kalimantan Timur karena banyaknya pendatang asal Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang mendiami Kalimantan Timur.

Bahasa tidak samanya yang dituturkan masyarakat Kalimantan Timur diantaranya yaitu Bahasa Kutai, Bahasa Paser, Bahasa Tidung, Bahasa Berau, Bahasa Tunjung, Bahasa Bahau, Bahasa Modang dan Bahasa Lundayeh.

Pariwisata, Seni dan Budaya

Lagu Daerah

  • Burung Enggang (bahasa Kutai)
  • Meharit (Bahasa Kutai)
  • Sabar’ai-sabar’ai (Bahasa Banjar)
  • Anjat Manik (Bahasa Berau Benua)
  • Bebilin (Bahasa Tidung)
  • Andang Sigurandang (Bahasa Tidung)
  • Bedone (Bahasa Dayak Benuaq)
  • Ayen Sae (Bahasa Dayak)
  • Sorangan (Bahasa Banjar)
  • Lamin Talunsur (Bahasa Kutai)
  • Buah Bolok (Bahasa Kutai)
  • Saya Menyanyi (Bahasa Kutai)
  • Sungai Kandilo (Bahasa Pasir)
  • Rambai Manguning (Bahasa Banjar)
  • Ading Manis (Bahasa Banjar)
  • Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau)
  • Basar Niat (Bahasa Melayu Berau)
  • Berampukan (Bahasa Kutai)
  • Undur Hudang (Bahasa Kutai)
  • Kada Guna Marista (Bahasa Banjar)
  • Tajong Samarinda (Bahasa Kutai)
  • Citra Diperdagangkan (Bahasa Kutai)
  • Taman Anggrek Kersik Luwai
  • Ne Poq Batangph
  • Banuangku
  • Kekayaan Lingkungan kehidupan Etam (Bahasa Kutai)
  • Mambari Maras (Bahasa Banjar)
  • Kambang Goyang (Bahasa Banjar)
  • Apandang Jakku
  • Keledung
  • Ketuyak
  • Jalung
  • Antu
  • Mena Wang Langit
  • Tung Tit
  • To Kejaa
  • Ting Ting Nging
  • Endut-Endut
  • Enjung-Enjung
  • Julun Lajun
  • Sungai Mahakam
  • Samarinda Kota Tepian (Bahasa Kutai)
  • Jagung Tepian
  • Kandania
  • Sarang Kupu
  • Adui Indung
  • Nasi Bekepor (Bahasa Kutai)
  • Nasib Awak
  • Tenau
  • Luwai
  • Balarut di Sungai Mahakam (Bahasa Banjar)
  • Leleng (Bahasa Kenyah)
  • Merutuh(Bahasa Tonyooi-Benuaq)

Seni Suara

  • Bedeguuq (Dayak Benuaq)
  • Berijooq (Dayak Benuaq)
  • Ninga (Dayak Benuaq)
  • Enluei (Dayak Wehea)

Seni Berpantun

  • Perentangin (Dayak Benuaq)
  • Ngelengot (Dayak Benuaq)
  • Ngakey (Dayak Benuaq)
  • Ngeloak (Dayak Benuaq)

Agama

Masyarakat di Kalimantan Timur menganut beragam agama yang diakui di Indonesia, yaitu:

Seni dan Budaya

  • Tingkilan (suku Kutai)
  • Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea)
  • Tarian Bedewa dari suku Tidung (Kabupaten Nunukan)
  • Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Tarian Besyitan dari suku Tidung (Kabupaten Malinau)
  • Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten Bulungan)
  • Tarian Gantar dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngeleway dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngerangkaw dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Kencet dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Datun dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Hudoq dari Suku Dayak Wehea
  • Tarian Kejien dari Suku Dayak Wehea
  • Belian
  • Tarian Jepin Ujang Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Beliatn Bawo (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Sentiyu (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Kenyong (Suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Luangan (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Bejamu (suku Dayak Benuaq)
  • Nuak (dari Suku Dayak Benuaq)
  • Bekelew (suku Dayak Benuaq)
  • Nalitn Tautn (suku Dayak Benuaq)
  • Paper Maper (suku Dayak Benuaq)
  • Besamat (suku Dayak Benuaq)
  • Pakatn Nyahuq (suku Dayak Benuaq)
  • Ngompokng (suku Dayak Benuaq)
  • Tari Kanjar (suku Kutai)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
  • Mandau – Manaau
  • Gayang
  • Keris Buritkang
  • Sumpit – Potaatn
  • Perisai – Keleubet
  • Tombak – Belokokng
  • Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq)
  • Kenyeuw (suku Dayak Benuaq)
  • Parepm Api/Tooq (suku Dayak Benuaq)

Referensi

  1. ^ http://kaltim.bps.go.id/
  2. ^ (Belanda)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië 23 (1-2). hlm. 201. 
  3. ^ a b (Melayu) Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  4. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde 6. Lange & Co. hlm. 243. 
  5. ^ (Indonesia) Lombard (1996). Nusa Jawa: silang budaya kajian sejarah terpadu: Jaringan Asia, 2. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 129. ISBN 9796054531.  ISBN 978-979-605-453-4 ISBN 979-605-452-3 ISBN 978-979-605-452-7
  6. ^ (Indonesia) Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian selang Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860, Penerbit Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat 1965
  7. ^ (Inggris) Magenda, Burhan Djabier (2010). East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy. Equinox Publishing. ISBN 602-8397-21-0. ISBN 978-602-8397-21-6
  8. ^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). Staatsblad van Nederlandisch Indië. s.n. 
  9. ^ (Inggris) (2007)“Borneo, 1800-1857”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  10. ^ (Inggris) (2007)“Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  11. ^ (Inggris) (2007)“Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  12. ^ (Inggris) (2009)“Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  13. ^ (Inggris) (2007)“Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  14. ^ (Inggris) (2007)“Borneo in 1942”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  15. ^ [1]
  16. ^ http://schoolsobservatory.org.uk
  17. ^ (Inggris) Guhardja, Edi (2000). Rainforest ecosystems of East Kalimantan: El Niño, drought, fire and human impacts. Springer. ISBN 4431702725. ISBN 9784431702726
  18. ^ a b Pendidikan. Situs Pemerintah Provinsi Kaltim. Diakses pada 9 November 2012
  19. ^ “Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto” (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 2007. 
  20. ^ “Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape” (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  21. ^ Population and dominant ethnic groups in districts/ municipalities of East Kalimantan

Lihat pula

Pranala luar

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, ensiklopedia.web.id, kelaskaryawan.program-reguler.co.id, dsb.


Page 20

Kalimantan Timur
Kaltim
—  Provinsi  —
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Lambang

Slogan: Ruhui Rahayu
(Bahasa Banjar: “kehidupan yang harmonis, damai sejahtera, aman dan tenteram”)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Peta lokasi Kalimantan Timur

Negara Indonesia
Hari telah tersedia 9 Januari 1957
Landasan hukum UU No. 25 Tahun 1956
Ibu kota Samarinda
Pemerintahan
 • Gubernur Awang Faroek Ishak
 • Wakil Gubernur Mukmin Faisyal
Luas
 • Total 129.066.64 km2 (49,832.91 mil²)
 • Perairan 10.217 km2 (3,945 mil²)  4,2%
Populasi (2010)
 • Total 3,043,689 (18)
 • Kepadatan 14/km2 (40/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Jawa (29,55%)
Bugis (18,26%)
Banjar (13,94%)
Dayak (9,91%)
Kutai (9,21%)
Toraja (1,96%)
Sunda 1,59%)
Madura (1,24%)
Tionghoa (1,16%)
Lain-lain (13,18%)[1]
 • Agama Islam (87,62%)
Kristen (Protestan & Katolik) (11,96%)
Hindu (0,18%)
Budha (0,24%)
 • Bahasa Indonesia
Kutai
Dayak
Banjar
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kabupaten 7
Kota 3
Kecamatan 122
Gampong/kelurahan 191/1.347
Lagu daerah Indung-Indung
Rumah tradisional Rumah Lamin
Senjata tradisional Mandau, Bujak, Serepang, Kelibit, Sumpit, Gayang
Situs web www.kaltimprov.go.id

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim yaitu sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan anggota ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Luas total Kaltim yaitu 129.066,64 km² dan populasi sebesar 3.6 juta. Kaltim adalah wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di nusantara. Ibukotanya yaitu Samarinda.

Sebelum pemekaran Provinsi Kalimantan Utara, Kaltim adalah provinsi terluas kedua di Indonesia, dengan luas sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia.

Sejarah

Wilayah Kalimantan Timur dahulu mayoritas yaitu hutan hujan tropis. Penduduk aslinya yaitu Suku Dayak. Terdapat beberapa kerajaan yang kehadiran di Kalimantan Timur, diantaranya yaitu Kerajaan Kutai (beragama Hindu), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir dan Kesultanan Bulungan.

Wilayah Kalimantan Timur meliputi Pasir, Kutai, Berau dan juga Karasikan (Buranun/pra-Kesultanan Sulu) diklaim sebagai wilayah taklukan Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit di Negara Dipa (yang bermarkas di Candi Besar di Amuntai) sampai tahun 1620 di masa Kesultanan Banjar. Selang tahun 1620-1624, negeri-negeri di Kaltim menjadi daerah pengaruh Sultan Alauddin dari Kesultanan Makassar, sebelum kehadirannya janji Bungaya.[2] Menurut Hikayat Banjar Sultan Makassar pernah meminjam tanah untuk tempat berdagang meliputi wilayah timur dan tenggara Kalimantan kepada Sultan Mustain Billah dari Banjar sewaktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan menyebabkan mempunyai janji dengan Sultan Tallo I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang[3], yang menjadi mangkubumi dan penasehat utama untuk Sultan Muhammad Said, Raja Gowa tahun 1638-1654 dan juga mertua Sultan Hasanuddin[4][5] yang akan memperbaiki wilayah Kalimantan Timur sebagai tempat berdagang untuk Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)[3] sejak itulah mulai berdatanganlah etnis asal Sulawesi Selatan. Namun berdasarkan Janji Kesultanan Banjar dengan VOC pada tahun 1635, VOC membantu Banjar mengembalikan negeri-negeri di Kaltim menjadi wilayah pengaruh Kesultanan Banjar. Hal tersebut diwujudkan dalam janji Bungaya, bahwa Kesultanan Makassar dilarang berdagang sampai ke timur dan utara Kalimantan.

Berdasarkan traktat 1 Januari 1817, Sultan Sulaiman dari Banjar menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimatan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia-Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826, Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. [6] Pada tahun 1846, Belanda mulai mendudukkan Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur (sekarang provinsi Kalimantan Timur dan anggota timur Kalimantan Selatan) bernama H. Von Dewall. [7] Kaltim adalah anggota dari Hindia Belanda.[8] Kaltim 1800-1850.[9] Dalam tahun 1879, Kaltim dan Tawau adalah Ooster Afdeeling van Borneo anggota dari Residentie Zuider en Oosterafdeeling van Borneo. [10] Dalam tahun 1900, Kaltim adalah zelfbesturen (wilayah dependensi)[11] Dalam tahun 1902, Kaltim adalah Afdeeling Koetei en Noord-oost Kust van Borneo.[12][13] Tahun 1942 Kaltim adalah Afdeeling Samarinda dan Afdeeling Boeloengan en Beraoe.[14]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Pembentukan Provinsi Kalimantan Timur

Provinsi Kalimantan Timur selain sebagai kesatuan administrasi, juga sebagai kesatuan ekologis dan historis. Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan gubernurnya yang pertama yaitu APT Pranoto.

Sebelumnya Kalimantan Timur adalah salah satu karesidenan dari Provinsi Kalimantan. Berdasarkan dengan aspirasi rakyat, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2012, kembali terjadi pemekaran wilayah yang ditandai dengan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Daerah-daerah Tingkat II di dalam wilayah Kalimantan Timur, dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959, Tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9).

Lembaran Negara No.72 Tahun 1959 terdiri atas:

  • Pembentukan 2 kotamadya, yaitu:
  1. Kotamadya Samarinda, dengan Kota Samarinda sebagai ibukotanya dan sekaligus sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, dengan kota Balikpapan sebagai ibukotanya dan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur.
  • Pembentukan 4 kabupaten, yaitu:

Pembentukan Kota dan Kabupaten Baru

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Berdarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1981, maka dibentuk Kota Administratif Bontang di wilayah Kabupaten Kutai dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1989, maka dibentuk pula Kota Madya Tarakan di wilayah Kabupaten Bulungan. Dalam Perkembangan lebih lanjut berdasarkan dengan ketetapan di dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah, maka dibentuk 2 Kota dan 4 kabupaten, yaitu:

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2002, maka Kabupaten Pasir mengalami pemekaran dan pemekarannya bernama Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pada tanggal 17 Juli 2007, DPR RI sepakat menyetujui berdirinya Tana Tidung sebagai kabupaten baru di Kalimantan Timur, maka banyak keseluruhan kabupaten/kota di Kalimantan Timur menjadi 14 wilayah. Pada tahun yang sama, nama Kabupaten Pasir berubah menjadi Kabupaten Paser berdasarkan PP No. 49 Tahun 2007.

Pada tanggal 25 Oktober 2012, DPR RI membenarkan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara yang adalah pemekaran dari Kalimantan Timur. Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan menjadi wilayah provinsi baru tersebut, sehingga banyak kabupaten dan kota di Kalimantan Timur berkurang menjadi 9 wilayah.

Geografi

Kaltim berbatasan terus dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur. Di sebelah barat, utara dan selatan, Kaltim berbatasan terus dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Titik tertinggi di Kaltim yaitu Liangpran dengan tinggi mencapai 2.240 meter dari permukaan laut.

Iklim

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Citra satelit Kaltim ketika musim kemarau.

Iklim di Kaltim yaitu iklim tropis, terutama di daerah pesisir yang disebabkan oleh pengaruh Angin Monsun.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Salah satu kawasan hutan hujan tropis di Pujungan, Malinau.

Bentang lingkungan kehidupan Kaltim biasanya kasar dan bergelombang, beberapa besar tertutup oleh hutan, dan memiliki tepi pantai sepanjang lebih dari 1.185 km[15]. Anggota paling utara wilayah ini, di mana pada setiap bulan Juni, matahari bersinar lebih lama beberapa menit dan setiap bulan Desember, matahari bersinar lebih cepat.[16]

Keanekaragaman Hayati

Kalimantan Timur memiliki kekayaan flora dan fauna.[17] Di Kalimantan Timur perkiraan tumbuh sekitar 1000-189.000 golongan tumbuhan, diantaranya anggrek hitam yang harga per bunganya dapat mencapai Rp, 100.000,- sampai Rp, 500.000,-

Sumber Energi Lingkungan kehidupan

Masalah sumber energi lingkungan kehidupan di sini terutama yaitu penebangan hutan ilegal yang memusnahkan hutan hujan, selain itu Taman Nasional Kutai yang kehadiran di Kabupaten Kutai Timur ini juga dirambah hutannya. Kurang dari setengah hutan hujan yang masih tersisa, seperti Taman Nasional Kayan Mentarang di anggota utara provinsi ini. Pemerintah lokal masih berusaha untuk menghentikan kebiasaan yang merusak ini.

Politik

Gubernur

Saat ini Gubernur dijabat oleh Awang Faroek Ishak. Ia mengandidatkan diri sebagai menjadi Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2008 dan akhir-akhirnya terpilih pada putaran kedua dan dilantik pada 17 Desember 2008.

Pembantu Gubernur

Selanjutnya sebagai perpanjangan tangan dari Gubernur Kepala Dearah Provinsi Kalimantan Timur dalam mengelola Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan di daerah ini, dibentuk 2 (dua) Pembantu Gubernur yang bekerja Mengkoordinir Wilayah Utara dan Wilayah Selatan, yaitu:

Yang belakang sekali institusi dua Pembantu Gubernur Kalimantan Timur Wilayah Selatan dan Utara tersebut telah dicerai-beraikan sejak tahun 1999. Kemampuan penghapusan institusi ini semata-mata untuk memadai ketetapan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

Pembagian administratif

Setelah pembentukan provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur kini terbagi menjadi 7 kabupaten dan 3 kota, selang lain:

Perekonomian

Hasil utama provinsi ini yaitu hasil tambang seperti minyak, gas lingkungan kehidupan dan batu bara. Sektor tidak sama yang kini sedang mengembang yaitu agrikultur, pariwisata dan industri pengolahan.

Beberapa daerah seperti Balikpapan dan Bontang mulai mengembangkan kawasan industri beragam bidang demi mempercepat pertumbuhan perekonomian. Sementara kabupaten-kabupaten di Kaltim kini mulai membentangkan wilayahnya untuk dibuat perkebunan seperti kelapa sawit dan sebagainya.

Kalimantan Timur memiliki beberapa pusat pariwisata yang menarik seperti kepulauan Derawan di Berau, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Pantai Batu Lamampu di Nunukan, peternakan buaya di Balikpapan, peternakan rusa di Penajam, Kampong Dayak Pampang di Samarinda, Pantai Amal di Kota Tarakan, Pulau Kumala di Tenggarong dan sebagainya.

Tapi kehadiran situasi yang sedang berlaku yang menghalangi dalam menuju tempat-tempat di atas, yaitu transportasi. Banyak anggota di provinsi ini masih tidak memiliki jalan aspal, telah tersedia banyak orang berpergian dengan perahu dan pesawat terbang dan tak heran jika di Kalimantan Timur memiliki banyak bandara perintis. Selain itu, akan kehadiran rencana pembuatan Highway Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangata demi memperlancar perekonomian.

Pendidikan

Dalam bidang pendidikan, Kalimantan Timur terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan guna mencetak sumber energi manusia Provinsi Kalimantan Timur yang dapat bersaing di kancah nasional maupun internasional. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuat langkah-langkah diantaranya mencanangkan Program Wajib Belajar 12 Tahun dan dialokasikannya dana APBD sebesar 20% untuk pendidikan.[18]

Provinsi Kalimantan Timur memiliki universitas terbesar yaitu Universitas Mulawarman, Universitas ini telah banyak didukung dalam pengembangan dari prasarana maupun mutu SDM daya pendidik oleh Pemerintah Provinsi. Selain Universitas Mulawarman juga terdapat perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tidak samanya yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.

Selain perguruan tinggi, provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan mutu sekolah-sekolah dari segi SDM dan prasarana. Kini telah banyak sekolah-sekolah bertaraf nasional maupun internasional yang sedang digarap di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.[18]

Sosial Kemasyarakatan

Suku Bangsa

Tiga suku bangsa terbesar di Kalimantan Timur yaitu Suku Jawa, Suku Bugis dan Suku Banjar. Hal tersebut karena Kalimantan Timur adalah pusat utama migran asal Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.[19] Suku bangsa tidak samanya yang signifikan banyaknya di Kalimantan Timur yaitu Suku Kutai, Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Sunda, Suku Madura serta suku bangsa tidak samanya dari beragam daerah di Indonesia.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Timur berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[20]

Nomor Suku Bangsa Banyak Konsentrasi
1 Suku Jawa 721.351 29,55%
2 Suku Bugis 445.820 18,26%
3 Suku Banjar 340.381 13,94%
4 Suku Dayak [21] 241.846 9,91%
5 Suku Kutai 224.859 9,21%
6 Suku Toraja 47.877 1,96%
7 Suku Sunda 38.941 1,59%
8 Suku Madura 30.181 1,24%
9 Suku-suku tidak samanya 350.277 14,34%
Total 2.441.533 100,00%

Bahasa Daerah

Bahasa pengantar masyarakat Kalimantan Timur umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Timur karena besarnya banyak perantauan Suku Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya di Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Penutur Bahasa Jawa dan Bahasa Bugis juga cukup besar di Kalimantan Timur karena banyaknya pendatang asal Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang mendiami Kalimantan Timur.

Bahasa tidak samanya yang dituturkan masyarakat Kalimantan Timur diantaranya yaitu Bahasa Kutai, Bahasa Paser, Bahasa Tidung, Bahasa Berau, Bahasa Tunjung, Bahasa Bahau, Bahasa Modang dan Bahasa Lundayeh.

Pariwisata, Seni dan Budaya

Lagu Daerah

  • Burung Enggang (bahasa Kutai)
  • Meharit (Bahasa Kutai)
  • Sabar’ai-sabar’ai (Bahasa Banjar)
  • Anjat Manik (Bahasa Berau Benua)
  • Bebilin (Bahasa Tidung)
  • Andang Sigurandang (Bahasa Tidung)
  • Bedone (Bahasa Dayak Benuaq)
  • Ayen Sae (Bahasa Dayak)
  • Sorangan (Bahasa Banjar)
  • Lamin Talunsur (Bahasa Kutai)
  • Buah Bolok (Bahasa Kutai)
  • Saya Menyanyi (Bahasa Kutai)
  • Sungai Kandilo (Bahasa Pasir)
  • Rambai Manguning (Bahasa Banjar)
  • Ading Manis (Bahasa Banjar)
  • Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau)
  • Basar Niat (Bahasa Melayu Berau)
  • Berampukan (Bahasa Kutai)
  • Undur Hudang (Bahasa Kutai)
  • Kada Guna Marista (Bahasa Banjar)
  • Tajong Samarinda (Bahasa Kutai)
  • Citra Diperdagangkan (Bahasa Kutai)
  • Taman Anggrek Kersik Luwai
  • Ne Poq Batangph
  • Banuangku
  • Kekayaan Lingkungan kehidupan Etam (Bahasa Kutai)
  • Mambari Maras (Bahasa Banjar)
  • Kambang Goyang (Bahasa Banjar)
  • Apandang Jakku
  • Keledung
  • Ketuyak
  • Jalung
  • Antu
  • Mena Wang Langit
  • Tung Tit
  • To Kejaa
  • Ting Ting Nging
  • Endut-Endut
  • Enjung-Enjung
  • Julun Lajun
  • Sungai Mahakam
  • Samarinda Kota Tepian (Bahasa Kutai)
  • Jagung Tepian
  • Kandania
  • Sarang Kupu
  • Adui Indung
  • Nasi Bekepor (Bahasa Kutai)
  • Nasib Awak
  • Tenau
  • Luwai
  • Balarut di Sungai Mahakam (Bahasa Banjar)
  • Leleng (Bahasa Kenyah)
  • Merutuh(Bahasa Tonyooi-Benuaq)

Seni Suara

  • Bedeguuq (Dayak Benuaq)
  • Berijooq (Dayak Benuaq)
  • Ninga (Dayak Benuaq)
  • Enluei (Dayak Wehea)

Seni Berpantun

  • Perentangin (Dayak Benuaq)
  • Ngelengot (Dayak Benuaq)
  • Ngakey (Dayak Benuaq)
  • Ngeloak (Dayak Benuaq)

Agama

Masyarakat di Kalimantan Timur menganut beragam agama yang diakui di Indonesia, yaitu:

Seni dan Budaya

  • Tingkilan (suku Kutai)
  • Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea)
  • Tarian Bedewa dari suku Tidung (Kabupaten Nunukan)
  • Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Tarian Besyitan dari suku Tidung (Kabupaten Malinau)
  • Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten Bulungan)
  • Tarian Gantar dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngeleway dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngerangkaw dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Kencet dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Datun dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Hudoq dari Suku Dayak Wehea
  • Tarian Kejien dari Suku Dayak Wehea
  • Belian
  • Tarian Jepin Ujang Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Beliatn Bawo (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Sentiyu (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Kenyong (Suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Luangan (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Bejamu (suku Dayak Benuaq)
  • Nuak (dari Suku Dayak Benuaq)
  • Bekelew (suku Dayak Benuaq)
  • Nalitn Tautn (suku Dayak Benuaq)
  • Paper Maper (suku Dayak Benuaq)
  • Besamat (suku Dayak Benuaq)
  • Pakatn Nyahuq (suku Dayak Benuaq)
  • Ngompokng (suku Dayak Benuaq)
  • Tari Kanjar (suku Kutai)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
  • Mandau – Manaau
  • Gayang
  • Keris Buritkang
  • Sumpit – Potaatn
  • Perisai – Keleubet
  • Tombak – Belokokng
  • Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq)
  • Kenyeuw (suku Dayak Benuaq)
  • Parepm Api/Tooq (suku Dayak Benuaq)

Referensi

  1. ^ http://kaltim.bps.go.id/
  2. ^ (Belanda)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië 23 (1-2). hlm. 201. 
  3. ^ a b (Melayu) Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  4. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde 6. Lange & Co. hlm. 243. 
  5. ^ (Indonesia) Lombard (1996). Nusa Jawa: silang budaya kajian sejarah terpadu: Jaringan Asia, 2. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 129. ISBN 9796054531.  ISBN 978-979-605-453-4 ISBN 979-605-452-3 ISBN 978-979-605-452-7
  6. ^ (Indonesia) Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian selang Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860, Penerbit Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat 1965
  7. ^ (Inggris) Magenda, Burhan Djabier (2010). East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy. Equinox Publishing. ISBN 602-8397-21-0. ISBN 978-602-8397-21-6
  8. ^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). Staatsblad van Nederlandisch Indië. s.n. 
  9. ^ (Inggris) (2007)“Borneo, 1800-1857”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  10. ^ (Inggris) (2007)“Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  11. ^ (Inggris) (2007)“Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  12. ^ (Inggris) (2009)“Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  13. ^ (Inggris) (2007)“Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  14. ^ (Inggris) (2007)“Borneo in 1942”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  15. ^ [1]
  16. ^ http://schoolsobservatory.org.uk
  17. ^ (Inggris) Guhardja, Edi (2000). Rainforest ecosystems of East Kalimantan: El Niño, drought, fire and human impacts. Springer. ISBN 4431702725. ISBN 9784431702726
  18. ^ a b Pendidikan. Situs Pemerintah Provinsi Kaltim. Diakses pada 9 November 2012
  19. ^ “Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto” (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 2007. 
  20. ^ “Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape” (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  21. ^ Population and dominant ethnic groups in districts/ municipalities of East Kalimantan

Lihat pula

Pranala luar

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, ensiklopedia.web.id, kelaskaryawan.program-reguler.co.id, dsb.


Page 21

Kalimantan Timur
Kaltim
—  Provinsi  —
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Lambang

Slogan: Ruhui Rahayu
(Bahasa Banjar: “kehidupan yang harmonis, damai sejahtera, aman dan tenteram”)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Peta lokasi Kalimantan Timur

Negara Indonesia
Hari telah tersedia 9 Januari 1957
Landasan hukum UU No. 25 Tahun 1956
Ibu kota Samarinda
Pemerintahan
 • Gubernur Awang Faroek Ishak
 • Wakil Gubernur Mukmin Faisyal
Luas
 • Total 129.066.64 km2 (49,832.91 mil²)
 • Perairan 10.217 km2 (3,945 mil²)  4,2%
Populasi (2010)
 • Total 3,043,689 (18)
 • Kepadatan 14/km2 (40/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa Jawa (29,55%)
Bugis (18,26%)
Banjar (13,94%)
Dayak (9,91%)
Kutai (9,21%)
Toraja (1,96%)
Sunda 1,59%)
Madura (1,24%)
Tionghoa (1,16%)
Lain-lain (13,18%)[1]
 • Agama Islam (87,62%)
Kristen (Protestan & Katolik) (11,96%)
Hindu (0,18%)
Budha (0,24%)
 • Bahasa Indonesia
Kutai
Dayak
Banjar
Zona waktu WITA (UTC+8)
Kabupaten 7
Kota 3
Kecamatan 122
Gampong/desa 191/1.347
Lagu kawasan Indung-Indung
Rumah tradisional Rumah Lamin
Senjata tradisional Mandau, Bujak, Serepang, Kelibit, Sumpit, Gayang
Situs web www.kaltimprov.go.id

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim yaitu sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Sulawesi. Luas total Kaltim yaitu 129.066,64 km² dan populasi sebesar 3.6 juta. Kaltim adalah wilayah dengan kepadatan penduduk terendah keempat di nusantara. Ibukotanya yaitu Samarinda.

Sebelum pemekaran Provinsi Kalimantan Utara, Kaltim adalah provinsi terluas kedua di Indonesia, dengan luas sekitar satu setengah kali Pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia.

Sejarah

Wilayah Kalimantan Timur dahulu mayoritas yaitu hutan hujan tropis. Penduduk aslinya yaitu Suku Dayak. Terdapat beberapa kerajaan yang mempunyai di Kalimantan Timur, diantaranya yaitu Kerajaan Kutai (beragama Hindu), Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura, Kesultanan Pasir dan Kesultanan Bulungan.

Wilayah Kalimantan Timur meliputi Pasir, Kutai, Berau dan juga Karasikan (Buranun/pra-Kesultanan Sulu) diklaim sebagai wilayah taklukan Maharaja Suryanata, gubernur Majapahit di Negara Dipa (yang bermarkas di Candi Besar di Amuntai) sampai tahun 1620 di masa Kesultanan Banjar. Selang tahun 1620-1624, negeri-negeri di Kaltim menjadi kawasan pengaruh Sultan Alauddin dari Kesultanan Makassar, sebelum mempunyainya janji Bungaya.[2] Menurut Hikayat Banjar Sultan Makassar pernah meminjam tanah untuk tempat berdagang meliputi wilayah timur dan tenggara Kalimantan kepada Sultan Mustain Billah dari Banjar sewaktu Kiai Martasura diutus ke Makassar dan menyebabkan mempunyai janji dengan Sultan Tallo I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang[3], yang menjadi mangkubumi dan penasehat utama untuk Sultan Muhammad Said, Raja Gowa tahun 1638-1654 dan juga mertua Sultan Hasanuddin[4][5] yang akan memperbaiki wilayah Kalimantan Timur sebagai tempat berdagang untuk Kesultanan Makassar (Gowa-Tallo)[3] sejak itulah mulai berdatanganlah etnis asal Sulawesi Selatan. Namun berdasarkan Janji Kesultanan Banjar dengan VOC pada tahun 1635, VOC membantu Banjar mengembalikan negeri-negeri di Kaltim menjadi wilayah pengaruh Kesultanan Banjar. Hal tersebut diwujudkan dalam janji Bungaya, bahwa Kesultanan Makassar dilarang berdagang sampai ke timur dan utara Kalimantan.

Berdasarkan traktat 1 Januari 1817, Sultan Sulaiman dari Banjar menyerahkan Kalimantan Timur, Kalimatan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan (termasuk Banjarmasin) kepada Hindia-Belanda. Pada tanggal 4 Mei 1826, Sultan Adam al-Watsiq Billah dari Banjar menegaskan kembali penyerahan wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, beberapa Kalimantan Barat dan beberapa Kalimantan Selatan kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. [6] Pada tahun 1846, Belanda mulai menyilakan duduk Asisten Residen di Samarinda untuk wilayah Borneo Timur (sekarang provinsi Kalimantan Timur dan bagian timur Kalimantan Selatan) bernama H. Von Dewall. [7] Kaltim adalah bagian dari Hindia Belanda.[8] Kaltim 1800-1850.[9] Dalam tahun 1879, Kaltim dan Tawau adalah Ooster Afdeeling van Borneo bagian dari Residentie Zuider en Oosterafdeeling van Borneo. [10] Dalam tahun 1900, Kaltim adalah zelfbesturen (wilayah dependensi)[11] Dalam tahun 1902, Kaltim adalah Afdeeling Koetei en Noord-oost Kust van Borneo.[12][13] Tahun 1942 Kaltim adalah Afdeeling Samarinda dan Afdeeling Boeloengan en Beraoe.[14]

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Provinsi Borneo saat masa awal kemerdekaan, tahun 1945.

Pembentukan Provinsi Kalimantan Timur

Provinsi Kalimantan Timur selain sebagai kesatuan administrasi, juga sebagai kesatuan ekologis dan historis. Kalimantan Timur sebagai wilayah administrasi dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 1956 dengan gubernurnya yang pertama yaitu APT Pranoto.

Sebelumnya Kalimantan Timur adalah salah satu karesidenan dari Provinsi Kalimantan. Berdasarkan dengan aspirasi rakyat, sejak tahun 1956 wilayahnya dimekarkan menjadi tiga provinsi, yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Pada tahun 2012, kembali terjadi pemekaran wilayah yang ditandai dengan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Kantor Gubernur Kalimantan Timur.

Daerah-daerah Tingkat II di dalam wilayah Kalimantan Timur, dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 27 Tahun 1959, Tentang Pembentukan Kawasan Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1955 No.9).

Lembaran Negara No.72 Tahun 1959 terdiri atas:

  • Pembentukan 2 kotamadya, yaitu:
  1. Kotamadya Samarinda, dengan Kota Samarinda sebagai ibukotanya dan sekaligus sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur.
  2. Kotamadya Balikpapan, dengan kota Balikpapan sebagai ibukotanya dan adalah pintu gerbang Kalimantan Timur.
  • Pembentukan 4 kabupaten, yaitu:

Pembentukan Kota dan Kabupaten Baru

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Berdarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1981, maka dibentuk Kota Administratif Bontang di wilayah Kabupaten Kutai dan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 tahun 1989, maka dibentuk pula Kota Madya Tarakan di wilayah Kabupaten Bulungan. Dalam Perkembangan lebih lanjut berdasarkan dengan ketetapan di dalam Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Kawasan, maka dibentuk 2 Kota dan 4 kabupaten, yaitu:

Berdasarkan pada Peraturan Pemerintah nomor 8 tahun 2002, maka Kabupaten Pasir mengalami pemekaran dan pemekarannya bernama Kabupaten Penajam Paser Utara.

Pada tanggal 17 Juli 2007, DPR RI sepakat menyetujui berdirinya Tana Tidung sebagai kabupaten baru di Kalimantan Timur, maka banyak semuanya kabupaten/kota di Kalimantan Timur menjadi 14 wilayah. Pada tahun yang sama, nama Kabupaten Pasir berubah menjadi Kabupaten Paser berdasarkan PP No. 49 Tahun 2007.

Pada tanggal 25 Oktober 2012, DPR RI membenarkan pembentukan Provinsi Kalimantan Utara yang adalah pemekaran dari Kalimantan Timur. Kabupaten Bulungan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Nunukan, Kabupaten Tana Tidung, dan Kota Tarakan menjadi wilayah provinsi baru tersebut, sehingga banyak kabupaten dan kota di Kalimantan Timur berkurang menjadi 9 wilayah.

Geografi

Kaltim berbatasan terus dengan Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur. Di sebelah barat, utara dan selatan, Kaltim berbatasan terus dengan Malaysia, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Titik tertinggi di Kaltim yaitu Liangpran dengan ketinggian mencapai 2.240 meter dari permukaan laut.

Iklim

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Citra satelit Kaltim ketika musim kemarau.

Iklim di Kaltim yaitu iklim tropis, terutama di kawasan pesisir yang disebabkan oleh pengaruh Angin Monsun.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Salah satu kawasan hutan hujan tropis di Pujungan, Malinau.

Bentang lingkungan kehidupan Kaltim biasanya kasar dan bergelombang, beberapa besar tertutup oleh hutan, dan memiliki tepi pantai sepanjang lebih dari 1.185 km[15]. Bagian paling utara wilayah ini, di mana pada setiap bulan Juni, matahari bersinar lebih lama beberapa menit dan setiap bulan Desember, matahari bersinar lebih cepat.[16]

Keanekaragaman Hayati

Kalimantan Timur memiliki kekayaan flora dan fauna.[17] Di Kalimantan Timur agak tumbuh sekitar 1000-189.000 golongan tumbuhan, diantaranya anggrek hitam yang nilai per bunganya dapat mencapai Rp, 100.000,- sampai Rp, 500.000,-

Sumber Energi Lingkungan kehidupan

Masalah sumber energi lingkungan kehidupan di sini terutama yaitu penebangan hutan ilegal yang memusnahkan hutan hujan, selain itu Taman Nasional Kutai yang mempunyai di Kabupaten Kutai Timur ini juga dirambah hutannya. Kurang dari setengah hutan hujan yang masih tersisa, seperti Taman Nasional Kayan Mentarang di bagian utara provinsi ini. Pemerintah lokal masih berusaha untuk membubarkan kebiasaan yang merusak ini.

Politik

Gubernur

Saat ini Gubernur dijabat oleh Awang Faroek Ishak. Ia mencalonkan diri sebagai menjadi Gubernur Kalimantan Timur pada tahun 2008 dan akhir-akhirnya terpilih pada putaran kedua dan dilantik pada 17 Desember 2008.

Pembantu Gubernur

Selanjutnya sebagai perpanjangan tangan dari Gubernur Kepala Dearah Provinsi Kalimantan Timur dalam mengelola Administrasi Pemerintahan dan Pembangunan di kawasan ini, dibentuk 2 (dua) Pembantu Gubernur yang bekerja Mengkoordinir Wilayah Utara dan Wilayah Selatan, yaitu:

Yang belakang sekali institusi dua Pembantu Gubernur Kalimantan Timur Wilayah Selatan dan Utara tersebut telah dihilangkan sejak tahun 1999. Kemahiran penghapusan institusi ini semata-mata untuk memadai ketetapan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah.

Pembagian administratif

Setelah pembentukan provinsi Kalimantan Utara, Kalimantan Timur kini terbagi menjadi 7 kabupaten dan 3 kota, selang lain:

Perekonomian

Hasil utama provinsi ini yaitu hasil tambang seperti minyak, gas lingkungan kehidupan dan batu bara. Sektor tidak sama yang kini sedang mengembang yaitu agrikultur, pariwisata dan industri pengolahan.

Beberapa kawasan seperti Balikpapan dan Bontang mulai mengembangkan kawasan industri beragam bagian demi mempercepat pertumbuhan perekonomian. Sementara kabupaten-kabupaten di Kaltim kini mulai membentangkan wilayahnya untuk dibuat perkebunan seperti kelapa sawit dan sebagainya.

Kalimantan Timur memiliki beberapa pusat pariwisata yang menarik seperti kepulauan Derawan di Berau, Taman Nasional Kayan Mentarang dan Pantai Batu Lamampu di Nunukan, peternakan buaya di Balikpapan, peternakan rusa di Penajam, Kampong Dayak Pampang di Samarinda, Pantai Amal di Kota Tarakan, Pulau Kumala di Tenggarong dan sebagainya.

Tapi mempunyai situasi yang sedang berlaku yang menghalangi dalam menuju tempat-tempat di atas, yaitu transportasi. Banyak bagian di provinsi ini masih tidak memiliki jalan aspal, telah tersedia banyak orang berpergian dengan perahu dan pesawat terbang dan tak heran jika di Kalimantan Timur memiliki banyak bandara perintis. Selain itu, akan mempunyai rencana pembuatan Highway Balikpapan-Samarinda-Bontang-Sangata demi memperlancar perekonomian.

Pendidikan

Dalam bagian pendidikan, Kalimantan Timur terus berusaha meningkatkan mutu pendidikan guna mencetak sumber energi manusia Provinsi Kalimantan Timur yang dapat bersaingan di kancah nasional maupun internasional. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur membuat langkah-langkah diantaranya mencanangkan Program Wajib Belajar 12 Tahun dan dialokasikannya dana APBD sebesar 20% untuk pendidikan.[18]

Provinsi Kalimantan Timur memiliki universitas terbesar yaitu Universitas Mulawarman, Universitas ini telah banyak didukung dalam pengembangan dari infrastruktur maupun mutu SDM daya pendidik oleh Pemerintah Provinsi. Selain Universitas Mulawarman juga terdapat perguruan-perguruan tinggi negeri dan swasta tidak samanya yang juga didukung oleh Pemerintah Provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota.

Selain perguruan tinggi, provinsi Kalimantan Timur terus meningkatkan mutu sekolah-sekolah dari bagian SDM dan infrastruktur. Kini telah banyak sekolah-sekolah bertaraf nasional maupun internasional yang sedang digarap di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.[18]

Sosial Kemasyarakatan

Suku Bangsa

Tiga suku bangsa terbesar di Kalimantan Timur yaitu Suku Jawa, Suku Bugis dan Suku Banjar. Hal tersebut karena Kalimantan Timur adalah pusat utama migran asal Pulau Jawa, Sulawesi dan Kalimantan Selatan.[19] Suku bangsa tidak samanya yang signifikan banyaknya di Kalimantan Timur yaitu Suku Kutai, Suku Dayak, Suku Toraja, Suku Sunda, Suku Madura serta suku bangsa tidak samanya dari beragam kawasan di Indonesia.

Komposisi Suku Bangsa di Kalimantan Timur berdasarkan Sensus 2000, yaitu:[20]

Bahasa Kawasan

Bahasa pengantar masyarakat Kalimantan Timur umumnya menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Banjar. Persebaran Bahasa Banjar ke Kalimantan Timur karena besarnya banyak perantauan Suku Banjar asal Kalimantan Selatan sehingga Bahasa Banjar dipergunakan sebagai bahasa sehari-hari khususnya di Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Penutur Bahasa Jawa dan Bahasa Bugis juga cukup besar di Kalimantan Timur karena banyaknya pendatang asal Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang mendiami Kalimantan Timur.

Bahasa tidak samanya yang dituturkan masyarakat Kalimantan Timur diantaranya yaitu Bahasa Kutai, Bahasa Paser, Bahasa Tidung, Bahasa Berau, Bahasa Tunjung, Bahasa Bahau, Bahasa Modang dan Bahasa Lundayeh.

Pariwisata, Seni dan Budaya

Lagu Kawasan

  • Burung Enggang (bahasa Kutai)
  • Meharit (Bahasa Kutai)
  • Sabar’ai-sabar’ai (Bahasa Banjar)
  • Anjat Manik (Bahasa Berau Benua)
  • Bebilin (Bahasa Tidung)
  • Andang Sigurandang (Bahasa Tidung)
  • Bedone (Bahasa Dayak Benuaq)
  • Ayen Sae (Bahasa Dayak)
  • Sorangan (Bahasa Banjar)
  • Lamin Talunsur (Bahasa Kutai)
  • Buah Bolok (Bahasa Kutai)
  • Saya Menyanyi (Bahasa Kutai)
  • Sungai Kandilo (Bahasa Pasir)
  • Rambai Manguning (Bahasa Banjar)
  • Ading Manis (Bahasa Banjar)
  • Indung-Indung (Bahasa Melayu Berau)
  • Basar Niat (Bahasa Melayu Berau)
  • Berampukan (Bahasa Kutai)
  • Undur Hudang (Bahasa Kutai)
  • Kada Guna Marista (Bahasa Banjar)
  • Tajong Samarinda (Bahasa Kutai)
  • Citra Diperdagangkan (Bahasa Kutai)
  • Taman Anggrek Kersik Luwai
  • Ne Poq Batangph
  • Banuangku
  • Kekayaan Lingkungan kehidupan Etam (Bahasa Kutai)
  • Mambari Maras (Bahasa Banjar)
  • Kambang Goyang (Bahasa Banjar)
  • Apandang Jakku
  • Keledung
  • Ketuyak
  • Jalung
  • Antu
  • Mena Wang Langit
  • Tung Tit
  • To Kejaa
  • Ting Ting Nging
  • Endut-Endut
  • Enjung-Enjung
  • Julun Lajun
  • Sungai Mahakam
  • Samarinda Kota Tepian (Bahasa Kutai)
  • Jagung Tepian
  • Kandania
  • Sarang Kupu
  • Adui Indung
  • Nasi Bekepor (Bahasa Kutai)
  • Nasib Awak
  • Tenau
  • Luwai
  • Balarut di Sungai Mahakam (Bahasa Banjar)
  • Leleng (Bahasa Kenyah)
  • Merutuh(Bahasa Tonyooi-Benuaq)

Seni Suara

  • Bedeguuq (Dayak Benuaq)
  • Berijooq (Dayak Benuaq)
  • Ninga (Dayak Benuaq)
  • Enluei (Dayak Wehea)

Seni Berpantun

  • Perentangin (Dayak Benuaq)
  • Ngelengot (Dayak Benuaq)
  • Ngakey (Dayak Benuaq)
  • Ngeloak (Dayak Benuaq)

Agama

Masyarakat di Kalimantan Timur menganut beragam agama yang diakui di Indonesia, yaitu:

Seni dan Budaya

  • Tingkilan (suku Kutai)
  • Musik Sempek/Kejien (suku Dayak Wehea)
  • Tarian Bedewa dari suku Tidung (Kabupaten Nunukan)
  • Tarian Iluk Bebalon dari suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Tarian Besyitan dari suku Tidung (Kabupaten Malinau)
  • Tarian Kedandiu dari suku Tidung (Kabupaten Bulungan)
  • Tarian Gantar dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngeleway dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Ngerangkaw dari Suku Dayak Benuaq
  • Tarian Kencet dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Datun dari Suku Dayak Kenyah
  • Tarian Hudoq dari Suku Dayak Wehea
  • Tarian Kejien dari Suku Dayak Wehea
  • Belian
  • Tarian Jepin Ujang Bentawol Suku Tidung (Kota Tarakan)
  • Beliatn Bawo (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Sentiyu (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Kenyong (Suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Luangan (suku Dayak Benuaq)
  • Beliatn Bejamu (suku Dayak Benuaq)
  • Nuak (dari Suku Dayak Benuaq)
  • Bekelew (suku Dayak Benuaq)
  • Nalitn Tautn (suku Dayak Benuaq)
  • Paper Maper (suku Dayak Benuaq)
  • Besamat (suku Dayak Benuaq)
  • Pakatn Nyahuq (suku Dayak Benuaq)
  • Ngompokng (suku Dayak Benuaq)
  • Tari Kanjar (suku Kutai)
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah
  • Mandau – Manaau
  • Gayang
  • Keris Buritkang
  • Sumpit – Potaatn
  • Perisai – Keleubet
  • Tombak – Belokokng
  • Kwangkey/Kuangkay (suku Dayak Benuaq)
  • Kenyeuw (suku Dayak Benuaq)
  • Parepm Api/Tooq (suku Dayak Benuaq)

Referensi

  1. ^ http://kaltim.bps.go.id/
  2. ^ (Belanda)Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië 23 (1-2). hlm. 201. 
  3. ^ a b (Melayu) Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983-62-1240-X
  4. ^ (Belanda) Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde 6. Lange & Co. hlm. 243. 
  5. ^ (Indonesia) Lombard (1996). Nusa Jawa: silang budaya kajian sejarah terpadu: Jaringan Asia, 2. PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 129. ISBN 9796054531.  ISBN 978-979-605-453-4 ISBN 979-605-452-3 ISBN 978-979-605-452-7
  6. ^ (Indonesia) Bandjermasin (Sultanate), Surat-surat perdjandjian selang Kesultanan Bandjarmasin dengan pemerintahan2 V.O.C.: Bataafse Republik, Inggeris dan Hindia- Belanda 1635-1860, Penerbit Arsip Nasional Republik Indonesia, Kompartimen Perhubungan dengan Rakjat 1965
  7. ^ (Inggris) Magenda, Burhan Djabier (2010). East Kalimantan: The Decline of a Commercial Aristocracy. Equinox Publishing. ISBN 602-8397-21-0. ISBN 978-602-8397-21-6
  8. ^ (Belanda) Nederlandisch Indië (1849). Staatsblad van Nederlandisch Indië. s.n. 
  9. ^ (Inggris) (2007)“Borneo, 1800-1857”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  10. ^ (Inggris) (2007)“Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  11. ^ (Inggris) (2007)“Native states (zelfbesturen) in Dutch Borneo, 1900”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  12. ^ (Inggris) (2009)“Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  13. ^ (Inggris) (2007)“Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  14. ^ (Inggris) (2007)“Borneo in 1942”. Digital Atlas of Indonesian History. Robert Cribb. Diakses 9 August 2011. 
  15. ^ [1]
  16. ^ http://schoolsobservatory.org.uk
  17. ^ (Inggris) Guhardja, Edi (2000). Rainforest ecosystems of East Kalimantan: El Niño, drought, fire and human impacts. Springer. ISBN 4431702725. ISBN 9784431702726
  18. ^ a b Pendidikan. Situs Pemerintah Provinsi Kaltim. Diakses pada 9 November 2012
  19. ^ “Mencari Indonesia :demografi-politik pasca Soeharto” (PDF). Indonesian Institute of Sciences. 2007. 
  20. ^ “Indonesia’s Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape” (PDF). Institute of Southeast Asian Studies. 2003. 
  21. ^ Population and dominant ethnic groups in districts/ municipalities of East Kalimantan

Lihat pula

Pranala luar

Sumber :
wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, ensiklopedia.web.id, kelaskaryawan.program-reguler.co.id, dsb.


Page 22

Kabupaten Kutai Barat yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Dengan Ibukota Sendawar adalah pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah diputuskan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Dengan lapang agak 31.628,70 Km2 atau kurang lebih 15 persen dari lapang Propinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 165.934 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) , Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113’048’49” sampai dengan 116’032’43″Bujur Timur serta di antara 103’1’05” Lintang Utara dan 100’9’33” Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat yaitu Kabupaten Malinau dan Negara Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan dan untuk sebelah Barat bersamaan batasnya dengan Propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Disktrik dan 238 Kampung. Kedua Puluh Satu Disktrik tersebut yaitu Disktrik Bongan, Disktrik Jempang, Disktrik Penyinggahan, Disktrik Muara Pahu, Disktrik Muara Lawa, Disktrik Damai, Disktrik Barong Tongkok, Disktrik Melak, Disktrik Long Iram, Disktrik Long Hubung, Disktrik Long Bagun, Disktrik Long Pahangai, Disktrik Long Apari, Disktrik Bentian Besar, Disktrik Linggang Bigung, Disktrik Nyuatan, Disktrik Siluq Ngurai, Disktrik Manor Bulatn, Disktrik Sekolaq Darat, Disktrik Tering dan Disktrik Laham[3].

Bupati saat ini dijabat oleh Ismael Thomas, SH., M.Si. dan wakil bupati dijabat oleh H. Didik Effendi, S.Sos., M.Si.

Profil

Kabupaten Kutai Barat adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Kutai yang dibuat bentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999.[4] Secara geografis Kutai Barat terletak di antara 113045’05”-116031’19” BT dan 1031’35”-1010’16” LS.

Batas-batasnya yaitu sebagai berikut:

Letak Desa-desa biasanya kehadiran di Kawasan tepian sungai (119 desa), di kawasan dataran (86 desa) dan di lereng/punggung bukit (18 desa). Mayoritas Penduduk Kabupaten Kutai Barat yaitu Masyarakat Adat yang terdiri dari bermacam suku, bahasa, adat-istiadat serta kultur dan kebiasaannya. Konsepsi kepemilikan wilayah-wilayah Adat (kawasan kelola) dipahami mereka secara utuh dalam satu kesatuan berdasarkan faktor genealogis dan teritorial yang kehadiran, berdasarkan asal-usul (sejarah) yang sudah kehadiran secara turun-temurun tidak akrab sebelum Repulik Indonesia kehadiran.

Pemerintahan

Jumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2010 sebanyak 25 orang. Dimana 9 Anggota DPRD adalah wakil dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 5 orang berasal dari Fraksi Golongan Karya (GOLKAR), 5 Orang berasal dari Fraksi Demokrat, 6 orang lainnya tergabung dalam Fraksi Gabungan Amanat Hati Bangsa Sejahtera yang berasal dari Partai Pelopor, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia dan Partai Gerakan Indonesia Raya[5].

Iklim

Karakteristik iklim Kabupaten Kutai barat termasuk dalam kategori iklim tropika humida, dengan rata-rata curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April dan terendah di bulan Agustus serta tidak menunjukkan kehadirannya bulan kering atau sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. Namun demikian dalam tahun-tahun terakhir ini, suasana iklim di Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak hujan, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya kemarau bahkan terjadi hujan dengan dengan musim yang lebih panjang. Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Kawasan beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim angin barat hujan turun agak sekitar bulan Agustus sampai bulan Maret, sedangkan pada musim timur hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada agak bulan April sampai bulan September.[6]

Kabupaten Kutai Barat dibagi menjadi beberapa disktrik dan setiap disktrik dibagi menjadi beberapa kampung (setingkat desa/kelurahan).

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Ulu Mahakam

Suku bangsa di Kutai Barat antara lain:[7][8]

No. Suku Bangsa Prosentase
1 Suku Dayak Tunjung 24,2 %
2 Suku Dayak Benuaq 19,9 %
3 Suku Kutai 15,5 %
4 Suku Jawa 10,7 %
5 Suku Dayak Bahau 9,3 %
6 Suku Banjar 4,5 %
7 Suku Bugis 3,2 %
8 Suku Dayak Kenyah 2,4 %
9 Suku Dayak Bentian 2,3 %
10 Suku Dayak Bakumpai 1,7 %
11 Suku Dayak Penihing/Aoheng 1,7 %
12 Suku Dayak Kayan 1,4 %
13 Suku Dayak Seputan 0,6 %
14 Suku Dayak Bukat 0,2 %
15 Suku Dayak Luangan 0,2 %
16 Suku Batak 0,2 %

Objek wisata

Objek wisata yang terdapat di Kutai Barat di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Lamin Tolan dan Danau Tolan

Lamin Tolan satu-satunya Lamin di Kabuaten Kutai Barat yang benar-benar dapat dinamakan asli dan unik. Selain dapat dituturkan berumur paling tua (± 200 tahun), lamin ini secara konstruksi didirikan secara tradisional karena semua bahan-bahannya dibuat bentuk tidak menggunakan alat modern, semuanya dibuat bentuk secara manual. Demikian pula spesifikasinya, misalnya lantai menggunakan rotan, dindingnya dibuat bentuk dari kulit kayu, bahan pengikat tidak menggunakan paku, melainkan rotan, patut dibagian atap maupun anggota lainnya. Jadi benar-benar unik.

Lamin ini adalah lamin Suku Dayak Benuaq, Lamin ini terletak di Kampung Lambing, Muara Lawa, Kutai Barat. Dari Sendawar ibukota Kabupaten Kutai Barat berjauhan ± 45 KM. Di agak lamin terdapat kompleks pekuburan khas Suku Dayak Benuaq, pengunjung dapat melihat Lungun, Templaaq, Kererekng dan Selokng. Selanjutnya dapat pula menyaksikan panorama Danau Tolan.

  • Danau Jempang dan danau-danau lainnya

Danau Jempang terletak di Disktrik Jempang dengan lapang kurang lebih 150 km² (15.000 ha). Danau yang kehadiran di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan Danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini adalah penghasil ikan air tawar yang memasok beberapa besar ikan air tawar di Kalimantan Timur.

Letaknya di Disktrik Sekolaq Darat, agak 15 Km dari Kampung Melak. Lapang area taman ini 50 km². Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain: Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata), Erya Vania, Erya Florida, (Coelogyne Rocus Soini) dan (Bulpophylum Mututina) serta beberapa jenis kantung semar.

Fasilitas di lokasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan untuk wisatawan tersedia di Melak. Untuk pergi ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Melak, dilanjutkan dengan yang dikendarai roda empat atau roda dua.

  • Mencimai, Benung, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng

Yaitu desa-desa yang diduduki oleh Suku Dayak Benuaq, terdapat lamin yang jaraknya 7 km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni Suku Benuaq. Di kampung Mencimai terdapat Museum Mencimai yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini didirikan atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini yaitu Lamin Mencimai, Lamin Benung, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.

  • Air Terjun Jantur Gemuruh

Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di kampung Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorong yang dibuat bentuk di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk menjadi lokasi penelitian pihak kepurbakalaan.

Terletak di tepi Sungai Mahakam Disktrik Long Iram. Di kampung Tering bermukim masyarakat Suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Fasilitas yang tersedia ditengahnya Lamin adat dan Warung Art Shop. Upacara yang terkenal yaitu Lamelah Tenan, Laliq Iqbal dan Hudoq Apah.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarindake Datah Bilang selama 2 hari.

  • Rukun Damai Long Bagun Ilir

Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Disktrik Long Bagun, Kutai Barat. Kampung ini diduduki oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni kebiasaannya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Kampung Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga kebiasaan mereka tidak sama dengan suku lainnya. Beberapa masyarakatnya tinggal di Lamin.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun selama 2 hari.

  • Long Pahangai dan Long Tuyuk

Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jeram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala. Kampung Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan kebiasaan. Di kampung ini terdapat lamin adat Mesaat. Pada saat kita menelusuri kawasan ini jumlah terdapat jeram, di antaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida. Seni kebiasaan masyarakat setempat yaitu upacara adat Dangai, upacara adat menyambut tamu dsb-nya. Di kawasan ini menggunakan pesawat dari Samarinda ke Data Dawai atau menggunakan long boat yang di-carter.

Bupati dan Wakil bupati

Berikut adalah daftar Bupati Kutai Barat

Referensi

  1. ^ Pemkab Kutai Barat – Sejarah
  2. ^ “Perpres No. 10 Tahun 2013”. 2013-02-04. Retrieved 2013-02-15. 
  3. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  4. ^ (Inggris) Decentralisation of policies affecting forests and estate crops in Kutai Barat District, East Kalimantan. CIFOR. 2001. p. 1. ISBN 979876482X. ISBN 978-979-8764-82-0
  5. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  6. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  7. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
  8. ^ (Inggris) Haug, Michaela (2009). Poverty and Decentralisation in East Kalimantan. Centaurus Verlag & Media KG. ISBN 382550770X. ISBN 978-3-8255-0770-1}}

Pranala luar

  • (Indonesia) Kabupaten Kutai Barat di situs web Harian Kompas
  • (Indonesia) Link Download Kutai Barat Dalam Angka 2011

Sumber :
ilmuwan.web.id, kelaskaryawan.kuliah-karyawan.com, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, dan lain sebagainya.


Page 23

Kabupaten Kutai Barat yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Dengan Ibukota Sendawar adalah pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah diputuskan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Dengan lapang agak 31.628,70 Km2 atau kurang lebih 15 persen dari lapang Propinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 165.934 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) , Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113’048’49” sampai dengan 116’032’43″Bujur Timur serta di antara 103’1’05” Lintang Utara dan 100’9’33” Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat yaitu Kabupaten Malinau dan Negara Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan dan untuk sebelah Barat bersamaan batasnya dengan Propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Disktrik dan 238 Kampung. Kedua Puluh Satu Disktrik tersebut yaitu Disktrik Bongan, Disktrik Jempang, Disktrik Penyinggahan, Disktrik Muara Pahu, Disktrik Muara Lawa, Disktrik Damai, Disktrik Barong Tongkok, Disktrik Melak, Disktrik Long Iram, Disktrik Long Hubung, Disktrik Long Bagun, Disktrik Long Pahangai, Disktrik Long Apari, Disktrik Bentian Besar, Disktrik Linggang Bigung, Disktrik Nyuatan, Disktrik Siluq Ngurai, Disktrik Manor Bulatn, Disktrik Sekolaq Darat, Disktrik Tering dan Disktrik Laham[3].

Bupati saat ini dijabat oleh Ismael Thomas, SH., M.Si. dan wakil bupati dijabat oleh H. Didik Effendi, S.Sos., M.Si.

Profil

Kabupaten Kutai Barat adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Kutai yang dibuat bentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999.[4] Secara geografis Kutai Barat terletak di antara 113045’05”-116031’19” BT dan 1031’35”-1010’16” LS.

Batas-batasnya yaitu sebagai berikut:

Letak Desa-desa kebanyakan kehadiran di Kawasan tepian sungai (119 desa), di kawasan dataran (86 desa) dan di lereng/punggung bukit (18 desa). Mayoritas Penduduk Kabupaten Kutai Barat yaitu Masyarakat Adat yang terdiri dari bermacam suku, bahasa, adat-istiadat serta kultur dan kebiasaannya. Konsepsi kepemilikan wilayah-wilayah Adat (kawasan kelola) dipahami mereka secara utuh dalam satu kesatuan berdasarkan faktor genealogis dan teritorial yang kehadiran, berdasarkan asal-usul (sejarah) yang sudah kehadiran secara turun-temurun tidak dekat sebelum Repulik Indonesia kehadiran.

Pemerintahan

Jumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2010 sebanyak 25 orang. Dimana 9 Anggota DPRD adalah wakil dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 5 orang berasal dari Fraksi Golongan Karya (GOLKAR), 5 Orang berasal dari Fraksi Demokrat, 6 orang lainnya tergabung dalam Fraksi Gabungan Amanat Hati Bangsa Sejahtera yang berasal dari Partai Pelopor, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia dan Partai Gerakan Indonesia Raya[5].

Iklim

Karakteristik iklim Kabupaten Kutai barat termasuk dalam kategori iklim tropika humida, dengan rata-rata curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April dan terendah di bulan Agustus serta tidak menunjukkan kehadirannya bulan kering atau sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. Namun demikian dalam tahun-tahun terakhir ini, suasana iklim di Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak hujan, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya kemarau bahkan terjadi hujan dengan dengan musim yang lebih panjang. Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Kawasan beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim angin barat hujan turun agak sekitar bulan Agustus sampai bulan Maret, sedangkan pada musim timur hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada agak bulan April sampai bulan September.[6]

Kabupaten Kutai Barat dibagi menjadi beberapa disktrik dan setiap disktrik dibagi menjadi beberapa kampung (setingkat desa/kelurahan).

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Ulu Mahakam

Suku bangsa di Kutai Barat antara lain:[7][8]

No. Suku Bangsa Prosentase
1 Suku Dayak Tunjung 24,2 %
2 Suku Dayak Benuaq 19,9 %
3 Suku Kutai 15,5 %
4 Suku Jawa 10,7 %
5 Suku Dayak Bahau 9,3 %
6 Suku Banjar 4,5 %
7 Suku Bugis 3,2 %
8 Suku Dayak Kenyah 2,4 %
9 Suku Dayak Bentian 2,3 %
10 Suku Dayak Bakumpai 1,7 %
11 Suku Dayak Penihing/Aoheng 1,7 %
12 Suku Dayak Kayan 1,4 %
13 Suku Dayak Seputan 0,6 %
14 Suku Dayak Bukat 0,2 %
15 Suku Dayak Luangan 0,2 %
16 Suku Batak 0,2 %

Objek wisata

Objek wisata yang terdapat di Kutai Barat di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Lamin Tolan dan Danau Tolan

Lamin Tolan satu-satunya Lamin di Kabuaten Kutai Barat yang benar-benar dapat dinamakan asli dan unik. Selain dapat dituturkan berumur paling tua (± 200 tahun), lamin ini secara konstruksi didirikan secara tradisional karena semua bahan-bahannya dibuat bentuk tidak menggunakan alat modern, semuanya dibuat bentuk secara manual. Demikian pula spesifikasinya, misalnya lantai menggunakan rotan, dindingnya dibuat bentuk dari kulit kayu, bahan pengikat tidak menggunakan paku, melainkan rotan, patut dibagian atap maupun bagian lainnya. Jadi benar-benar unik.

Lamin ini adalah lamin Suku Dayak Benuaq, Lamin ini terletak di Kampung Lambing, Muara Lawa, Kutai Barat. Dari Sendawar ibukota Kabupaten Kutai Barat berjarak ± 45 KM. Di agak lamin terdapat kompleks pekuburan khas Suku Dayak Benuaq, pengunjung dapat melihat Lungun, Templaaq, Kererekng dan Selokng. Selanjutnya dapat pula menyaksikan panorama Danau Tolan.

  • Danau Jempang dan danau-danau lainnya

Danau Jempang terletak di Disktrik Jempang dengan lapang kurang lebih 150 km² (15.000 ha). Danau yang kehadiran di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan Danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini adalah penghasil ikan air tawar yang memasok beberapa besar ikan air tawar di Kalimantan Timur.

Letaknya di Disktrik Sekolaq Darat, agak 15 Km dari Kampung Melak. Lapang area taman ini 50 km². Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain: Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata), Erya Vania, Erya Florida, (Coelogyne Rocus Soini) dan (Bulpophylum Mututina) serta beberapa jenis kantung semar.

Sarana di lokasi terdapat ruang informasi, sarana kebutuhan untuk wisatawan tersedia di Melak. Untuk pergi ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Melak, dilanjutkan dengan yang dikendarai roda empat atau roda dua.

  • Mencimai, Benung, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng

Yaitu desa-desa yang diduduki oleh Suku Dayak Benuaq, terdapat lamin yang jaraknya 7 km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni Suku Benuaq. Di kampung Mencimai terdapat Museum Mencimai yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini didirikan atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini yaitu Lamin Mencimai, Lamin Benung, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.

  • Air Terjun Jantur Gemuruh

Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di kampung Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorong yang dibuat bentuk di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk menjadi lokasi penelitian pihak kepurbakalaan.

Terletak di tepi Sungai Mahakam Disktrik Long Iram. Di kampung Tering bermukim masyarakat Suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Sarana yang tersedia ditengahnya Lamin adat dan Warung Art Shop. Upacara yang terkenal yaitu Lamelah Tenan, Laliq Iqbal dan Hudoq Apah.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarindake Datah Bilang selama 2 hari.

  • Rukun Damai Long Bagun Ilir

Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Disktrik Long Bagun, Kutai Barat. Kampung ini diduduki oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni kebiasaannya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Kampung Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga kebiasaan mereka beda dengan suku lainnya. Beberapa masyarakatnya tinggal di Lamin.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun selama 2 hari.

  • Long Pahangai dan Long Tuyuk

Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jeram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala. Kampung Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan kebiasaan. Di kampung ini terdapat lamin adat Mesaat. Pada saat kita menelusuri kawasan ini jumlah terdapat jeram, di antaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida. Seni kebiasaan masyarakat setempat yaitu upacara adat Dangai, upacara adat menyambut tamu dsb-nya. Di kawasan ini menggunakan pesawat dari Samarinda ke Data Dawai atau menggunakan long boat yang di-carter.

Bupati dan Wakil bupati

Berikut adalah daftar Bupati Kutai Barat

Referensi

  1. ^ Pemkab Kutai Barat – Sejarah
  2. ^ “Perpres No. 10 Tahun 2013”. 2013-02-04. Retrieved 2013-02-15. 
  3. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  4. ^ (Inggris) Decentralisation of policies affecting forests and estate crops in Kutai Barat District, East Kalimantan. CIFOR. 2001. p. 1. ISBN 979876482X. ISBN 978-979-8764-82-0
  5. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  6. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  7. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
  8. ^ (Inggris) Haug, Michaela (2009). Poverty and Decentralisation in East Kalimantan. Centaurus Verlag & Media KG. ISBN 382550770X. ISBN 978-3-8255-0770-1}}

Pranala luar

  • (Indonesia) Kabupaten Kutai Barat di situs web Harian Kompas
  • (Indonesia) Link Download Kutai Barat Dalam Angka 2011

Sumber :
ilmuwan.web.id, kelaskaryawan.kuliah-karyawan.com, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, dan lain sebagainya.


Page 24

Kabupaten Kutai Barat yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Dengan Ibukota Sendawar adalah pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah diputuskan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Dengan lapang agak 31.628,70 Km2 atau kurang lebih 15 persen dari lapang Propinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 165.934 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) , Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113’048’49” sampai dengan 116’032’43″Bujur Timur serta di antara 103’1’05” Lintang Utara dan 100’9’33” Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat yaitu Kabupaten Malinau dan Negara Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan dan untuk sebelah Barat bersamaan batasnya dengan Propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Disktrik dan 238 Kampung. Kedua Puluh Satu Disktrik tersebut yaitu Disktrik Bongan, Disktrik Jempang, Disktrik Penyinggahan, Disktrik Muara Pahu, Disktrik Muara Lawa, Disktrik Damai, Disktrik Barong Tongkok, Disktrik Melak, Disktrik Long Iram, Disktrik Long Hubung, Disktrik Long Bagun, Disktrik Long Pahangai, Disktrik Long Apari, Disktrik Bentian Besar, Disktrik Linggang Bigung, Disktrik Nyuatan, Disktrik Siluq Ngurai, Disktrik Manor Bulatn, Disktrik Sekolaq Darat, Disktrik Tering dan Disktrik Laham[3].

Bupati saat ini dijabat oleh Ismael Thomas, SH., M.Si. dan wakil bupati dijabat oleh H. Didik Effendi, S.Sos., M.Si.

Profil

Kabupaten Kutai Barat adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Kutai yang dibuat bentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999.[4] Secara geografis Kutai Barat terletak di antara 113045’05”-116031’19” BT dan 1031’35”-1010’16” LS.

Batas-batasnya yaitu sebagai berikut:

Letak Desa-desa kebanyakan kehadiran di Kawasan tepian sungai (119 desa), di kawasan dataran (86 desa) dan di lereng/punggung bukit (18 desa). Mayoritas Penduduk Kabupaten Kutai Barat yaitu Masyarakat Adat yang terdiri dari bermacam suku, bahasa, adat-istiadat serta kultur dan kebiasaannya. Konsepsi kepemilikan wilayah-wilayah Adat (kawasan kelola) dipahami mereka secara utuh dalam satu kesatuan berdasarkan faktor genealogis dan teritorial yang kehadiran, berdasarkan asal-usul (sejarah) yang sudah kehadiran secara turun-temurun tidak dekat sebelum Repulik Indonesia kehadiran.

Pemerintahan

Jumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2010 sebanyak 25 orang. Dimana 9 Anggota DPRD adalah wakil dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 5 orang berasal dari Fraksi Golongan Karya (GOLKAR), 5 Orang berasal dari Fraksi Demokrat, 6 orang lainnya tergabung dalam Fraksi Gabungan Amanat Hati Bangsa Sejahtera yang berasal dari Partai Pelopor, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia dan Partai Gerakan Indonesia Raya[5].

Iklim

Karakteristik iklim Kabupaten Kutai barat termasuk dalam kategori iklim tropika humida, dengan rata-rata curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April dan terendah di bulan Agustus serta tidak menunjukkan kehadirannya bulan kering atau sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. Namun demikian dalam tahun-tahun terakhir ini, suasana iklim di Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak hujan, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya kemarau bahkan terjadi hujan dengan dengan musim yang lebih panjang. Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Kawasan beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim angin barat hujan turun agak sekitar bulan Agustus sampai bulan Maret, sedangkan pada musim timur hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada agak bulan April sampai bulan September.[6]

Kabupaten Kutai Barat dibagi menjadi beberapa disktrik dan setiap disktrik dibagi menjadi beberapa kampung (setingkat desa/kelurahan).

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Ulu Mahakam

Suku bangsa di Kutai Barat antara lain:[7][8]

No. Suku Bangsa Prosentase
1 Suku Dayak Tunjung 24,2 %
2 Suku Dayak Benuaq 19,9 %
3 Suku Kutai 15,5 %
4 Suku Jawa 10,7 %
5 Suku Dayak Bahau 9,3 %
6 Suku Banjar 4,5 %
7 Suku Bugis 3,2 %
8 Suku Dayak Kenyah 2,4 %
9 Suku Dayak Bentian 2,3 %
10 Suku Dayak Bakumpai 1,7 %
11 Suku Dayak Penihing/Aoheng 1,7 %
12 Suku Dayak Kayan 1,4 %
13 Suku Dayak Seputan 0,6 %
14 Suku Dayak Bukat 0,2 %
15 Suku Dayak Luangan 0,2 %
16 Suku Batak 0,2 %

Objek wisata

Objek wisata yang terdapat di Kutai Barat di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Lamin Tolan dan Danau Tolan

Lamin Tolan satu-satunya Lamin di Kabuaten Kutai Barat yang benar-benar dapat dinamakan asli dan unik. Selain dapat dituturkan berumur paling tua (± 200 tahun), lamin ini secara konstruksi didirikan secara tradisional karena semua bahan-bahannya dibuat bentuk tidak menggunakan alat modern, semuanya dibuat bentuk secara manual. Demikian pula spesifikasinya, misalnya lantai menggunakan rotan, dindingnya dibuat bentuk dari kulit kayu, bahan pengikat tidak menggunakan paku, melainkan rotan, patut dibagian atap maupun bagian lainnya. Jadi benar-benar unik.

Lamin ini adalah lamin Suku Dayak Benuaq, Lamin ini terletak di Kampung Lambing, Muara Lawa, Kutai Barat. Dari Sendawar ibukota Kabupaten Kutai Barat berjarak ± 45 KM. Di agak lamin terdapat kompleks pekuburan khas Suku Dayak Benuaq, pengunjung dapat melihat Lungun, Templaaq, Kererekng dan Selokng. Selanjutnya dapat pula menyaksikan panorama Danau Tolan.

  • Danau Jempang dan danau-danau lainnya

Danau Jempang terletak di Disktrik Jempang dengan lapang kurang lebih 150 km² (15.000 ha). Danau yang kehadiran di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan Danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini adalah penghasil ikan air tawar yang memasok beberapa besar ikan air tawar di Kalimantan Timur.

Letaknya di Disktrik Sekolaq Darat, agak 15 Km dari Kampung Melak. Lapang area taman ini 50 km². Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain: Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata), Erya Vania, Erya Florida, (Coelogyne Rocus Soini) dan (Bulpophylum Mututina) serta beberapa jenis kantung semar.

Sarana di lokasi terdapat ruang informasi, sarana kebutuhan untuk wisatawan tersedia di Melak. Untuk pergi ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Melak, dilanjutkan dengan yang dikendarai roda empat atau roda dua.

  • Mencimai, Benung, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng

Yaitu desa-desa yang diduduki oleh Suku Dayak Benuaq, terdapat lamin yang jaraknya 7 km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni Suku Benuaq. Di kampung Mencimai terdapat Museum Mencimai yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini didirikan atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini yaitu Lamin Mencimai, Lamin Benung, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.

  • Air Terjun Jantur Gemuruh

Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di kampung Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorong yang dibuat bentuk di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk menjadi lokasi penelitian pihak kepurbakalaan.

Terletak di tepi Sungai Mahakam Disktrik Long Iram. Di kampung Tering bermukim masyarakat Suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Sarana yang tersedia ditengahnya Lamin adat dan Warung Art Shop. Upacara yang terkenal yaitu Lamelah Tenan, Laliq Iqbal dan Hudoq Apah.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarindake Datah Bilang selama 2 hari.

  • Rukun Damai Long Bagun Ilir

Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Disktrik Long Bagun, Kutai Barat. Kampung ini diduduki oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni kebiasaannya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Kampung Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga kebiasaan mereka beda dengan suku lainnya. Beberapa masyarakatnya tinggal di Lamin.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun selama 2 hari.

  • Long Pahangai dan Long Tuyuk

Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jeram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala. Kampung Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan kebiasaan. Di kampung ini terdapat lamin adat Mesaat. Pada saat kita menelusuri kawasan ini jumlah terdapat jeram, di antaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida. Seni kebiasaan masyarakat setempat yaitu upacara adat Dangai, upacara adat menyambut tamu dsb-nya. Di kawasan ini menggunakan pesawat dari Samarinda ke Data Dawai atau menggunakan long boat yang di-carter.

Bupati dan Wakil bupati

Berikut adalah daftar Bupati Kutai Barat

Referensi

  1. ^ Pemkab Kutai Barat – Sejarah
  2. ^ “Perpres No. 10 Tahun 2013”. 2013-02-04. Retrieved 2013-02-15. 
  3. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  4. ^ (Inggris) Decentralisation of policies affecting forests and estate crops in Kutai Barat District, East Kalimantan. CIFOR. 2001. p. 1. ISBN 979876482X. ISBN 978-979-8764-82-0
  5. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  6. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  7. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
  8. ^ (Inggris) Haug, Michaela (2009). Poverty and Decentralisation in East Kalimantan. Centaurus Verlag & Media KG. ISBN 382550770X. ISBN 978-3-8255-0770-1}}

Pranala luar

  • (Indonesia) Kabupaten Kutai Barat di situs web Harian Kompas
  • (Indonesia) Link Download Kutai Barat Dalam Angka 2011

Sumber :
ilmuwan.web.id, kelaskaryawan.kuliah-karyawan.com, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, dan lain sebagainya.


Page 25

Kabupaten Kutai Barat yaitu salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Dengan Ibukota Sendawar adalah pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang telah diputuskan berdasarkan UU. Nomor 47 Tahun 1999. Dengan lapang agak 31.628,70 Km2 atau kurang lebih 15 persen dari lapang Propinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 165.934 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010) , Secara Geografis Kabupaten Kutai Barat terletak antara 113’048’49” sampai dengan 116’032’43″Bujur Timur serta di antara 103’1’05” Lintang Utara dan 100’9’33” Lintang Selatan. Adapun wilayah yang menjadi batas Kabupaten Kutai Barat yaitu Kabupaten Malinau dan Negara Sarawak (Malaysia Timur) di sebelah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Penajam Paser Utara di sebelah Selatan dan untuk sebelah Barat bersamaan batasnya dengan Propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Kutai Barat terbagi menjadi 21 Disktrik dan 238 Kampung. Kedua Puluh Satu Disktrik tersebut yaitu Disktrik Bongan, Disktrik Jempang, Disktrik Penyinggahan, Disktrik Muara Pahu, Disktrik Muara Lawa, Disktrik Damai, Disktrik Barong Tongkok, Disktrik Melak, Disktrik Long Iram, Disktrik Long Hubung, Disktrik Long Bagun, Disktrik Long Pahangai, Disktrik Long Apari, Disktrik Bentian Besar, Disktrik Linggang Bigung, Disktrik Nyuatan, Disktrik Siluq Ngurai, Disktrik Manor Bulatn, Disktrik Sekolaq Darat, Disktrik Tering dan Disktrik Laham[3].

Bupati saat ini dijabat oleh Ismael Thomas, SH., M.Si. dan wakil bupati dijabat oleh H. Didik Effendi, S.Sos., M.Si.

Profil

Kabupaten Kutai Barat adalah kabupaten baru hasil pemekaran Kabupaten Kutai yang dibuat bentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999.[4] Secara geografis Kutai Barat terletak di antara 113045’05”-116031’19” BT dan 1031’35”-1010’16” LS.

Batas-batasnya yaitu sebagai berikut:

Letak Desa-desa biasanya kehadiran di Kawasan tepian sungai (119 desa), di kawasan dataran (86 desa) dan di lereng/punggung bukit (18 desa). Mayoritas Penduduk Kabupaten Kutai Barat yaitu Masyarakat Adat yang terdiri dari bermacam suku, bahasa, adat-istiadat serta kultur dan kebiasaannya. Konsepsi kepemilikan wilayah-wilayah Adat (kawasan kelola) dipahami mereka secara utuh dalam satu kesatuan berdasarkan faktor genealogis dan teritorial yang kehadiran, berdasarkan asal-usul (sejarah) yang sudah kehadiran secara turun-temurun tidak akrab sebelum Repulik Indonesia kehadiran.

Pemerintahan

Jumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kabupaten Kutai Barat pada tahun 2010 sebanyak 25 orang. Dimana 9 Anggota DPRD adalah wakil dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), 5 orang berasal dari Fraksi Golongan Karya (GOLKAR), 5 Orang berasal dari Fraksi Demokrat, 6 orang lainnya tergabung dalam Fraksi Gabungan Amanat Hati Bangsa Sejahtera yang berasal dari Partai Pelopor, Partai Hati Nurani Rakyat, Partai Amanat Nasional, Partai Indonesia Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Pekerja dan Pengusaha Indonesia dan Partai Gerakan Indonesia Raya[5].

Iklim

Karakteristik iklim Kabupaten Kutai barat termasuk dalam kategori iklim tropika humida, dengan rata-rata curah hujan tertinggi terdapat pada bulan April dan terendah di bulan Agustus serta tidak menunjukkan kehadirannya bulan kering atau sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. Namun demikian dalam tahun-tahun terakhir ini, suasana iklim di Kabupaten Kutai Barat terkadang tidak menentu. Pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan dalam kenyataannya tidak hujan, atau sebaliknya pada bulan-bulan yang seharusnya kemarau bahkan terjadi hujan dengan dengan musim yang lebih panjang. Temperatur minimum umumnya terjadi pada bulan Oktober sampai dengan Januari sedangkan temperatur maksimum terjadi antara bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Kawasan beriklim seperti ini tidak mempunyai perbedaan yang jelas antara musim hujan dan musim kemarau. Pada musim angin barat hujan turun agak sekitar bulan Agustus sampai bulan Maret, sedangkan pada musim timur hujan relatif kurang, hal ini terjadi pada agak bulan April sampai bulan September.[6]

Kabupaten Kutai Barat dibagi menjadi beberapa disktrik dan setiap disktrik dibagi menjadi beberapa kampung (setingkat desa/kelurahan).

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Ulu Mahakam

Suku bangsa di Kutai Barat antara lain:[7][8]

No. Suku Bangsa Prosentase
1 Suku Dayak Tunjung 24,2 %
2 Suku Dayak Benuaq 19,9 %
3 Suku Kutai 15,5 %
4 Suku Jawa 10,7 %
5 Suku Dayak Bahau 9,3 %
6 Suku Banjar 4,5 %
7 Suku Bugis 3,2 %
8 Suku Dayak Kenyah 2,4 %
9 Suku Dayak Bentian 2,3 %
10 Suku Dayak Bakumpai 1,7 %
11 Suku Dayak Penihing/Aoheng 1,7 %
12 Suku Dayak Kayan 1,4 %
13 Suku Dayak Seputan 0,6 %
14 Suku Dayak Bukat 0,2 %
15 Suku Dayak Luangan 0,2 %
16 Suku Batak 0,2 %

Objek wisata

Objek wisata yang terdapat di Kutai Barat di antaranya yaitu sebagai berikut:

  • Lamin Tolan dan Danau Tolan

Lamin Tolan satu-satunya Lamin di Kabuaten Kutai Barat yang benar-benar dapat dinamakan asli dan unik. Selain dapat dituturkan berumur paling tua (± 200 tahun), lamin ini secara konstruksi didirikan secara tradisional karena semua bahan-bahannya dibuat bentuk tidak menggunakan alat modern, semuanya dibuat bentuk secara manual. Demikian pula spesifikasinya, misalnya lantai menggunakan rotan, dindingnya dibuat bentuk dari kulit kayu, bahan pengikat tidak menggunakan paku, melainkan rotan, patut dibagian atap maupun anggota lainnya. Jadi benar-benar unik.

Lamin ini adalah lamin Suku Dayak Benuaq, Lamin ini terletak di Kampung Lambing, Muara Lawa, Kutai Barat. Dari Sendawar ibukota Kabupaten Kutai Barat berjauhan ± 45 KM. Di agak lamin terdapat kompleks pekuburan khas Suku Dayak Benuaq, pengunjung dapat melihat Lungun, Templaaq, Kererekng dan Selokng. Selanjutnya dapat pula menyaksikan panorama Danau Tolan.

  • Danau Jempang dan danau-danau lainnya

Danau Jempang terletak di Disktrik Jempang dengan lapang kurang lebih 150 km² (15.000 ha). Danau yang kehadiran di Kojo (100 ha), Danau Berambai (30 ha), Danau Malinau (25 ha), dan Danau Loa Maong (100 ha). Semua danau-danau ini adalah penghasil ikan air tawar yang memasok beberapa besar ikan air tawar di Kalimantan Timur.

Letaknya di Disktrik Sekolaq Darat, agak 15 Km dari Kampung Melak. Lapang area taman ini 50 km². Tiga jenis anggrek yang terdapat di tempat ini antara lain: Anggrek Hitam (Coelogyne Pandurata), Erya Vania, Erya Florida, (Coelogyne Rocus Soini) dan (Bulpophylum Mututina) serta beberapa jenis kantung semar.

Fasilitas di lokasi terdapat ruang informasi, fasilitas kebutuhan untuk wisatawan tersedia di Melak. Untuk pergi ke tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Melak, dilanjutkan dengan yang dikendarai roda empat atau roda dua.

  • Mencimai, Benung, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng

Yaitu desa-desa yang diduduki oleh Suku Dayak Benuaq, terdapat lamin yang jaraknya 7 km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni Suku Benuaq. Di kampung Mencimai terdapat Museum Mencimai yang berisikan data dan informasi kehidupan suku Dayak Benuaq dalam berladang, berburu dan kehidupan kemasyarakatan lainnya, lengkap dengan foto dan penjelasannya. Museum ini didirikan atas bantuan biaya seorang wisatawan Jepang. Lamin yang dihuni oleh masyarakat di desa-desa ini yaitu Lamin Mencimai, Lamin Benung, Lamin Engkuni dan Lamin Eheng.

  • Air Terjun Jantur Gemuruh

Obyek wisata air terjun Jantur Gemuruh terletak di kampung Mapan. Keistimewaan Air Terjun Jantur Gemuruh ini terdapat candi peninggalan Hindu yang dikenal dengan batu Begulur. Terdapat juga lorong-lorong yang dibuat bentuk di bawah tanah dengan lapisan batu yang panjangnya 50 meter. Lokasi ini cocok untuk menjadi lokasi penelitian pihak kepurbakalaan.

Terletak di tepi Sungai Mahakam Disktrik Long Iram. Di kampung Tering bermukim masyarakat Suku Bahau yang ramah menerima tamu dengan kesenian Hudoq. Fasilitas yang tersedia ditengahnya Lamin adat dan Warung Art Shop. Upacara yang terkenal yaitu Lamelah Tenan, Laliq Iqbal dan Hudoq Apah.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarindake Datah Bilang selama 2 hari.

  • Rukun Damai Long Bagun Ilir

Rukun Damai terletak ditepi Sungai Mahakam Disktrik Long Bagun, Kutai Barat. Kampung ini diduduki oleh suku Dayak lainnya Lepo Tau yang berasal dari Apo Kayan. Kehidupan mereka sangat rukun dan mempunyai lamin panjang. Seni kebiasaannya asli dan punya ciri khas tersendiri dibandingkan dengan suku-suku Dayak Kenyah lainnya. Kampung Long Bagun Ilir dihuni oleh suku Dayak Bahau sehingga kebiasaan mereka tidak sama dengan suku lainnya. Beberapa masyarakatnya tinggal di Lamin.

Untuk mengunjungi tempat ini dapat dicapai dengan kapal sungai dari Samarinda-Long Bagun selama 2 hari.

  • Long Pahangai dan Long Tuyuk

Terletak di tepi Sungai Mahakam dan melalui jeram-jeram yang arusnya deras. Suku Dayak yang berdomisili di Long Pahangai yaitu Umaq Suling, Huang Long Gelaat, Umaq Murut, Huang Kayan dan Umaq Pala. Kampung Long Tuyuk yang didomonasi Suku Dayak Bahau terkenal dengan kebiasaan. Di kampung ini terdapat lamin adat Mesaat. Pada saat kita menelusuri kawasan ini jumlah terdapat jeram, di antaranya jeram Udang Napo Hulu dan Neohida. Seni kebiasaan masyarakat setempat yaitu upacara adat Dangai, upacara adat menyambut tamu dsb-nya. Di kawasan ini menggunakan pesawat dari Samarinda ke Data Dawai atau menggunakan long boat yang di-carter.

Bupati dan Wakil bupati

Berikut adalah daftar Bupati Kutai Barat

Referensi

  1. ^ Pemkab Kutai Barat – Sejarah
  2. ^ “Perpres No. 10 Tahun 2013”. 2013-02-04. Retrieved 2013-02-15. 
  3. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  4. ^ (Inggris) Decentralisation of policies affecting forests and estate crops in Kutai Barat District, East Kalimantan. CIFOR. 2001. p. 1. ISBN 979876482X. ISBN 978-979-8764-82-0
  5. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  6. ^ BPS Kab. Kubar, (2011), KUTAI BARAT DALAM ANGKA 2011, BPS Kab. Kubar, ISSN : 1907 – 2112.
  7. ^ Sumber: Badan Pusat Statistik – Sensus Penduduk Tahun 2000)
  8. ^ (Inggris) Haug, Michaela (2009). Poverty and Decentralisation in East Kalimantan. Centaurus Verlag & Media KG. ISBN 382550770X. ISBN 978-3-8255-0770-1}}

Pranala luar

  • (Indonesia) Kabupaten Kutai Barat di situs web Harian Kompas
  • (Indonesia) Link Download Kutai Barat Dalam Angka 2011

Sumber :
ilmuwan.web.id, kelaskaryawan.kuliah-karyawan.com, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, dan lain sebagainya.


Page 26

Kabupaten Ngada merupakan sebuah kabupaten di bidang tengah pulau Flores, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibukota kabupaten merupakan Bajawa. Lebar wilayah 3.037,9 km² dengan jumlah penduduk ± 250.000 jiwa.

Kabupaten Ngada memiliki tiga suku agung, merupakan Suku Nagekeo, Suku Bajawa dan Suku Riung. Masing-masing suku ini mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri yang masih dipertahankan hingga saat ini, seperti rumah norma budaya, bahasa yang lain satu sama lainnya, tarian, pakaian norma budaya dll.

Bahasa dan kebudayaan

Bahasa utama di kawasan Ngada merupakan bahasa Ngada.

Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah

Prajurit Ngada di tahun 1910-an

Dalam kebudayaan Ngada, rumah norma budaya main peranan penting dalam pola kemasyarakatan. Seorang Ngada merupakan bidang dari suatu rumah norma budaya, manfaatnya dari satu marga. Lambang marga berupa ukiran.[2]

Kawasan Ngada diisikan ke dalam World Heritage Tentative List UNESCO tanggal 19 Oktober 1995 dalam jenis “Kebudayaan.[3]

Pariwisata

Kabupaten Ngada termasuk kawasan yang paling miskin di Indonesia. Namun kawasan ini sangat terkenal di kalangan wisatawan asing yang tertarik dengan kebudayaan.[4]

Dua kampuang yang paling jumlah dikunjungi di Ngada merupakan Bena dan Wogo, di mana terdapat rumah norma budaya dan peninggalan megalithik.[5]

Di kabupaten Ngada juga terdapat Taman Laut Nasional 17 Pulau Riung. Di situ terdapat selang lain mawar laut, aneka macam terumbu karang, Pulau Pasir Putih, kelelawar bakau di pulau Ontoloe, Mbou (Kadal Raksasa yang merupakan Hewan Purbakala, masih hidup secara alamiah di habitatnya hingga saat ini). Selain itu merupakan permandian air panas dunia Mengeruda, Danau Wawomudha yang air kawahnya berwarna merah, Air terjun Ogi, Wae Roa, eko wisata Lekolodo dan Pantai pasir putih Waewaru. Obyek Wisata Daya upaya budi yang sangat terkenal ialah Kampung Tradisional Bena, Bela, Gurusina serta Kampung Tua dan Batu Megalith di Wogo. Selain itu jumlah sekali terdapat masing jumlah lagi

Ekonomi

Perikanan

Kabupaten Ngada memiliki wilayah perairan/ laut yang sangat potensial elok di pantai utara merupakan Laut Flores (Kecamatan Riung), maupun pantai laut selatan merupakan Laut Sawu masing-masing Kecamatan Golewa dan Kecamatan Aimere. Kekayaan laut yang utama merupakan ikan, Lobster, rumput laut dan mutiara. Sumber daya perikanan dan kelautan di Kabupaten gada memiliki garis pantai sepanjang 219 km dengan rincian: Pantai utara 105 Km, pantai selatan 114 Km. Sesuai PP nomor 25 tahun 1999, lebar laut yang menjadi kewenangan Kabupaten hanya mencapai 4 mil laut.

Lebar wilayah perairan Laut sebesar 344.363 Ha dengan potensi lestari sebanyak 10.334,82 Ton/tahun yang terdiri dan potensi ikan Pelagis sebanyak 6.717,63 Ton dan ikan Demersal sebanyak 3.617,18 ton. Hingga dengan Tahun 2000 tingkat pemanfaatannya baru mencapai 55,51 ton dan sisanya dan perairan umum serta budidaya, dengan jumlah Rumah Tangga Perikanan (RTP) sebanyak 1.101 Rumah Tangga yang terdiri dan 989 Rumah Tangga Perikanan Nelayan dan 131 Rumah Tangga Perikanan Budidaya. Dan jumlah tersebut yang berstatus sebagai Nelayan Penuh sebanyak 265 orang dan176 orang sebagai Nelayan Sambilan.

Pertambangan

Macam potensi pertambangan, lokasi dan jumlah kandungannya masing-masing, terinci sebagai berikut :

Besi/ Mangan lokasi : Mbong Milong- Riung 1.359 Ha, Emas Lokasi : Rawangkalo, Wangka, Lindi 1.177.100 Ha (5.789 ton),Perak, Belerang Lokasi: Mataloko 30 Ha, Tembaga 33.088 %, Pasir Besi 65 Ha, Pasir dan Batu Lokasi :Naru, Aimere 908.209.977 M3, Tanah Liat Lokasi: Bomari-Langa 30.512.619 M3, Marmer Lokasi:Sambinasi, Rawangkalo, Wangka 15.452.336 M3, Granodiort 339.000.000 M3, Zeolit 266.721.653 M3, Batu Permata / 1/2, Permata 1.00.000 M3

Perkebunan

Kabupaten Ngada memiliki potensi perkebunan yang cukup potensial untuk dikembangkan. Sebagian macam komoditi andalan yang dikembangkan di Kabupaten Ngada adalah : Kopi, Kakao, Jambu Mete, Kemiri, Kelapa, Cengkeh, Vanili dan Merica. Lebar lahan kering potensial : 98.100 ha, fungsional seluas 47.943 ha sedangkan sisanya merupakan sebesar 50.157 ha belum dimanfaatkan

Daftar Kecamatan

Wilayah Kabupaten Ngada dibagi menjadi 9 kecamatan, yaitu:

  1. Aimere
  2. Bajawa
  3. Golewa
  4. Riung Barat
  5. Riung
  6. Soa
  7. Wolomeze
  8. Bajawa Utara
  9. Jerebuu

Lain-lain

Dengan jumlah penduduk mencapai 250.000 jiwa yang hidup pada umumnya merupakan petani, kabupaten Ngada merupakan salah satu kabupaten di Flores, Nusa Tenggara Timur yang memiliki norma budaya daya upaya budi yang sangat unik karena pada kabupaten ini setiap kecamatan memiliki norma budaya yang berbeda-beda selang satu dengan lainya, contohnya dalam hal bercakap selang kecamatan satu dan lainya mempunyai bahasa yang berbeda-beda. Selain itu Kabupaten Ngada itu sendiri memiliki objek wisata dunia dan daya upaya budi yang sangat menarik, merupakan Taman Laut Tujuh Belas Pulau di Kecamatan Riung yang bisa menarik bagi wisatawan asing maupun lokal.

Referensi

  1. ^ “Perpres No. 10 Tahun 2013”. 2013-02-04. Retrieved 2013-02-15. 
  2. ^ Phillimore, J. & Lisa Goodson (2004) p 293
  3. ^ Ngada traditional house and megalithic complex – UNESCO World Heritage Centre
  4. ^ Phillimore, J. & Lisa Goodson (2004) p 293
  5. ^ Ngada traditional house and megalithic complex – UNESCO World Heritage Centre

Notes

Perpustakaan

  • Ngada traditional house and megalithic complex – UNESCO World Heritage Centre Accessed 2009-02-27.
  • Phillimore, J. & Lisa Goodson (2004), Qualitative Research in Tourism: Ontologies, Epistemologies and Methodologies, Routledge, 2004. ISBN 0-415-28087-7

Sumber :
kelaskaryawan.kurikulum.org, wiki.edunitas.com, id.wikipedia.org, buku.us, dan lain sebagainya.

tags:sakubun tentang bali, sambutan menjenguk orang sakit boso jawa, Teks drama bahasa arab lucu, cerita liburan bahasa cirebon, Walkthrough obscure the aftermath psp bahasa indonesia
Yang dimaksud Sri Bhagawan dalam Kitab Bhagawadgita adalah | Admin | 4.5

Comments are closed.